Saturday, March 6, 2010

Saya Menginginkan Dunia Plus 5%-nya

Assalamu'alaykum. Ternyata suatu sistem yang bekerja pada peradaban manusia di bumi tidaklah seindah mata melihat. Banyak sekali hal-hal yang diluar dugaan kita. Sebut saja sistem perekonomian dunia. Okelah, tak perlu berpanjang lebar. Langsung  saja simak artikel saya kali ini. Oya, sebenarnya ini copas dari suatu blog dengan maksud hati untuk sharing dengan teman-teman sekalian dan tentunya telah mendapat ijin dari sang pemilik artikel.


Bagi pengguna komputer (laptop/PC) langsung saja ke blog-ku, klik di sini

Bab I dari Buku : Masa Lalu Uang & Masa Depan Dunia
Penerbit : Pustaka Pohon Bodhi (Oktober 2007)

Terjemahan dari artikel : Larry Hannigan


sebuah dongeng sebelum memulai...

Saya Menginginkan Seluruh Dunia Plus 5%

Fabian sangat bahagia karena dia akan menyampaikan sebuah pidato ke masyarakat besok. Dia selalu menginginkan kekayaan dan kekuasaan dan sekarang impiannya akan segera menjadi kenyataan. Dia adalah seorang tukang emas, mengukir emas dan perak menjadi perhiasan, tetapi semakin lama semakin tidak puas karena harus bekerja keras dalam hidupnya. Fabian menginginkan kesenangan, dan juga tantangan, dan sekarang rencana barunya siap untuk dimulai.
Selama puluhan generasi, masyarakat terbiasa dengan sistem perdagangan barter. Seseorang akan menghidupi keluarganya dengan memproduksi semua yang mereka butuhkan ataupun mengkhususkan diri dalam perdagangan produk tertentu. Kelebihan dari yang dia produksi, akan dia tukarkan dengan kelebihan barang lain yang diproduksi orang lain.

Pasar setiap hari ramai dan bersemangat, orang-orang berteriak dan melambaikan dagangannya. Sebelumnya pasar adalah tempat yang menyenangkan, tetapi sekarang jumlah orang terlalu banyak, pertengkaran pun semakin banyak. Tidak ada lagi waktu untuk ngobrol dan bercanda, sebuah sistem yang lebih baik mulai diperlukan.
  
INI ADALAH TUJUAN SATU-SATUNYA DARI PEMERINTAH (GOVERNMENT) DAN SETIAP ANGGOTA PEMERINTAH DIPILIH SECARA SUKARELA OLEH ANGGOTA KOMUNITAS YANG ADA.

Namun, ada masalah yang tidak bisa mereka selesaikan di perdagangan pasar sehari-hari… Apakah sebelah pisau senilai dengan dua keranjang jagung? Apakah seekor kerbau lebih berharga dari seekor ayam…? Orang-orang menginginkan sistem yang lebih baik.

Fabian mengiklankan diri kepada masyarakat, “Saya punya solusi atas masalah barter yang kita alami, dan saya mengundang kalian semua untuk sebuah pertemuan publik besok harinya.”

Besok harinya orang-orang pun berkumpul di tengah kota dan Fabian menjelaskan kepada mereka konsep tentang “uang”. Masyarakat yang mendengarkan pidatonya terkesan dan ingin mendengar lebih banyak.

“Emas yang saya produksi menjadi perhiasan adalah logam yang luar biasa. Dia tidak akan berkarat, dan bisa bertahan sangat lama. Saya akan membuat emas dalam bentuk koin dan kita akan menyebut setiap koin dengan nama dolar”

Fabian menjelaskan konsep tentang nilai, dan bahwa “uang” akan menjadi medium pertukaran barang, sebuah sistem yang lebih baik daripada barter.

Salah satu dari anggota pemerintah bertanya “Tetapi orang tertentu bisa menambang emas sendiri dan membuat koin untuk diri mereka sendiri”

“Ini tidak boleh diterima” kata Fabian. “Hanya koin-koin yang disetujui pemerintah yang boleh digunakan, dan kita akan membuat stempel khusus di koin-koin tersebut.” Ini kedengarannya masuk akal dan orang-orang pun mulai menyarankan agar setiap orang mendapatkan sama banyak. “Tetapi saya yang paling pantas mendapatkan lebih” kata si pembuat lilin. “Tidak, saya lah yang berhak mendapatkan lebih,” kata si petani. Dan pertengkaran pun dimulai.

Fabian membiarkan mereka bertengkar selama beberapa saat, kemudian berkata, “Karena tidak ada kesepakatan di antara kalian semua, biarlah saya yang menentukan angkanya buat Anda. Tidak ada batasan berapa koin yang akan Anda dapatkan dari saya, semua tergantung kemampuan Anda untuk membayar. Semakin banyak yang Anda dapatkan, semakin banyak yang harus Anda kembalikan tahun depan.”

“Lalu apa yang akan kamu dapatkan?” kata salah satu pendengar.

“Karena saya yang menyediakan jasa ini, yaitu suplai uang, maka saya berhak mendapatkan bayaran dari kerja kerasku. Untuk setiap 100 koin yang Anda dapatkan dari saya, Anda akan membayarkan kembali kepadaku sebanyak 105 koin tahun depannya. 5 koin ini adalah bayaranku, dan saya akan menyebutnya bunga.”

Kedengarannya tidak terlalu buruk, lagipula 5% sepertinya tidak banyak. Maka orang-orang pun setuju. Mereka sepakat untuk bertemu seminggu kemudian dan memulai sistem baru ini.
Fabian tidak membuang waktu. Dia membuat koin emas siang dan malam, dan seminggu kemudian dia pun siap dengan koinnya. Orang-orang antri panjang di depan tokonya. Setelah dicek dan disetujui oleh pemerintah, koin emas Fabian resmi diedarkan. Sebagian orang hanya meminjam sedikit koin, setelah itu mereka segera pergi ke pasar mencoba sistem baru ini.

Masyarakat segera menyadari sisi baik dari sistem ini, dan mereka pun mulai menilai harga setiap barang dengan koin emas atau dolar. Orang-orang memberikan harga pada dagangannya sesuai dengan usaha untuk memproduksi barang tersebut. Barang yang mudah diproduksi harganya lebih rendah, dan barang yang sulit diproduksi harganya lebih mahal.

Alan adalah seorang tukang jam. Satu-satunya di kotanya. Jam yang dia buat sangatlah mahal, tetapi orang-orang bersedia membayar untuk mendapatkan jam yang dia buat. Dan kemudian ada seorang lain yang juga mulai membuat jam dan menjualnya dengan harga yang lebih murah. Alan pun terpaksa menurunkan harga jamnya. Kedua orang ini bersaing memproduksi jam dengan kualitas terbaik dengan harga yang lebih murah. Ini adalah asal muasal dari apa yang kita sebut kompetisi.

Hal yang sama terjadi juga kepada para kontraktor, operator transportasi, akuntan, petani, dan lainnya. Para pembeli selalu memilih transaksi yang menurut mereka paling menguntungkan, mereka memiliki kebebasan untuk memilih. Tidak ada perlindungan buatan semacam lisensi ataupun cukai tarif untuk menghambat orang-orang memulai perdagangan. Standar hidup masyarakat mulai meningkat, dan tak lama kemudian orang-orang pun tidak bisa membayangkan sebuah sistem perdangan tanpa uang.

Setahun kemudian, Fabian pun mulai mendatangi orang-orang yang berhutang kepadanya. Orang-orang tertentu memiliki koin emas lebih dari yang mereka pinjam, tetapi ini berarti ada orang lainnya yang memiliki lebih sedikit dari yang mereka pinjam, sebab jumlah koin yang dibuat pada awalnya memang terbatas jumlahnya. Orang-orang yang memiliki koin lebih membayar kepada Fabian dan juga 5% bunganya, tetapi mereka kemudian meminjam lagi kepadanya untuk melanjutkan sistem perdagangan di tahun mendatang.

Sebagian orang mulai menyadari untuk pertama kalinya seperti apa rasanya hutang. Sebelum mereka bisa meminjam kembali kepada Fabian, kali ini mereka harus menjaminkan aset-aset kepadanya, dan mereka pun melanjutkan perdagangan selama setahun mendatang, mencoba mendapatkan 5 koin lebih untuk setiap 100 koin yang mereka pinjam dari Fabian.

Saat itu, belum ada seorang pun yang menyadari bahwa seluruh masyarakat, sekalipun mengembalikan semua hutang koin mereka, tetap tidak bisa melunasi hutang mereka kepada Fabian, karena kelebihan 5% koin emas yang merupakan kewajiban mereka tidak pernah diedarkan oleh Fabian. Tak seorang pun selain Fabian yang mengetahui bahwa adalah hal yang mustahil bagi masyaratkat ini untuk bisa melunasi hutang mereka bila ditambahkan dengan bunga, uang yang tidak pernah dia edarkan.

Memang benar Fabian sendiri juga membuat koin untuk dirinya sendiri dan koin ini akan beredar di masyarakat, namun tidak mungkin dia sanggup mengkonsumsi 5% dari semua barang di masyarakat.

Di dalam toko emasnya, Fabian memiliki sebuah ruang penyimpanan yang sangat kuat, dan sebagian masyarakat merasa lebih aman kalau menitipkan koin emas mereka kepada Fabian untuk disimpan. Fabian akan menagih sejumlah uang tertentu sebagai jasa penyimpanan untuk orang-orang tersebut. Sebagai bukti atas deposit emas mereka, Fabian memberikan mereka selembar kertas kwitansi.
 
 Orang-orang yang membawa kwitansi dari Fabian ini bisa menggunakan kertas ini untuk membeli barang sama halnya seperti menggunakan koin emas. Dan lama-kelamaan kertas-kertas ini beredar di masyarakat sebagai uang sama seperti koin emas.

Tak lama kemudian, Fabian menemukan bahwa kebanyakan orang tidak akan menukarkan kembali kwitansi deposit mereka dengan koin emasnya.

Dia pun berpikir, “Saya memiliki semua emas di sini dan saya masih juga bekerja sebagai tukang emas. Ini benar-benar tak masuk akal. Ada ribuan orang di luar sana yang akan membayarkan bunga kepada saya atas koin-koin emas yang mereka titipkan kembali kepada saya yang bahkan tidak mereka tukarkan kembali.”

Memang benar, emas-emas mereka bukan milikku, tetapi emas-emas itu ada di dalam gudangku, dan itulah yang penting. Saya tidak perlu membuat koin sama sekali, saya bisa menggunakan koin-koin yang dititipkan kepadaku.

Mulanya Fabian sangat hati-hati, dia hanya meminjamkan sebagian kecil dari emas yang dititipkan orang kepadanya. Lama-kelamaan, karena terbukti tidak ada masalah, dia pun meminjamkan dalam jumlah yang lebih besar.

