Use Mozilla Firefox for The Best Performance

Scholarship: Fulbright Master’s Degree Program 2010


Assalamu'alaykum, this time I just want to share about scholarship to USA for Indonesian fellows. I hope you can get benefits from this information. I wish Indonesian students can get a better and higher education. I am also a Fulbright Grantee Scholar, and one thing you need to know that Fulbright program gives you a big opportunity to study abroad, in USA. Get a better education, brighter future, and help Indonesia to reach welfare and prosperity.

For you that PC/laptop user you can directly go to: http://www.yugoananda.com/2010/02/scholarship-fulbright-masters-degree.html

FULBRIGHT MASTER’S DEGREE PROGRAM


Preference will be given to applicants who serve as faculty members of state and private institutions of higher education in Indonesia. Applicants will possess:
  • a Bachelor (S1) degree with a minimum GPA of 3.0 (4.00 scale)
  • leadership qualities
  • a good understanding of Indonesian and international cultures demonstrated commitment to the chosen field of study
  • a willingness to return to Indonesia upon completion of the Fulbright program
  • a minimum institutional TOEFL score of 550 or IELTS score of 6.0

HOW TO APPLY

Candidates should complete the appropriate application forms. Forms are available either by mail or in person at the AMINEF Office, Gedung Balai Pustaka, 6th floor, Jl. Gunung Sahari Raya 4, Jakarta 10720.

Please return to AMINEF your complete application package by the application deadline that includes:

  • Completed application form. This includes a clearly written and concise study objective.
  • Copy of your most recent, less than two years old, institutional TOEFL or IELTS score report.
  • One letter of reference, either from your current employer or previous lecturer.
  • Copy of academic transcript (English translation). 
  • Copy of identity document (KTP or passport)


CONTACT INFORMATION

Specific questions regarding the application process may be addressed via e-mail to the following address: infofulbright_ind@aminef.or.id. We do not accept email applications. Hard copies must be sent or delivered to American Indonesian Exchange Foundation.


DEADLINE

The deadline for the submission of application materials for all programs is April 30, 2010.

***********************
Note: Program requirements are subject to change without notice.
The form can be downloaded here
Read More...

Get Free Report Ebook and $ 1 .00 per Lead


Assalamu'alaikum. Apa kabar semuanya? Kali ini saya posting tentang bisnis online lagi. Tentang apa lagi? Saya mau bagi-bagi info yang gratisan. Gratisan? Pastinya semangat dong dengar yang gratisan. Apa yang gratis? Sebuah report, e-book dari seoarang ahli internet marketing. Lumayan bisa buat nambah-nambah pengetahuan. Tapi ada plusnya lho. Apaan tuh? Kita bisa EARN MONEY dari situ. Suatu yang gratisan bisa mendatangkan keuntungan. Gimana caranya? Yups, simak aja terus...

Jujur aja, ceritanya lagi cari dana neh. So, saya dapat "tugas" promosikan ini report/ebook. Tenang aja, gratis kok. Kalo pengin ngerti tentang Internet Marketing bisa download ini report/ebook dan juga bisa sekalian nonton video seminar. Gratis. Download aja, gak rugi apa-apa. Sapa tau bisa bermanfaat. Dan tentunya membantu saya dalam mengumpulkan dana. Cukup dengan men-download, that's all you can do to help me. Insya Allah bermanfaat ^_^



Judul Seminar: Behind Closed Door
Pembicara: Russel Brunson

Judul Buku: The IM-Myth Report
Penulis: Russel Brunson

Download di sini atau di sini

Sekalian belajar meningkatan Reading Comprehension. Dan mungkin bisa membantu Anda mencari duit via internet. Hehehehe... Saya juga pernah lho dapat ratusan ribu dalam beberapa minggu, cuma gara-gara kurang istiqomah, jadi males dan berhenti. Sekarang mo mulai lagi, hehehehe...

Gimana cara downloadnya?

Perhatikan potongan gambar di bawah:




Isikan nama, nomor hp/telepon, dan email anda. Isikan dengan data yang sebenarnya, sebab Anda akan diberi notifikasi. Apalagi jika Anda ingin mendapatkan free interview dengan Russel Brunson.

Tuliskan nomer telepon Anda yang disertai kode negara. misalkan nomor hp Anda 08100000001 maka tuliskan +628100000001.

Setelah Anda mendaftar, Anda akan menerima email. Ini punya saya:




Saat itu maka Anda akan telah menjadi member. Pada halaman member, silahkan download report/ebook dan play video seminaarnya. Di halaman itu juga terdapat BONUS RAHASIA yang bisa Anda download. So, segera dafar, gratis! Klik di sini atau di sini.

Kalau hanya ingin sekedar download report/ebook-nya dan nonton video seminar dari Russel Brunson (ya sekalian bantu-bantu saya, hehehehe...) Anda tak perlu mengikuti contest-nya. Jadi tak perlu mengisi akun PayPal Anda. Tapi kalau mau ikutan, ya silahkan ^_^

Lalu bagaimana jika ingin earn money dari situs itu? Nah, segera setelah Anda mendaftar, Anda akan dibawa ke sebuah halaman baru. Pada halaman itu terdapat box seperti gambar di bawah ini:




Silahkan isi email Paypal Anda. Karena pembayaran dilakukan melalui Paypal. Ini sebenarnya referral contest yang diadakan oleh Russel Brunson. Cari sebanyak-banyaknya referral yang bisa Anda dapatkan dari tanggal 5 - 10 November 2009 (seperti yang sedang saya lakukan). 1 referral = $ 1.00. Jadi maksudnya, setiap rekan yang Anda ajak untuk mendownload report tersebut melalui link referral Anda, Anda akan mendaptkan $ 1.00. Dan pembayaran akan diberikan apabila Anda mempunyai referral setidaknya 20 orang.