Suatu hari, seseorang mengajukan sebuah pinjaman yang nilainya sangat besar. Fabian berkata kepadanya “daripada membawa koin emas dalam jumlah sebesar itu, bagaimana kalau saya menulis beberapa lembar kwitansi emas kepadamu sebagai bukti depositmu kepadaku.” Orang itu pun setuju. Dia mendapatkan hutang yang dia inginkan tetapi emasnya tetap di gudang Fabian! Setelah orang itu pergi, Fabian pun tersenyum, dia bisa meminjamkan emas kepada orang sambil mempertahankan emas di gudangnya sendiri.

Baik teman, orang tak dikenal, maupun musuh, membutuhkan uang untuk melanjutkan perdagangan mereka. Selama orang-orang bisa memberikan jaminan, mereka bisa meminjam sebanyak yang mereka butuhkan. Dengan hanya menuliskan kwitansi, Fabian bisa meminjamkan emas-emasnya senilai beberapa kali lipat dari yang sebenarnya dia miliki. Segalanya akan baik-baik saja selama orang-orang tidak menukarkan kwitansi deposit emas mereka kepada Fabian.

Fabian memiliki sebuah buku yang menunjukkan debit dan kredit dari setiap orang. Bisnis simpan-pinjam ini benar-benar sangat menguntungkan baginya.


Status sosial Fabian di masyarakat meningkat secepat kekayaannya. Dia mulai menjadi orang penting, dia harus dihormati. Di dunia finansial, kata-katanya adalah ibarat sabda suci.

Tukang emas dari kota lain mulai penasaran tentang rahasia Fabian dan suatu hari mereka pun mengunjunginya. Fabian memberitahu apa yang dia lakukan, dan menekankan kepada mereka pentingnya kerahasiaan dari sistem ini.

Seandainya skema ini terekspos, bisnis mereka pasti akan ditutup, jadi mereka sepakat untuk menjaga kerahasiaan bisnis ini.

Masing-masing tukang emas ini kembali ke kota mereka dan menjalankan operasi seperti yang diajarkan oleh Fabian.

Orang-orang menerima kwitansi emas sama seperti emas itu sendiri, dan banyak emas yang masyarakat pinjam yang akan dititipkan kembali kepada Fabian. Ketika seorang pedagang ingin membayar kepada pedagang lainnya, mereka bisa menuliskan sebuah instruksi kepada Fabian untuk memindahkan uang dari rekening mereka kepada rekening lainnya, yang akan dilakukan oleh Fabian dengan mudah dalam beberapa menit. Sistem ini menjadi sangat populer, dan kertas instruksi ini pun mulai dikenal dengan sebutan “cek.”

Pada suatu malam, para tukang emas dari berbagai kota ini mengadakan sebuah pertemuan rahasia dan Fabian mengajukan sebuah rencana baru. Besok harinya mereka rapat dengan pemerintah dan Fabian berkata, “Kertas kwitansi kami telah menjadi sangat populer. Tak perlu diragukan, Anda para wakil rakyat juga menggunakan mereka dan manfaatnya jelas-jelas sangat memuaskan. Namun, sebagian kwitansi ini telah dipalsukan oleh orang-orang. Hal ini harus dihentikan!”

Para anggota pemerintah pun mulai khawatir. “Apa yang bisa kami lakukan? Tanya mereka. Jawaban Fabian “Pertama-tama, adalah tugas dari pemerintah untuk mencetak uang kertas dengan desain dan tinta yang unik, dan masing-masing uang kertas ini harus ditandatangani oleh Gubernur. Kami para tukang emas akan dengan senang hati membayar biaya cetak ini, ini juga akan menghemat banyak waktu kami untuk menulis kwitansi.” Para anggota pemerintah berpikir “Ya, memang kewajiban kami untuk melindungi masyarakat dari pemalsuan uang dan nasehat dari Fabian ini kedengarannya memang masuk akal.” Dan mereka pun setuju untuk mencetak uang kertas ini.

“Yang kedua”, kata Fabian, “sebagian orang juga pergi menambang emas dan membuat koin emas mereka sendiri. Saya menyarankan agar dibuat sebuah hukum agar setiap orang yang menemukan emas harus menyerahkannya. Tentu saja, mereka akan mendapat ganti rugi koin yang saya buat dan uang kertas baru.”

Ide ini pun mulai dijalankan. Pemerintah mencetak uang kertas baru dengan pecahan $1, $2, $5, $10, dan lainnya. Biaya cetak yang rendah ini dibayarkan oleh parang tukang emas.

Uang kertas ini jauh lebih gampang untuk dibawa dan dalam waktu singkat diterima oleh masyarakat. Namun, di luar faktor kenyamanan, ternyata uang kertas dan koin emas yang beredar hanyalah 10% dari nilai transaksi masyarakat. Kenyataan perdagangan menunjukkan bahwa 90% nilai transaksi dilakukan dengan cara pindah buku (cek).

Rencana berikut Fabian mulai berjalan. Sampai saat itu, orang-orang membayar Fabian untuk menitipkan koin emas (uang) mereka. Untuk menarik lebih banyak uang ke gudangnya, Fabian akan membayar para depositor 3% bunga atas emas titipan mereka.
 Kebanyakan orang mengira Fabian meminjamkan kembali uang yang dititipkan kepadanya. Karena dia meminjamkan kepada orang lain dengan bunga 5%, dan dia membayar para deposan 3%, maka keuntungan Fabian adalah 2%. Orang-orang pun berpikir jauh lebih baik mendapatkan 3% daripada membayar Fabian untuk menjaga emas (uang) mereka, dan mereka pun tertarik.

Volume tabungan meningkat dengan cepat di gudang Fabian. Dia bisa meminjamkan uang kertas $200, $300, $400, bahkan sampai sampai $900 untuk setiap $100 yang dia dapatkan dari deposan. Dia harus berhati-hati dengan ratio 9:1 ini, sebab menurut pengalamannya, memang ada 1 dari setiap 9 orang yang akan menarik emas mereka. Bila tidak ada cukup uang saat diperlukan, masyarakat akan curiga.

Dengan demikian, untuk $900 dolar pinjaman yang diberikan Fabian, dengan bunga 5% dia akan mendapatkan kembali $45. Ketika pinjaman + bunga ini dilunasi, Fabian akan membatalkan $900 di kolom debit pembukuannya dan sisa $45 ini adalah miliknya. Dia dengan senang hati akan membayar bunga $3 untuk setiap $100 yang dititipkan deposan kepadanya. Artinya, keuntungan riil dari Fabian adalah $42! Bukan $2 yang dibayangkan kebanyakan orang. Para tukang emas di kota-kota lain melakukan hal yang sama. Mereka menciptkaan kredit (pinjaman) tanpa modal (emas) dan menagih bunga atas pinjaman mereka.

Para tukang emas ini tidak lagi membuat koin emas, pemerintahlah yang mencetak uang kertas dan koin dan memberikannya kepada para tukang emas ini untuk didistribusikan. Satu-satunya biaya Fabian adalah ongkos cetak uang yang sangat murah. Di samping itu, dia juga menciptakan kredit tanpa modal dan menagih bunga atas pinjaman barunya ini. Kebanyakan orang mengira suplai uang adalah operasi dari pemerintah. Mereka juga percaya bahwa Fabian meminjamkan uang dari para deposan kepada peminjam baru, tetapi rasanya agak heran mengapa orang lain bisa mendapatkan uang padahal uang para deposan masih tetap tak berkurang. Seandainya semua orang mencoba mengambil uang mereka pada saat yang bersamaan, skema penipuan ini akan terekspos.

Tak masalah bila sebuah pinjaman diajukan dalam bentuk uang kertas atau koin. Fabian tinggal mengatakan kepada pemerintah bahwa penduduk bertambah dan produksi baru memerlukan uang baru, yang akan dia dapatkan dengan biaya cetak yang sangat kecil.

Suatu hari seseorang pergi menemui Fabian. “Bunga yang Anda tagih ini salah,” katanya. “Untuk setiap $100 yang Anda pinjamkan, Anda meminta $105 sebagai kembalinya. $5 extra ini tidak mungkin bisa dibayarkan karena mereka bahkan tidak eksis.

”Petani memproduksi makanan, industri memproduksi barang, tetapi hanya Andalah yang memproduksi uang. Katakanlah hanya ada dua pedagang di negara ini, dan semua orang bekerja untuk salah satunya. Mereka masing-masing meminjam $100. Setahun kemudian, mereka harus mengembalikan masing-masing $105 kepada Anda (total $210). Bila salah satu orang berhasil menjual habis dagangannya dan mendapatkan $105, orang yang tersisa hanya akan memiliki $95, dia masih berhutang $10 kepadamu, dan tidak ada uang yang beredar untuk melunasi $10 ini kecuali dia mengajukan pinjaman baru kepadamu. Sistem ini bermasalah!”

“Untuk setiap $100 yang kamu pinjamkan, kamu seharusnya mengedarkan $100 kepada sang peminjam dan $5 untuk kamu belanjakan, jadi total uang yang beredar memungkinan si peminjam untuk membayar”

Fabian mendengarkan dengan tenang dan menjawab, “Dunia finansial adalah subjek yang rumit, anak muda, butuh waktu bertahun-tahun untuk memahaminya. Biarkan saya saja yang memikirkan masalah ini, dan kamu mengurus urusanmu saja. Kamu harus belajar untuk menjadi lebih efisien, meningkatkan produksimu, memotong ongkos pabrikmu dan menjadi pengusaha yang lebih cerdas. Saya siap membantu untuk urusan itu.”

Orang ini pun pergi meninggalkan Fabian, tetapi hatinya masih juga bimbang. Sepertinya ada yang tidak beres dengan sistem kerja Fabian, dan pertanyaan yang dia ajukan masih belum dijawab.

Orang-orang menghormati Fabian dan kata-katanya. Dia adalah pakar, orang yang tidak setuju dengannya pastilah orang bodoh. Lihatlah betapa negara ini bertambah maju, produksi kita juga terus bertumbuh, kehidupan kita sudah jauh lebih baik.

Untuk menutup bunga dari uang yang mereka pinjam, para pedagang dan pengusaha meninggikan harga dagangan mereka. Karyawan senantiasa memprotes mereka dibayar terlalu rendah dan pemilik perusahaan senantiasa menolak membayar lebih. Petani tidak bisa mendapatkan harga jual yang adil dari produk pertanian mereka. Para Ibu rumah tangga terus merasa tidak puas karena harga barang di pasar dinilai terlalu tinggi.

Pada suatu ketika, orang-orang akhirnya mulai berdemonstrasi, hal yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sebagian orang tidak sanggup melunasi hutang mereka dan menjadi miskin. Teman dan saudara mereka pun tidak sanggup untuk menolong. Mereka lupa kekayaan yang sebenarnya masih berlimpah di sekeliling mereka : tanah yang subur, hutan yang kaya, mineral yang berlimpah dan juga ternak-ternak yang sehat. Yang mereka pikirkan sepanjang hari adalah uang yang rasanya selalu kurang. Mereka tidak pernah bertanya tentang sistem. Mereka percaya pemerintahlah yang sedang menjalankan sistem ini.

Sebagian kecil orang di masyarakat yang kelebihan uang mulai membentuk perusahaan mereka sendiri untuk meminjamkan uang mereka. Mereka menagih bunga 6% atas uang mereka, lebih baik dari 3% yang ditawarkan oleh Fabian. Namun orang-orang ini meminjamkan uang mereka sendiri, tidak seperti Fabian yang bisa meminjamkan uang / menciptakan kredit tanpa modal.

Perusahaan-perusahaan pembiayaan ini tetap membuat khawatir Fabian dan kawan-kawannya, jadi mereka pun membentuk perusahaan pembiayaan mereka sendiri. Dalam kebanyakan kasus, mereka membeli perusahaan-perusahaan pembiayaan saingan mereka tersebut. Pada akhirnya, semua perusahaan pembiayaan dimiliki ataupun dalam kendali mereka.

Situasi ekonomi terus memburuk. Para pegawai mulai yakin bos mereka mendapatkan terlalu banyak keuntungan. Pemilik perusahaan pun menilai pegawainya terlalu malas dan tidak cukup bekerja keras. Semua orang mulai menyalahkan orang lain. Pemerintah bingung bagaimana menyelesaikan masalah ini. Masalah paling mendesak tentunya adalah bagaimana menolong orang yang paling miskin.

Pemerintah pun memulai sebuah program sosial dan memaksa anggota masyarakat untuk membayar sistem ini. Hal ini membuat marah sebagian orang, mereka percaya kepada gagasan lama bahwa membantu orang seharusnya adalah usaha suka rela, bukan paksaan.
 
“Peraturan ini adalah perampokan yang dilegalkan. Mengambil sesuatu dari seseorang, dengan menentang keinginan dari orang yang bersangkutan, apapun tujuannya, tidaklah berbeda dengan mencuri darinya.”

Namun orang-orang tak berdaya karena bila tidak membayar mereka akan dimasukkan ke dalam penjara. Program sosial ini selama beberapa waktu memang membantu keadaan, tetapi tak lama kemudian masalah kemiskinan muncul kembali dan uang yang diperlukan untuk menjalankan sistem ini pun terus bertambah. Ongkos sosial terus meningkat, demikian juga dengan skala pemerintahan.

Kebanyakan wakil rakyat adalah orang-orang yang tulus melakukan pekerjaan mereka dengan benar. Mereka pun tidak menyukai gagasan terus-menerus meminta uang dari masyarakat. Akhirnya, mereka mencari pinjaman dari Fabian dan kawan-kawannya. Mereka bahkan tidak mengetahui bagaimana mereka bisa membayar. Orang tua mulai tidak sanggup membayar biaya sekolah anak-anaknya. Sebagian orang tidak sanggup membayar biaya dokter dan obat-obatan. Operator transportasi pun mulai gulung tikar.

Satu demi satu usaha diambil alih pemerintah. Guru, dokter, dan banyak pekerjaan lainnya mulai menjadi tanggung jawab pemerintah.

Tidak banyak orang yang mendapatkan kepuasan di pekerjaannya. Mereka dibayar gaji yang wajar, tetapi kehilangan jati diri. Mereka menjadi budak dari sebuah sistem.

Tidak banyak ruang untuk inisiatif, sedikit penghargaan atas usaha pribadi, pendapatan mereka relatif tetap dan naik pangkat terjadi hanya kalau atasan mereka pensiun ataupun mati.

Di tengah keputusasaan, pemerintah akhirnya meminta nasehat dari Fabian. Mereka menganggapnya sebagai orang bijak dan selalu memiliki solusi atas permasalahan uang. Fabian mendengar keluhan dari pemerintah dan akhirnya menjawab, “Banyak orang yang tidak bisa menyelesaikan persoalan mereka, mereka membutuhkan orang lain untuk melakukannya. Tentu Anda setuju bahwa semua orang berhak atas kebahagiaan dan berhak atas semua kebutuhan pokok mereka bukan? Satu-satunya cara untuk menyeimbangkan situasi adalah mengambil dari yang kaya dan memberikan kepada yang miskin. Kenalkan sebuah sistem baru yaitu pajak. Semakin banyak kekayaan seseorang, semakin banyak dia harus membayar pajak. Sekolah dan rumah sakit seharusnya gratis bagi mereka yang tidak sanggup membayar…”

Selesai memberikan nasehat, Fabian pun tidak lupa mengingatkan pemerintah, “Hm, jangan lupa Anda masih berhutang kepada saya. Tetapi baiklah, saya akan membantu Anda. Sekarang Anda hanya perlu membayar bunga kepada saya, Anda bisa menunda pembayaran hutang pokok kepada saya.”

Pemerintah mempercayai Fabian, dan mereka pun segera memperkenalkan pajak penghasilan, semakin banyak yang Anda dapatkan, semakin tinggi pajak yang Anda bayarkan. Tak seorang pun anggota masyarakat yang setuju. Namun, sama seperti sebelumnya, mereka harus membayar atau masuk penjara.

Pedagang lagi-lagi harus menaikkan harga jual barangnya. Para pegawai kembali menuntut kenaikan gaji, bisnis-bisnis mulai gulung tikar, ataupun mulai mengganti tenaga manusia dengan mesin. Siklus ini berulang-ulang dan memaksa pemerintah memperkenalkan berbagai skema-skema sosial lainnya.

Pengaturan tarif dan perlindungan mulai diterapkan untuk menyelamatkan industri-industri tertentu dari kebangkrutan dan menyediakan lapangan kerja. Sebagian orang mulai bertanya-tanya apakah tujuan dari kegiatan produksi ekonomi adalah untuk memproduksi barang atau hanya untuk menyediakan lapangan kerja.

Seiring memburuknya keadaan, orang-orang mulai mengendalikan upah pegawai, kontrol biaya, dan segala macam kontrol-kontrol lainnya. Pemerintah pun berupaya mendapatkan lebih banyak uang lewat pajak penjualan, pajak penghasilan, dan pajak-pajak yang lain. Sebagian orang mulai memperhatikan bahwa sejak petani menaman padi sampai beras sampai ke tangan Ibu rumah tangga, ada lebih dari 50 jenis pajak yang sudah dibayarkan.

“Pakar” mulai muncul dan sebagian mulai terpilih untuk bekerja di pemerintahan, namun tahun demi tahun berlalu dan mereka tidak berhasil menyelesaikan permasalahan apapun, kecuali bahwa pajak perlu “disesuaikan” yang mana dalam kebanyakan kasus artinya harus dinaikkan.

Fabian mulai menuntut pembayaran atas bunga pinjamannya, dan semakin lama semakin banyak porsi pajak yang digunakan untuk membayar kepadanya.

Kemudian mulai muncul apa yang disebut dengan partai politik, orang-orang di masyarakat mulai berargumentasi partai mana yang orang-orangnya bisa menyelesaikan permasalahan mereka. Mereka mulai bertengkar mengenai personalitas, idealisme, lambang partai dan berbagai hal lainnya kecuali asal muasal permasalahan mereka.

Di kota tertentu, bunga pinjaman yang harus dibayar sudah melebihi total penerimaan pajak tahunan yang bisa dikumpulkan. Bunga-bunga baru pun mulai diperhitungkan atas bunga yang belum dibayarkan.

Secara perlahan-lahan kekayaan riil dari negara mulai berpindah tangan ke Fabian dan kawan-kawannya dan mereka memiliki kendali yang semakin lama semakin besar atas kehidupan masyarakat. Namun, pengendalian mereka belum selesai. Mereka menyadari bahwa situasi tidak akan benar-benar aman sebelum semua orang berhasil dikendalikan.

Kebanyakan orang yang menentang sistem ini bisa dibuat diam dengan tekanan finansial, ataupun dengan ejekan publik. Untuk melakukan ini Fabian dan kawan-kawan membeli kepemilikan dari semua koran, TV, dan radio dan menyeleksi orang-orang apa yang boleh bekerja di dalamnya. Kebanyakan dari orang-orang ini sebenarnya benar-benar ingin memperbaiki keadaan, tetapi mereka tidak menyadari bagaimana mereka sedang diperalat. Solusi mereka selalu terarah kepada akibat dari masalah, bukan penyebab dari masalah.

Ada bermacam-macam surat kabar, satu untuk sayap kanan, satu untuk sayap kiri, satu untuk kelas pekerja, satu untuk kaum pengusaha, dan seterusnya. Tidak masalah koran yang mana yang Anda percayai, selama Anda tidak memikirkan penyebab awal dari permasalahan.

Rencana Fabian sudah hampir selesai, seluruh negara saat ini berhutang kepadanya. Melalui pendidikan dan media, dia mengendalikan pikiran masyarakat. Orang-orang hanya akan berpikir sejauh yang dia inginkan.

Setelah seseorang memiliki jauh lebih banyak uang dari yang sanggup dia gunakan, apa lagi yang akan menyenangkan hatinya? Bagi mereka yang memiliki mentalitas menguasai, jawabannya adalah kekuasaan, kekuasaan mutlak atas kemanusiaan.

Kebanyakan tukang emas akhirnya mengarah ke sana. Mereka mengetahui rasanya kaya raya, dan perasaan itu tidak lagi cukup untuk memuaskan mereka. Mereka membutuhkan tantangan dan kesenangan baru, dan kekuasaan atas massa adalah permainan berikut.

Mereka percaya mereka adalah kelompok superior atas lainnya. “Adalah hak dan kewajiban kami untuk mengatur. Masyarakat tidak tahu apa yang baik untuk mereka. Mereka perlu dikendalikan dan diatur. Mengatur adalah takdir dari kami.”

Di seluruh penjuru negeri, Fabian dan kawan-kawan memiliki banyak perusahaan pembiayaan. Memang, masing-masing perusahaan dimiliki secara pribadi. Secara teori mereka adalah saingan masing-masing. Namun, kenyataan yang sebenarnya adalah mereka semua saling bekerja sama dengan seksama. Setelah berhasil membujuk pemerintah, mereka mendirikan sebuah institusi yang mereka sebut dengan Bank Sentral. Mereka bahkan tidak perlu mengeluarkan modal untuk mendirikannya, mereka menciptakan kredit dengan menggunakan uang deposit masyarakat.

Institusi ini tampak sebagai badan yang meregulasikan suplai uang dan merupakan bagian dari pemerintah. Tetapi anehnya, tidak ada wakil pemerintah yang diizinkan untuk duduk di badan Direktur di dalamnya.

Pemerintah tidak lagi meminjam secara langsung dari Fabian, pemerintah sekarang meminjam dengan cara menerbitkan surat hutang kepada Bank Sentral. Jaminan dari surat hutang ini adalah penerimaan pajak tahun berikut. Ini adalah bagian dari rencana Fabian, menyingkirkan kecurigaan orang kepadanya dengan membuat kesan seolah-olah suplai uang dikendalikan oleh pemerintah. Kenyataannya, di balik layar, dialah yang memegang kendali.

Secara tidak langsung, dialah yang mengendalikan pemerintah. Tidak penting siapa yang terpilih sebagai wakil rakyat di pemerintahan. Fabianlah yang memegang kendali atas uang, darah dan nyawa dari perdagangan sebuah bangsa.

Pemerintah selalu mendapatkan uang yang mereka inginkan, tetapi bunga selalu dikenakan pada setiap pinjaman. Semakin lama semakin banyak orang yang memerlukan bantuan sosial pemerintah, dan tak lama kemudian pemerintah sadar bahwa mereka kesulitan bahkan hanya untuk membayar bunga saja, apalagi hutang pokok.

Sebagian orang mulai bertanya, “Uang adalah sistem yang diciptakan manusia. Bukankah seharusnya sistem ini bisa diubah agar uang menjadi pelayan, bukan sebaliknya?” Namun semakin lama jumlah orang-orang ini semakin sedikit dan suara mereka hilang di tengah sebuah masyarakat yang tidak lagi peduli.

Pemerintahan berubah, partai yang berkuasa juga bisa berubah, namun kebijakan utama tidak. Tidak masalah siapa yang menjadi pemerintah, rencana besar Fabian semakin lama semakin mendekati kenyataan dari tahun ke tahun. Kebijakan pemerintah tidak lagi ada artinya. Rakyat mulai dikenai pajak mendekati ambang batas mereka, mereka tidak lagi sanggup membayar. Waktunya sudah hampir matang bagi Fabian untuk aksi finalnya.

10% dari suplai uang masih dalam bentuk uang kertas dan koin. Ini harus dimusnahkan sama sekali tetapi tidak boleh menimbulkan kecurigaan publik. Selama masyarakat masih memiliki uang (kertas maupun koin), mereka bebas untuk membeli dan menjual sesuka hati mereka, mereka masih memiliki sedikit kontrol atas kehidupan mereka.

Tidaklah selalu nyaman untuk membawa uang tunai dan koin. Cek juga tidak bisa diterima bila sudah keluar dari sebuah komunitas tertentu. Oleh karena itu, sebuah sistem yang lebih baru perlu dipikirkan. Sekali lagi Fabian memiliki jawabannya. Organisasinya akan menerbitkan sebuah kartu plastik yang memiliki data pemegangnya: nama, foto, dan nomor penduduk.

Saat kartu ini akan digunakan, pedagang akan menyambungkan komputernya untuk mengecek kredit dari kartu tersebut. Seandainya tidak ada masalah, pemegang kartu ini boleh membeli barang seharga limit tertentu.

Awalnya orang akan diizinkan untuk berhutang sedikit. Seandainya uang ini dibayarkan dalam sebulan, maka tidak ada bunga yang perlu dibayarkan. Ini tidak masalah untuk kelas pegawai, tetapi bagaimana ini bisa berlaku juga untuk para pedagang dan pengusaha? Mereka harus mempersiapkan mesin-mesin, kemudian menjalankan proses manufaktur dari barang yang akan mereka produksi, membayar gaji pegawai, menjual barang dagangannya dan membayar kembali hutang mereka. Bila melewati satu bulan, mereka akan dikenai bunga 1.5% per bulan dari nilai hutang mereka. Total 18% setahun.

Pengusaha tidak memiliki jalan lain selain menambahkan 18% ke dalam nilai jual dagangan mereka. Namun kelebihan uang / kredit (18%) ini tidak pernah dipinjamkan kepada siapapun. Di seluruh negeri, para pengusaha disuruh menjalani misi mustahil untuk membayar kembali $118 untuk setiap $100 yang mereka pinjam, tetapi kelebihan $18 ini tidak pernah diedarkan oleh Bank sejak awal.

Namun Fabian dan kawan-kawan menikmati status yang semakin penting di masyarakat. Mereka menjadi orang-orang penting yang terhormat. Pengumuman dan pendapat mereka tentang finansial dan ekonomi bahkan bisa disetarakan dengan sabda suci spiritual.

Di bawah beban bunga yang terus bertambah, banyak perusahaan kecil menengah yang mulai bangkrut. Lisensi-lisensi khusus diperlukan untuk menjalankan operasi-operasi tertentu, jadi perusahaan-perusahaan yang tersisa memiliki semakin banyak hambatan dalam berusaha. Fabian memiliki dan mengendalikan semua perusahaan besar beserta ratusan anak perusahaan mereka. Perusahaan-perusahaan itu tampak seperti saingan satu sama lain, tetapi dialah yang ada di balik semua perusahaan itu. Para kompetitor perlahan-lahan dipaksa gulung tikar. Tukang kayu, konstruksi, listrik dan industri-industri kecil menengah menjalani takdir yang sama, dibeli oleh perusahaan raksasa milik Fabian yang memiliki proteksi dan perlakuan khusus dari pemerintah.

Fabian menginkan kartu plastik ini untuk menggantikan semua uang kertas dan koin. Rencananya adalah saat semua uang kertas dan koin ditarik, hanya bisnis yang menggunakan kartu komputerlah yang akan beroperasi.

Dia mengetahui bahwa suatu ketika orang-orang akan kehilangan kartu mereka dan tidak bisa membeli ataupun menjual sebelum identitas mereka bisa dibuktikan. Dia ingin agar dibuatkan sebuah hukum : sebuah hukum yang mengharuskan semua orang untuk memiliki sebuah nomor identifikasi yang ditato di dalam tangan mereka. Nomor ini cuma akan terlihat dengan sinar tertentu, yang dihubungkan dengan komputer. Setiap komputer akan dihubungkan dengan sebuah komputer pusat yang memungkinan Fabian mengetahui segala transaksi mengenai semua orang…

* * *

Terminologi yang digunakan saat ini untuk melukiskan sistem finansial di atas adalah “Fractional Reserve Banking.” (Cadangan Terbatas Perbankan).

Cerita yang Anda baca di atas, tentu saja, adalah fiksi.

Namun, bila Anda merasa terganggu karena cerita ini sangat mirip dengan kenyataan hidup kita, dan Anda ingin mengetahui siapa Fabian ini sebenarnya dalam kehidupan nyata, titik mulai yang baik untuk Anda pelajari adalah para tukang emas di Inggris pada abad 16 dan 17 Masehi.

Sebagai contoh, Bank of England didirikan pada tahun 1694. Raja William saat itu berada dalam kesulitan finansial yang besar karena perang melawan Perancis. Para tukang emas kemudian “meminjamkan” 1,2 juta pound (nilai yang amat besar pada zaman itu) dengan syarat tertentu.

Bunga yang dikenakan adalah 8%. Jangan lupa bahwa di Magna Carta sebenarnya dikatakan bahwa mengenakan dan mengumpulkan bunga (riba) atas pinjaman akan dikenakan hukuman mati. Raja William dipaksa memberikan izin kartel resmi kepada para tukang emas, sebuah hak untuk menciptakan kredit.

Sebelum itu, operasi untuk menerbitkan lebih banyak kwitansi emas daripada emas yang sebenarnya dimiliki adalah tindakan ilegal. Namun sejak izin kartel itu keluar, tindakan itu menjadi legal.

Di tahun 1694, W.Petterson mendapatkan hak kartel atas Bank of England.

source: http://pohonbodhi.blogspot.com/

Sunday, February 7, 2010

Scholarship: Fulbright Master’s Degree Program 2010

Assalamu'alaykum, this time I just want to share about scholarship to USA for Indonesian fellows. I hope you can get benefits from this information. I wish Indonesian students can get a better and higher education. I am also a Fulbright Grantee Scholar, and one thing you need to know that Fulbright program gives you a big opportunity to study abroad, in USA. Get a better education, brighter future, and help Indonesia to reach welfare and prosperity.
For you that PC/laptop user you can directly go to: http://www.yugoananda.com/2010/02/scholarship-fulbright-masters-degree.html


FULBRIGHT MASTER’S DEGREE PROGRAM


Preference will be given to applicants who serve as faculty members of state and private institutions of higher education in Indonesia. Applicants will possess:
  • a Bachelor (S1) degree with a minimum GPA of 3.0 (4.00 scale)
  • leadership qualities
  • a good understanding of Indonesian and international cultures demonstrated commitment to the chosen field of study
  • a willingness to return to Indonesia upon completion of the Fulbright program
  • a minimum institutional TOEFL score of 550 or IELTS score of 6.0

HOW TO APPLY

Candidates should complete the appropriate application forms. Forms are available either by mail or in person at the AMINEF Office, Gedung Balai Pustaka, 6th floor, Jl. Gunung Sahari Raya 4, Jakarta 10720.

Please return to AMINEF your complete application package by the application deadline that includes:

  • Completed application form. This includes a clearly written and concise study objective.
  • Copy of your most recent, less than two years old, institutional TOEFL or IELTS score report.
  • One letter of reference, either from your current employer or previous lecturer.
  • Copy of academic transcript (English translation). 
  • Copy of identity document (KTP or passport)


CONTACT INFORMATION

Specific questions regarding the application process may be addressed via e-mail to the following address: infofulbright_ind@aminef.or.id. We do not accept email applications. Hard copies must be sent or delivered to American Indonesian Exchange Foundation.


DEADLINE

The deadline for the submission of application materials for all programs is April 30, 2010.

***********************
Note: Program requirements are subject to change without notice.
The form can be downloaded here

Saturday, November 7, 2009

Get Free Report Ebook and $ 1 .00 per Lead

Assalamu'alaikum. Apa kabar semuanya? Kali ini saya posting tentang bisnis online lagi. Tentang apa lagi? Saya mau bagi-bagi info yang gratisan. Gratisan? Pastinya semangat dong dengar yang gratisan. Apa yang gratis? Sebuah report, e-book dari seoarang ahli internet marketing. Lumayan bisa buat nambah-nambah pengetahuan. Tapi ada plusnya lho. Apaan tuh? Kita bisa EARN MONEY dari situ. Suatu yang gratisan bisa mendatangkan keuntungan. Gimana caranya? Yups, simak aja terus...

Jujur aja, ceritanya lagi cari dana neh. So, saya dapat "tugas" promosikan ini report/ebook. Tenang aja, gratis kok. Kalo pengin ngerti tentang Internet Marketing bisa download ini report/ebook dan juga bisa sekalian nonton video seminar. Gratis. Download aja, gak rugi apa-apa. Sapa tau bisa bermanfaat. Dan tentunya membantu saya dalam mengumpulkan dana. Cukup dengan men-download, that's all you can do to help me. Insya Allah bermanfaat ^_^



Judul Seminar: Behind Closed Door
Pembicara: Russel Brunson

Judul Buku: The IM-Myth Report
Penulis: Russel Brunson

Download di sini atau di sini

Sekalian belajar meningkatan Reading Comprehension. Dan mungkin bisa membantu Anda mencari duit via internet. Hehehehe... Saya juga pernah lho dapat ratusan ribu dalam beberapa minggu, cuma gara-gara kurang istiqomah, jadi males dan berhenti. Sekarang mo mulai lagi, hehehehe...

Gimana cara downloadnya?

Perhatikan potongan gambar di bawah:




Isikan nama, nomor hp/telepon, dan email anda. Isikan dengan data yang sebenarnya, sebab Anda akan diberi notifikasi. Apalagi jika Anda ingin mendapatkan free interview dengan Russel Brunson.

Tuliskan nomer telepon Anda yang disertai kode negara. misalkan nomor hp Anda 08100000001 maka tuliskan +628100000001.

Setelah Anda mendaftar, Anda akan menerima email. Ini punya saya:




Saat itu maka Anda akan telah menjadi member. Pada halaman member, silahkan download report/ebook dan play video seminaarnya. Di halaman itu juga terdapat BONUS RAHASIA yang bisa Anda download. So, segera dafar, gratis! Klik di sini atau di sini.

Kalau hanya ingin sekedar download report/ebook-nya dan nonton video seminar dari Russel Brunson (ya sekalian bantu-bantu saya, hehehehe...) Anda tak perlu mengikuti contest-nya. Jadi tak perlu mengisi akun PayPal Anda. Tapi kalau mau ikutan, ya silahkan ^_^

Lalu bagaimana jika ingin earn money dari situs itu? Nah, segera setelah Anda mendaftar, Anda akan dibawa ke sebuah halaman baru. Pada halaman itu terdapat box seperti gambar di bawah ini:




Silahkan isi email Paypal Anda. Karena pembayaran dilakukan melalui Paypal. Ini sebenarnya referral contest yang diadakan oleh Russel Brunson. Cari sebanyak-banyaknya referral yang bisa Anda dapatkan dari tanggal 5 - 10 November 2009 (seperti yang sedang saya lakukan). 1 referral = $ 1.00. Jadi maksudnya, setiap rekan yang Anda ajak untuk mendownload report tersebut melalui link referral Anda, Anda akan mendaptkan $ 1.00. Dan pembayaran akan diberikan apabila Anda mempunyai referral setidaknya 20 orang.

Belum mendaftar? Daftarkan diri ini Anda dengan mengklik di sini atau di sini.

Pakai link referral saya ya, hitung-hitung sebagai ucapan terima kasih karena sudah menyebarkan info ini dan membantu saya yang sedang merantau di negeri orang.

OK, semoga bermanfaat.

Sunday, October 25, 2009

Dari Jakarta ke USA - Part V

Bismillahirrahmanirrahim. Di kisah sebelumnya, aku sudah sampai di Denver Airport pukul 17:31, 26 Juli 2009 waktu setempat. Di bandara inilah aku mulai merasa sebel, pusing, dan capek. Aku harus berputar-putar dulu di bandara ini lebih dari satu jam hanya untuk mencari Transfer Flight dan Gate tempat aku akan diterbangkan. Dan kali ini adalah penerbangan terakhir yang berarti episode terakhir dari "Dari Jakarta ke USA". OK, simak saja kelanjutan cerita perjalananku. Semoga bisa menambah wawasan.

Bagi yang belum baca epsode sebelumnya dan ingin membacanya, silahkan klik link berikut:
Atau bisa dilihat di note-ku sebelumnya. ^_^
Bagi pengguna komputer, langsung saja menuju blog aslinya biar lebih enak mbacanya. Klik di sini.


O ya, sebelum dilanjut, ada seorang pembaca di episode sebelumnya yang menanyakan makanan selama perjalanan. Alhamdulillah, aku tidak makan makanan haram, insya Allah. Saat dari Jakarta ke Singapura, aku mengggunakan Qatar (maskapai dari negeri Qatar, salah satu negeri di semenanjung arab). Pas aku tanya tentang kehalalan makanannya, si pramugari mengiyakan. Ketika perjalan dengan United Airlines (salah satu maskapainya USA), mereka tidak menyediakan menu babi. Mereka selalu memberi tahu terbuat dari daging apa makanannya. Dan kalau ada menu daging pasti yang mereka sediakan daging ayam atau sapi. Mungkin saat itu isu akan flu babi sedang santer-santernya, jadi pihak maskapai tidak menyediakan daging babi. Kalau wine sih ada. Tapi aku gak pernah minta.

Satu hal lagi, masalah shalat 10 kali dalam TANGGAL yang sama pada episode sebelumnya hanyalah sebuah hasil pemikiranku saja yang, insya Allah, didasarkan pada dalil yang jelas. Tapi hasil pemikiranku itu jangan dijadikan landasan dulu. Mungkin belum levelku untuk berijtihad dan hasilnya dijadikan landasan. Masih terlalu jauh. Silahkan cari dari sumber-sumber yang reliable. Kalau sudah dapat, silahkan beri tahu saya ya... :D


Denver International Airport

Aku melewati lorong dinamis yang menghubungkan antara badan pesawat dengan gate (Jadi aku tak perlu repot-repot turun ke bawah). Sambil menggendong ransel dan menjinjing tas laptop (ada laptopnya lho, gak kosong [menekankan kalo barang bawaannya lumayan tak ringan :D ]), langsung saja kulangkahkan kakiku menuju Baggage Claim, karena check-thru-ku cuma dari Jakarta ke Denver. Dan ternyata tempat Baggage Claim itu banyak dan tidak hanya pada satu tempat. Yang satu di pojok sini, yang satu di pojok sana, dan yang lain entah dimana. Terus, koperku ada Baggage Claim mana? Langsung saja aku cek di display board. Aku mulai mencari-cari nomor penerbanganku dari San Fransisco menuju Denver.

"Yosh, itu dia. Kejar bro...!!!" (Maaf lupa di Baggage Claim nomer berapa).



[Ini dia yang kumaksud dengan lorong dinamis yang menghubungkan antara gate dan badan pesawat.]


Aku terus cari dan mencari dengan mengandalkan papan-papan petunjuk yang ada. Putar-putar, naik-turun eskalator...

"Hmmm... Kalo berdasarkan petunjuk berarti aku harus naik trem nih.." (Maaf lupa istilahnya, trem ato subway ya? Yang jelas bukan submarine :D Itu merupakan kereta sebagai transportasi di dalam bandara, keknya sih di dalam tanah.)

Aku pun masuk ke trem,
"Wah kayak di pelem-pelem neh..."

Keluar dari trem. Pencarian terus berlanjut. Setelah berputar-putar gak jelas, akhirnya nemu juga lokasi Bagage Claim. Fiuh...!



[Baggage Claim. Yang sudah biasa bepergian dengan airplane, pastinya gak asing dengan tempat macam ini]


"OK, saatnya liat jadwal penerbangan berikutnya"

Aku mulai mencari-cari daftar penerbangan yang ada di display board. Tapi aku tak menemukan United Airlines yang menuju ke Laramie. Setelah mikir-mikir,
"O ya, berarti bukan pake United Airlines. Mungkin ganti pesawat". Setelah kulihat tiket, memang nomor penerbangannya ZK5023Y. 2 huruf pertamanya ZK, bukan UA (yang berarti United Airlines). Aku kembali mencari di daftar yang ada pada display board. kali ini aku mencari penerbangan yang menuju Laramie. Ternyata hanya ada saru maskapai yang menuju Laramie, yaitu Great Lake. Pencarian kembali dilakukan, kali ini mencari loket Great Lake untuk transfer plane.

Sambil melangkah dengan gontai, kuseret-seret koperku yang gede. Dan aku tiba di selasar Denver Airport. Tampak banyak para penjemput yang akan menjemput para penumpang yang baru saja landing. Beberapa di antara mereka membawa papan yang bertuliskan sebuah nama.



[Inilah selasar Denver International Airport. Perhatikan di sebelah kiri taman. Di situ banyak para penjemput penumpang. Aku keluar dari koridor tersebut]


"Hmmm.. kok gak ada yang njemput guwe ya? Haiyyah... Kan belum nyampe Laramie. Ayo ah, satu penerbangan lagi. Semangat..."

Kegiatan muter-muter ini ternyata masih saja aku lakukan untuk mencari dimana loket Great Lake berada. Dalam proses pencarian, aku melihat baggace cart.

"Nah kalo pake kereta dorong itu kan gak perlu seret-seret koper...". Dan aku mendekati deretan bagagge cart.

Aku pegang satu, dan mulai menariknya dari deretan. Rodanya tuh disangkutin ke besi panjang, biar gak kemana-kemana ntuh kereta. Tapi setelah diujung besi, si kereta gak mau aku keluarin. It's stucked! Aku coba tarik-tarik, tetep gak mau keluar.

Tiba-tiba ada dua orang negro amerika yang akan mengembalikan kereta ke deretan.

"Hei, dude. You can't take the cart unless you pay five dollars", kata si negro itu sambil ketawa-ketiwi gara-gara melihat tingkahku yang teramat sangat 'ndeso'.
"Hah...?" Setelah kulihat, memang ada tulisannya.
"Hahaha... It's OK. You can take mine. Here..." kata si negro sambil ngasihin kereta dorong.
"Thank you so much". Mereka pun beranjak pergi.

Ternyata ada polisi bandara yang memperhatikan tingkahku yang bego tadi. Tampaknya dia akan mendekatiku tadi. Tapi berhubung ada yang ngasih kereta gratisan, dia kembali menjauh.

Beugh, matre juga nih state. Masa' cuma make kereta dorong beginian aja 5 dollar? Seket ewu, ndes! Dari Soekarno-Hatta ampe San Fransisco aja gratis. Lha ini kok mbayar ya? Mungkin Indonesia lebih kaya kali ya ketimbang ini state. Secara, di Soekaro-Hatta gratis gitu loh. Berarti kan emang sudah ada dananya. Sedangkan Colorado ini emang kurang dana kali yak? Ampe-ampe yang begituan dimintai biaya. Fiuh...

"Yah sudahlah, lumayan, dapat gratisan".

Kali ini aku dorong-dorong si kereta. Lumayan, beban sedikit berkurang.

Aku terus mengikuti papan petunjuk demi menemukan loket Great Lake. Dan tak jauh dari tempat aku mengambil kereta dorong, aku berhenti di depan eskalator.

"Masya Allah, jadi aku harus naik nih eskalator? Mana si kereta gak bisa naik nih eskalator lagi. Aih, ngapain juga guwe repot-repot ambil nih kereta".

Akhirnya aku kembalikan lagi tuh kereta ke tempatnya. Aktivitas seret menyeret koper kembali dilakukan. Inilah rasa dari sebuah kesia-sian... T__T

Singkat cerita, alhasil, ketemu juga tuh loket. Ternyata di salah satu pojok bandara T__T. Kalau melihat beberapa loket pesawat yang lain, mereka dipenuhi dengan antrian panjang. Lha, loket yang ini kok gak ada antriannya ya? Ya sudah, tanpa pikir panjang aku langsung urus administrasinya. Toh aku juga gak perlu ngantri. Ngomong bla...bla.. bli...bli... nunjukin passport yang sudah berisi Visa J-1, DS-2019 dan Form I-94 (form I-94 didapat dari hasil wawancara di San Fransisco, dan form-form itu gak boleh ilang!), trus nyerahin ntuh koper gede buat check-in. Dan dapat tiketnya ^_^.

Pencarian sesi 3 kembali dimulai. Pencarian gate keberangkatan.
"Nyari lagi, nyari lagi... T__T"

Kali ini aku bener-bener dikerjain sama si bandara. Sudah naik, turun lagi. Sudah turun, naik lagi. Putar sana, putar sini.

"Hah! Ini gimana sih petunjuk...?!! Katanya naik, sekarang disuruh turun.Ya kalo gak bawa apa-apa, ini kan bawa tas ransel ma tas laptop. Ini kalo kaki ada pengukur jaraknya, dah berapa kilometer aja gua jalan ya? Hadu...hadu..."

Dan ternyata, tanda panah ke bawah (gambar a) memiliki arti kalau yang Anda cari berada di level ini, bukan berarti turun. Hadu..hadu...


Bagi pembaca Note pada Facebook, mungkin akan tampak aneh bila melihat gambar di bawah. Karena Note pada Facebook tidak bisa menampilkan tag html untuk membuat table. Tag tersebut kubuat untuk menata gambar di bawah ini





a. Ada di level ini
b. Naik c. Turun


Setelah menyadari hal itu, akupun kembali melakukan pencarian lagi. Aku mulai merasakan berada di jalan yang benar. Setelah melewati koridor yang panjang, sampai juga di gate tempat aku akan diberangkatkan. Tapi kali ini aku di level paling bawah. It means, aku masuk ke pesawat gak lagi lewat lorong dinamis. Kali ini aku harus jalan di bawah untuk menuju pesawat. Pas di loket, seorang petugas cantik, sumpah kali ini benar-benar cantik (Astagfirullah, Alhamdulillah), menyambutku. Kembali ngurus admnistrasinya.

Akupun menunggu sambil duduk di kursi, dan bukan di closet. Aku baru tahu ternyata pesawat yang akan aku naiki ini bukan pesawat besar seperti yang sudah aku naiki di penerbangan sebelumnya. Pantes aja tadi di loketnya sepi. Kapasitasnya juga dikit.

Jam sudah menunjukkan pukul 7.00 pm, tapi matahari masih bersinar terik. Dan belum ada pengumuman untuk boarding.

"Lha gimana sih eneh? 15 menit lagi lho, kok belum boarding juga ya". Aku mulai gelisah.

Usut punya usut, ternyata penerbangannya bakal telat. Aduh! Padahal Mr. Shawn Bunning, my academic advisor, mau njemput. Lah kalo telat gimana coba? Aku mulai tak tenang. Aku teringat pada dua kartu telepon yang diberikan oleh Aminef dari World Learning.

"O ya, aku bisa pake tuh kartu buat nelpon Shawn. Tapi gimana make nya ya? Tanya ah..." Akupun bertanya pada seorang wanita negro berambut pendek.

"Excuse me, do you know how to use this card?" Tanyaku sambil menunjukan kartu telepon.
"Oh, I think you just follow the instruction. First, you have to... bla...bla...bla..." Dia mulai menerangkan.
"Can it work on that public phone?" Tanyaku lagi sambil menunjuk ke sebuah telepon umum.
"I think so"
"OK, thank you very much"
"You're welcome"

Langsung deh pencat-pencet nomor telepon. Dan... It works, babe...!!!
"Hello.." ada suara menjawab.
"Hello, I'm Yugo, a Fulbright Global Ugrad scholar from Indonesia. Is this Mr. Bunning?"
"O yeah. What's up Yugo?"
akupun menjelaskan duduk perkaranya kepadanya. Dan dia kedengarannya mengerti. Pembicaraan berakhir.

"Ah, nelpon rumah ah...". Aku kembali mencat-mencet nomor telepon

"Halo..." Ternyata Mbak Indah yang ngangkat. Pembantu di rumah. (Maaf kalo ada yang namanya Indah, namanya mirip ama pembantu di rumahku, hehehehe...)
"Mbak Indah, niki Yugo" Aku mulai bicara dengan bahasa jawa versi Tegal yang halus.
"Oh Mas Yugo, pripun Mas?"
"Mamah pundi, Mbak?"
"Dereng kondur Mas Yugo"
"Oh nggeh sampun, sanjangaken teng Mamah yen Yugo sampun tekan Amerika, nggeh.."
"Oh nggeh..."
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam"

Ah, plong juga rasanya. Sekarang tinggal melakukan salah satu pekerjaan yang paling membosankan. Menunggu.

Jam demi jam berlalu. Tapi belum juga ada pengumuman untuk boarding. Sekitar jam 10.00 pm akhirnya tiba juga waktu boarding. Aku dan beberapa penumpang lain mulai berjalan menuju pesawat yang berkapasitas hanya untuk belasan orang. Kamipun masuk. Tak ada pramugara/i yang menyambut.

"Jiah! Kecil bet nih pesawat. Tak ada AC. Ini pesawat apa bemo terbang yak? Kok kasihan gini...?"

Kemudian, seorang cowok macho, bisa dibilang tampan, (cowok normal tentu tetep bisa ngebedain mana cowok jelek, biasa-biasa aja, ato yang tampan kan?) berseragam keluar dari kursi co-pilot. Dia memperkenalkan diri dan angkat bicara. Dia mulai memberitahu prosedur keamanan di pesawat. Setelah puas ngomong, dia kembali ke kursi co-pilot.

Pesawat, atau yang lebih mirip bemo terbang, mulai mengangkasa.

"Beugh kasar bener yak? Gluduk-gluduk gini..." Pokoknya agak jauhan lah dari yang namanya "nyaman".

Singkat cerita, pesawat sudah tinggi diangkasa. Pemandangan kota Denver, ibukota Colorado, tampak indah dilihat dari langit. Terbang dengan pesawat beginian membuat pikiran yang macam-macam muncul di kepala.

"Tapi serem juga ya. Ini kalo pesawat tiba-tiba aja mesinnya mati dan ngoenng... Bummp...!!! Badanku jadi kaya apa ya? Hmmmm..."

Sejam kemudian, tibalah kami (aku dan penumpang-penumpang yang lain) di Laramie Airport.


Laramie Airport

Begitu turun dan masuk ke ruangan, seorang pria muda tinggi semampai, berambut pirang, berkacamata tampak tersenyum memandangku. Hidungnya itu lho, beugh...!! Mancung abis. Hidungnya begitu ramping dengan punggung hidung yang tampak setajam katana (Haiyyah lebay...) dan ujung hidungnya meruncing. Baru kali ini aku liat hidung sebagus itu secara langsung.

"Hi, I'm Shawn" Dia langsung tau itu aku karena dia punya fotoku. Berasa jadi seleb hehehehe..., haiyyah...
"Hi, I'm Yugo. Nice to meet you. Have you been here for all along?"
"No, I'm from home. I was just called that your flight was delayed and wolud arrive about 11.00 pm".
Hah, ditelpon? Kalau liat cara dia bicara, ada orang lain yang meneleponnya selain aku. Jadi selama perjalanan aku tuh dimonitoring ya? Wew...

Sambil ngobrol, kami keluar menuju ke mobil. Aku terkejut. Lho, bandaranya kecil bet! Baru masuk dari pesawat menuju ruangan, beberapa langkah kemudian aku sudah di lapangan parkir. Baru kali ini aku lihat bandara sekecil ini.

Aku hendak masuk mobil. Dan ternyata aku akan masuk ke kursi supir.

"Ah iya! Ini kan USA, stirnya di kiri. Lupa aing... hadu..hadu..."

Sembari ngobrol, kami terus bergerak menuju kawasan universitas. Sabana yang terhampas luas kami lewati. Tampak ada seekor antelope diantara remang cahaya. Tampak pula rumah-rumah yang dibuat dari bahan utama kayu, lngkap dengan basement-nya. Semua rumah di sini tampaknya dilengkapi dengan basement. Dan juga, rasanya aneh berjalan di sisi kanan jalan. Pas ada mobil melintas dengan arah berlawanan, seakan-akan mereka akan menabrak kami. Ya karena kami bergerak di sisi kana jalan, yang mana aku terbiasa berjalan di sisi kiri jalan.

Tak lama, sampailah kami di depan asramaku. Berhubung aku belum makan, Shawn menawariku makan malam di Subway (salah satu restoran cepat saji, terkenal di Amrik lho gara-gara ada dimana-mana. Bahkan aku malah belum liat Mc D disini) dekat asrama.

Kami masuk ke Subway. Seorang pelayan menyambut.
"^%&^G!@Vbn+_97#$$%(....?"
"Eh? Pardon me please..." Sumpah, itu pelayan ngomong apa aku gak mudeng. Cepat dan seakan-akan antar kata menyatu membentuk dengungan-dengungan tak jelas.
"&^%$#$#^(juyt*(-%$$#...?"
"What...?" Tambah bingung...

Meihat kondisi yang seperti itu, Shawn langsung ambil tindakan. Dia mulai menjelaskan semuanya. Tentang makanannya, jenis-jenisnya, semuanya, termasuk mana yang mengandung babi dan mana yang tidak. Nah, kalo dia yang ngomong aku mudeng, tapi kok pelayan itu enggak ya? Apa faktor pendidikan mempengaruhi? Kalo Shawn yang ngomong lebih bahasanya terdengar understandable dan tertata rapi. Lah kalo si pelayan itu, paham aja enggak... T__T

Setelah kelar, kami menuju ke asrama, McIntyre Hall. Shawn langsung menguruskan kartu sementara untuk tinggal di asrama. Kartu ini diperlukan supaya aku bisa masuk ke asrama. Kartu tersebut kartu magnetik yang aku perlukan untuk masuk ke asrama termasuk kamar mandinya. Masuk Asram gesek dulu, masuk kamar gesek dulu, dan masuk toilet juga gesek dulu. Kalo keluar kamar, tapi kartunya tertinggal gimana? Mampus loe...!

Setelah beres, Shawn mengantarku kamar. Di kamar, dia ngejelasin semuanya. Tentang penggunaan telepon, denah kampus, termasuk nomor kamar teman-teman yang seprogram denganku. Setelah dianggap beres, dia berpamitan dan pergi.

Aku melihat jam tangan, hampir tengah malam. Aku beranjak ke kamar mandi, setelah itu gosok gigi. Ambil air wudhu di wastafel kamar. Setelah selesai wudhu, aku keluarkan sajadah, kompas, dan catatan tentang arah kiblat yang sudah aku siapkan dari rumah.

"Hmmm... 34.066 derajat dari arah utara searah jarum jam." Persiapan selesai. Shalatpun aku tunaikan.

Setelah beberes semuanya, aku keluarkan kembali kartu teleponku untuk menelepon ibuku. Kali ini aku coba menelepon langsung ke hapenya. Soalnya kalo telepon rumah pasti ibuku belum pulang dari SD. Maklum, cuma guru SD. Dan, berhasil.

Begitu diangkat, ibuku kaget dan kedengaran gembira. Ibuku bilang dia sempat menangisi baju-bajuku, kamarku, dan semua propertiku di rumah gara-gara aku gak bisa dihubungi selama perjalanan. Apalagi ini perjalanan internasional yang aku belum pernah melakukannya sebelumnya. Jangankan terbang, ke bandara saja tak pernah. Orang tua mana yang tak khawatir. Jangankan orang tua, lha wong aku saja khawatir dengan keselamatanku sendiri kok.

Setelah ngoborol beberapa menit, kami mengakhiri pembicaraan. Waktunya untuk tidur.

"Ya sudah waktunya tidur. Besok aku harus ikut tes Bahasa Inggris". Baru nyampe tengah malam dari perjalanan jauh besoknya harus tes Bahasa Inggris. Agak sedikit gila memang, tapi ya mau gimana lagi. Lampu kumatikan dan aku mulai memejamkan mata.

Sebelum terlelap, aku merenung. Subhanallah, aku tiba di USA dengan selamat sekalipun dilalui dengan berbagai tindakan bodoh. Aku di USA. Di USA, di luar negeri. Aku hampir tak percaya dengan kenyataan ini. Seperti mendapat keajaiban. Boleh dibilang ini adalah prestasi terbesarku. Mungkin beberapa dari teman-teman pembaca blog ini menganggap belajar di USA bukan hal yang luar biasa. Tapi ini luar biasa buatku. Secara teori, keluargaku hampir tak mungkin membiayaiku untuk belajar keluar negeri. Penghasilan orang tuaku selama sebulan saja tak mencukupi untuk biaya hidupku selama sebulan di USA. Tapi Allah memiliki sifat Iradah. Dia berkehendak atas segala sesuatu, Dia berkuasa atas segala sesuatu. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Dan lagi, perjalanan ini menjadi sebuah momen tak terlupakan, meninggalkan sebuah kesan tersendiri. Bahkan sampai saat ini pun aku masih merasakannya, rasa takutnya, khawatirnya, stresnya. Anyway, semuanya menjadi pengalaman berharga. Sekarang saatnya menatap masa depan. Tak lama kemudian aku pun terlelap.


TAMAT

=================
Saya ucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada teman-teman pembaca yang sudah rela meluangkan waktu untuk membaca blog ini. Baik yang membaca dari part I sampai part V, atau yang cuma satu episode saja. Baik yang membaca langsung di blog, ataupun yang diumpan ke Facebook. Saya tak mengira bakal sepanjang ini ceritanya. 5 episode. Semoga cerita ini bisa memberikan manfaat bagi teman-teman pembaca sekalian, amin. Dan jangan lupa untuk membaca kisah-kisah saya selanjutnya tentang pengalaman-pengalaman lain di USA.

Saturday, October 17, 2009

Dari Jakarta ke USA - Part IV

Bismillahirrahmanirrahim. Akhir-akhir ini lagi banyak kesibukan dan gak dapet mood yang cocok buat nulis, jadi lama banget update-nya. Maaf sudah mengecewakan pembaca. Anyway, Alhamdulillah, bisa ngeblog juga. Ya sudah, mari dibaca kelanjutan kisahku di serial "Dari Jakarta ke USA - Part IV"



Bagi yang belum baca epsode sebelumnya dan ingin membacanya, silahkan klik link berikut:

Atau bisa dilihat di note-ku sebelumnya. ^_^
Bagi pengguna komputer, langsung saja menuju blog aslinya biar lebih enak mbacanya. Klik di sini.


Sekedar mengingatkan, berhubung kapasitas tag cuma 30 doank, maka yang di-tag cuma yang komen di episode sebelumnya (exactly the previous episode). Kalo masih sisa, maka penulis akan men-tag secara random. Kalo yang komen di episode sebelumnya lebih dari 30 gimana? Ya 30 komentator pertama yang di tag. Kalo si 'A' komen berulang kali di episode yang sama tetap dihitung sekali. Tak berlaku kelipatan (kaya voucher belanja aja...)

OK, sampai dimana ceritanya? O ya, di cerita sebelumnya aku sudah dalam pesawat dengan nomor penerbangan UA 838 keberangkatan Tokyo menuju San Fransisco. Dan yang jadi fenomena, aku terbang pada pukul 04.05 pm, 26 Juli 2009 waktu setempat dan tiba pada pukul 09.20 am, 26 Juli 2009 waktu setempat (Jamnya mundur). Dan aku juga shalat fardhu 10 kali dalam tanggal yang sama. Hmmm... Kenapa ya?

Inilah anehnya kalo berpergian melewati garis bujur 180 derajat. Kita jadi seakan-akan melewati lorong waktu, mundur sehari. Belahan bumi timur mendapat sinar matahari terbit lebih dulu jadi belahan bumi mendapati tanggal baru lebih dahulu dari pada belahan bumi barat. Saat Tokyo jam 04.05 pm, 26 Juli 2009, maka USA mainland bagian barat masih jam 01.05 am, 26 Juli 2009. Nah berarti Jepang sudah mengalami matahari terbit (bahkan hampir tenggelam) tapi USA mainland bagian barat belum mengalaminya (bahkan umur tanggal 26 baru 1 jam). Nah, saat aku terbang ke barat (masih dalam belahan bumi timur) aku mengalami sunset. Esoknya (masih dalam pesawat) aku mengalami sunrise dan aku sudah berada di belahan bumi barat. Tapi itu bukanlah sunrise untuk tanggal 27 Juli 2009, tapi sunrise untuk tanggal 26 Juli 2009. Ingat! Bagian timur mendapat sinar matahari terbit lebih dahulu dari pada bagian barat. So ini gilirannya belahan bumi bagian barat untuk mendapatkan sunrise. Jadi, sunrise kali ini adalah sunrise yang kedua yang aku alami pada tanggal 26 Juli 2009(sunrise pertama aku alami di Singapura). Dan sunset ke dua alami di Denver, ibu kota negara bagian Colorado.

Lah trus, kenapa ampe shalat fardhu 10 kali? Bukannya cukup 5 kali saja? Ya aku pake dalil umumnya saja. Sekalipun aku mengalami tanggal 26 lebih lama daripada biasanya, tapi secara prkatek itu tetap 2 hari (2 kali sunrise dan 2 kali sunset gitu loh). Aku menjalani tanggal 26 selama 37 jam*, dari Singapura hingga USA (kok 37 jam? lihat penjelasannya di bagian akhir postingan ini). Nah, kan sudah ditetapkan waktu-waktu shalat. Ya sudah, kalau aku melihat mega merah saat matahari tenggelam berarti waktu shalat Maghrib, saat matahari tenggelam dengan sempurna maka itu tanda waktu shalat isya, saat Fajar mulai menampakkan tanda-tandanya, maka waktu shalat shubuh telah tiba, dan seterusnya. Aku berpatokan pada tanda-tanda itu, tak peduli tanggal berapa saat itu. Jadi total shalat fardhu yang aku jalani pada tanggal 26 Juli 2009 ada 10 kali.

OK, kembali ke alur cerita...

Saat terbangun di waktu fajar (masih tanggal 26 Juli neh...) aku menunaikan shalat shubuh dalam pesawat. Aku bangun hanya mengandalkan ritme biologisku yang biasa bangun di waktu shubuh dan pertolongan Allah. Karena jam saat itu hampir tiada gunanya. Soalnya zona waktu terus berubah gara-gara aku terus bergerak. Apalagi beda zona beda waktu shalat (Itulah manfaat mengetahui tanda-tanda waktu shalat, so jangan hanya sekedar mengandalkan jam). Setelah selesai shalat shubuh, aku coba membuka sedikit penutup jendela.

"Wah, masih gelap".

Setelah agak terang, aku coba melihat ke arah luar kembali.

"Wah, ternyata masih diatas samudra pasifik. Tapi airnya gak keliatan euy. Ketutupan awan"

Aku melihat di layar, terdapat informasi tentang temperatur suhu di luar pesawat. Ternyata lumayan jauh di bawah 0 derajat celcius. Tapi berhubung di atas awan dan uap air juga sudah sangat rendah, aku tak menjumpai es yang pada nempel di pesawat. Lagian pesawatnya kan terbang dengan kecepatan tinggi, kalaupun ada butir es pasti dah terbawa angin. Tapi ternyata aku sempat melihat beberapa titik kristal-kristal es dengan bentuknya yang khas yang mungkin berasal dari uap air yang terjebak diantara kaca jendela (jendela pesawat itu brelapis).

Tiba-tiba terlintas dipikiranku tentang keluargaku di Indonesia. Aku teringat saat ibuku meneleponku saat aku masih di Singapura. Ternyata menerima telepon di luar negeri itu kena charge, mahal pula. Saat aku lihat pulsaku, hanya tersisa 200 sekian rupiah. It means, aku gak bisa ngapa-ngapain, kecuali menerima sms doang. Sudah banyak aku menerima sms dari ibuku. Ibuku bilang dia tak bisa menghubungiku. Ya bagaimana bisa, pulsaku sudah di ambang batas, balas sms juga tak bisa. Dari pesan-pesannya, aku merasakan ibuku sangat khawatir karena tak bisa menjangkauku melalaui ponselku. Tapi aku bisa apa?

"Wah, pasti mamah khawatir dan kemungkinan besar dia nangis terus. I know her well..."

Tapi akupun tak bisa ikut-ikutan berkhawatir ria. Aku harus konsen dan berhati-hati pada perjalananku. Apalagi ini first time buatku. Aku hanya bisa berdoa...

"Hasbunallah wani'mal wakil, ni'mal maula wani'mannasir",
Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.

Tak terasa, pesawat sudah mendekati bandara. Peswat beberapa kali berputar-putar diatas awan. Dan ternyata, land-nya gak keliahatan, hanya awan dan awan. Tapi berkat sistem radar dan navigasi, akang pilot dan co-pilot bisa menemukan lokasi landasan.

Pesawat mulai terbang merendah. Aku merasakan kepala peswat sudah lebih rendah dari pada ekornya. Dan pesawat pun menembus awan yang bertempuk-tumpuk. Wow! Seperti kabut dan asap tebal saja. Aku jadi teringat pikiranku tentang awan waktu masih duduk di Taman Kanak-kanak. Aku kira awan itu suatu yang padat sehingga aku bisa berdiri dengan mapan diatasnya. Ternyata tidak demikian, hehehehe...

Di San Fransisco International Airport

Alhamdulillah, pesawat sudah mendarat di San Fransisco International Airport. Wew, ternya panas juga. Dan, berhubung San Fransisco adalah first entry point-ku di USA, praktis aku harus mengurus status keimrigasianku. Aku berdoa moga-moga aku tidak terkena second interview. Ternyata Allah berkehendak lain. Ya sudah...

Apa itu second inteview? Sebenernya nama resminya bukan second interview, tapi apa gitu... Lupa saya. Semenjak peristiwa runtuhnya gedung kembar WTC di NYC, USA menjadi lebih phobia. Sistem di bandara menjadi lebih ketat. Bahkan ngurus Visanya pun lebih ribet dari pada negara-negara lain. Nah, tiap warga negara asing yang akan memasuki wilayah kedaulatan USA, mereka akan di wanwancarai secara singkat. Tapi gak kaya ngelamar kerjaan. Tapi walaupun singkat tapi kan yang ngantri bejibun, tetep aja lama. Nah itu first interview. Second interview itu dilakukan secara acak (gak tau juga sih sistemnya gimana, tapi yang jelas gak semua ngalami second interview). Yang kena second interview itu biasanya yang laki-laki. Dan barang siapa yang kena second interview, harus melapor saat dia meninggalkan USA. Kalo enggak? Jangan harap bisa masuk USA lagi.


denah San Fransisco International Airport

Dan akhirnya aku dibawa ke tempat khusus. Ngantri lagi, Hhhh... Kali ini ngantrinya lama banget. Dan ternyata, aku ketemu Bang Simon lagi.

"Jiah! Kena second interview loe, Bang?"
"Iya neh..."

Setelah mengisi beberapa formulir, aku duduk di kursi tunggu.

Dan gara-gara second interview ini, jadi banyak yang ketinggalan pesawat. Untungnya aku tiba di SF airport jam 9:20 am dan keberangkatanku yang berikutnya jam 13:54 pm. Masih ada banyak waktu.

Ada seorang bapak-bapak dari negeri Tiong Kok, dia gak bisa Bahasa Inggris. Tapi emang Chinese itu dimana-mana. Jadi dia gak begitu bermasalah. Chinese itu dah kayak bahasa kedua di USA. Di mana-mana ada aja orang yang ngobrol pake Bahasa China. Bahkan salah satu petugas di ruangan itu orang China (atau keturunan ya? Yang jelas mukanya muka muka orang China). Ya sudah si bapak-bapak itu ditanyain pake Bahasa China.

"Wah enaknya. Aku harus belajar Bahasa Inggris dulu biar bisa sampe ke USA. Lah dia... Waaa... Btw, ada yang dari Indonesia gak ya heheheh... Keknya gak ada deh..."

Akhirnya Bang Simon dipanggil. Dia dibawa keluar, entah kemana. Sejak saat itu aku tak bertemu dengannya lagi. Ruangan makin sepi saja.

Singkat cerita, namaku di panggil. Aku di bawa keluar. Ternyata aku dibawa ke tempat first interview, hanya beda loket saja. Ditanya ini, itu, tinggi badan, berat badan, de el el.

"Ini wawancara buat masuk USA apa buat ngedaftar male model sih, sampek ditanya begituan..."

Akhirnya kelar, dan aku segera menuju Bagage Claim. Aku mendapati Koperku yang gedhe sudah tergeletak. Aku segera membuka kunci koperku. Soalnya kalo gak dibuka, pihak bandara akan memaksa membukanya untuk diperiksa. Kalo dipaksa ya rusak lah...


kondisi salah satu koridor di San Fransisco International Airport


Kemudian aku menuju tempat check-in baggage.

"Hmmm... petugasnya ramah juga ya.."

Sekali lagi sebelum memasuki Terminal, aku diperiksa. Tas ku, sepatuku, badanku, semuanya deh. Aku melihat begitu banyak orang bule, negro, dan ras internasional lainnya. Begitu fasihnya mereka berbahasa Inggris, sampe-sampe aku gak paham mereka ngomong apa...

"Beugh, guwe di USA... di USA bro...!!!  USA...!!! Waaa...!!!" Rasanya gimana gitu... [udik mode is ON]

Langsung aja aku menuju Terminal 3 untuk menuggu di lobby tunggu. Setelah menunggu lama di lobby, aku baru nyadar aku salah gate.

"Masya Allah... salah to...?"

Lansung saja aku sambar tas ransel dan laptopku. Aku langsung meluncur ke Gate yang benar.

"Alhamdulillah, I can make it in time..."

Tak lama kemudian aku masuk ke kabin pesawat. Kali ini pesawatnya lebih kecil. Maklumlah penerbangan domestik, ngapain juga gede-gede. Aku melewati ruang kelas eksekutif. Keren euy... Tapi bagiku kelas ekonomi sudah mantap, kayak di bis eksekutif rasanya. Dapat earphone, selimut, makanan dan minuman lagi. Dan lagi, aku duduk di samping jendela. di samping seorang cewe bule yang asik ngobrol dengan temannya melalu ponsel.

Pesawat United Airlines dengan nomor penerbangan UA720 mulai mengangkasa menuju Denver , Colorado...

Sehabis shalat dhuhur yang di jama' dengan ashar, aku coba melihat daratan di Benua Amerika bagian utara ini. Kering bet dah...

Eh, cewek sebelahku ngajak ngobrol. Mungkin penasaran kali ya liat wajah ras melayu. Ya sudah akhirnya kami ngobrol. Aku bertanya pada si cewek,

"What's that? Is that desert?" tanyaku sambil menunjuk ke arah luar?
"What?" Matanya tampak menunjukkan ekspresi bingung.
"Is that desert?" Ulangku.
"Oh, do you mean desert?" tanyanya.
"O yeah..." Tau gak, ternyata aku salah melafalkan desert. Aku melafalkan "desert" seperti "dessert", yang berarti makanan penutup. Jiah... Malunya....
Akhirnya dia ngejelasin kalo itu bukanlah gurun, hanya daratan kering karena kecilnya jumlah hujan. Dia banya cerita tentang lingkungan daerah situ.

.....

Di Denver Airport

Singkat cerita, pesawat yang aku naiki mendarat di Denver Airport. Di sinilah bandara yang paling menyebalkan dan membingungkan yang pernah aku masuki...

Bersambung...
Nantikan kisahku selanjutnya...


=============
* Kenapa 37 jam? Perhatikan. Aku mulai menjalani tanggal 26 Juli 2009 pukul 00.00 di Singapura. Zona waktu singapura sama dengan WIB. Aku mengakhiri tanggal 26 Juli di USA jam 00:00 27 Juli 2009. Untuk menghitung jumlah jam yang kita lalui kita harus menggunakan zona waktu yang sama. Saat USA jam 00:00 27 Juli 2009, di singapura sudah pukul 13.00 27 Juli 2009. Nah dari jam 00:00 26 Juli hingga 13:00 27 Juli 2009 berapa jam tuh? 37 jam toh?

Monday, September 7, 2009

Free Download Bleach

xjbhr72c9u Free Download Beach. The story opens with the sudden appearance of one of the Soul Reapers (死神, shinigami, lit. "death god"), a military order who escorts the souls of the dead, named Rukia Kuchiki in teenager Ichigo Kurosaki's bedroom. She is surprised at his ability to see her, but their conversation is interrupted by the appearance of a "hollow", an evil spirit who was originally a human soul. After Rukia is severely wounded while trying to protect Ichigo, she attempts to transfer half of her reiatsu (霊圧, lit. "spirit pressure") to Ichigo in order to let him face the hollow on equal footing. Ichigo unintentionally absorbs almost all her energy, allowing him to defeat the hollow with ease. The next day Rukia appears in Ichigo's classroom as a seemingly normal human, and informs Ichigo that his absorption of her powers has left her stranded in the human world until she recovers her strength. In the meantime Ichigo shelters Rukia in his home and takes over her job as a Soul Reaper, battling hollows and guiding lost souls to the afterlife realm known as Soul Society (尸魂界(ソウル·ソサエティ), Sōru Sosaeti).

After a few months of this arrangement, in the sixth volume of the series, Rukia's Soul Reaper superiors find out about her giving her powers away (which is illegal in Soul Society) and send a detachment to arrest her, and sentence her to death. Ichigo is unable to stop Rukia's capture, but with the help of several of his classmates who also possess spiritual abilities and ex-Soul Reaper Captain Kisuke Urahara, he sets off for the Soul Reaper base, located in Soul Society. Once there, Ichigo and company battle against the elites of the Soul Reaper military, and are ultimately successful in halting Rukia's execution.

It is then revealed that Rukia's execution and Ichigo's rescue attempt were both manipulated by Sōsuke Aizen, a high ranking Soul Reaper previously believed to be murdered, as part of a far-reaching plot to take control of Soul Society. Aizen betrays his fellow Soul Reapers and allies himself with the strongest hollows, arrancar, becoming the main antagonist of the series, and Ichigo teams up with his former enemies in Soul Society after learning that the next step in Aizen's plan involves the destruction of his hometown. However, Ichigo goes with a few friends to the Hollow's world, Hueco Mundo (虚圏(ウェコムンド), Weko Mundo), in order to rescue their friend Orihime Inoue who was kidnapped by Aizen in order to reduce the number of Soul Reapers defending Soul Society. At this point, Bleach chronicles the war between Aizen and the Soul Society, a plotline which has not yet been resolved. According to Tite Kubo, the ending of the series is not yet planned out or written. [Source: http://en.wikipedia.org/wiki/Bleach_(manga)]

Do you wanna download this Animé? Just do it. Enjoy!













[reference: http://www.cyber12.com/]