Belum mendaftar? Daftarkan diri ini Anda dengan mengklik di sini atau di sini.

Pakai link referral saya ya, hitung-hitung sebagai ucapan terima kasih karena sudah menyebarkan info ini dan membantu saya yang sedang merantau di negeri orang.

OK, semoga bermanfaat.
Read More...

Dari Jakarta ke USA - Part V


Bismillahirrahmanirrahim. Di kisah sebelumnya, aku sudah sampai di Denver Airport pukul 17:31, 26 Juli 2009 waktu setempat. Di bandara inilah aku mulai merasa sebel, pusing, dan capek. Aku harus berputar-putar dulu di bandara ini lebih dari satu jam hanya untuk mencari Transfer Flight dan Gate tempat aku akan diterbangkan. Dan kali ini adalah penerbangan terakhir yang berarti episode terakhir dari "Dari Jakarta ke USA". OK, simak saja kelanjutan cerita perjalananku. Semoga bisa menambah wawasan.

Bagi yang belum baca epsode sebelumnya dan ingin membacanya, silahkan klik link berikut:

Atau bisa dilihat di note-ku sebelumnya. ^_^
Bagi pengguna komputer, langsung saja menuju blog aslinya biar lebih enak mbacanya. Klik di sini.


O ya, sebelum dilanjut, ada seorang pembaca di episode sebelumnya yang menanyakan makanan selama perjalanan. Alhamdulillah, aku tidak makan makanan haram, insya Allah. Saat dari Jakarta ke Singapura, aku mengggunakan Qatar (maskapai dari negeri Qatar, salah satu negeri di semenanjung arab). Pas aku tanya tentang kehalalan makanannya, si pramugari mengiyakan. Ketika perjalan dengan United Airlines (salah satu maskapainya USA), mereka tidak menyediakan menu babi. Mereka selalu memberi tahu terbuat dari daging apa makanannya. Dan kalau ada menu daging pasti yang mereka sediakan daging ayam atau sapi. Mungkin saat itu isu akan flu babi sedang santer-santernya, jadi pihak maskapai tidak menyediakan daging babi. Kalau wine sih ada. Tapi aku gak pernah minta.

Satu hal lagi, masalah shalat 10 kali dalam TANGGAL yang sama pada episode sebelumnya hanyalah sebuah hasil pemikiranku saja yang, insya Allah, didasarkan pada dalil yang jelas. Tapi hasil pemikiranku itu jangan dijadikan landasan dulu. Mungkin belum levelku untuk berijtihad dan hasilnya dijadikan landasan. Masih terlalu jauh. Silahkan cari dari sumber-sumber yang reliable. Kalau sudah dapat, silahkan beri tahu saya ya... :D


Denver International Airport

Aku melewati lorong dinamis yang menghubungkan antara badan pesawat dengan gate (Jadi aku tak perlu repot-repot turun ke bawah). Sambil menggendong ransel dan menjinjing tas laptop (ada laptopnya lho, gak kosong [menekankan kalo barang bawaannya lumayan tak ringan :D ]), langsung saja kulangkahkan kakiku menuju Baggage Claim, karena check-thru-ku cuma dari Jakarta ke Denver. Dan ternyata tempat Baggage Claim itu banyak dan tidak hanya pada satu tempat. Yang satu di pojok sini, yang satu di pojok sana, dan yang lain entah dimana. Terus, koperku ada Baggage Claim mana? Langsung saja aku cek di display board. Aku mulai mencari-cari nomor penerbanganku dari San Fransisco menuju Denver.

"Yosh, itu dia. Kejar bro...!!!" (Maaf lupa di Baggage Claim nomer berapa).



[Ini dia yang kumaksud dengan lorong dinamis yang menghubungkan antara gate dan badan pesawat.]


Aku terus cari dan mencari dengan mengandalkan papan-papan petunjuk yang ada. Putar-putar, naik-turun eskalator...

"Hmmm... Kalo berdasarkan petunjuk berarti aku harus naik trem nih.." (Maaf lupa istilahnya, trem ato subway ya? Yang jelas bukan submarine :D Itu merupakan kereta sebagai transportasi di dalam bandara, keknya sih di dalam tanah.)

Aku pun masuk ke trem,
"Wah kayak di pelem-pelem neh..."

Keluar dari trem. Pencarian terus berlanjut. Setelah berputar-putar gak jelas, akhirnya nemu juga lokasi Bagage Claim. Fiuh...!



[Baggage Claim. Yang sudah biasa bepergian dengan airplane, pastinya gak asing dengan tempat macam ini]


"OK, saatnya liat jadwal penerbangan berikutnya"

Aku mulai mencari-cari daftar penerbangan yang ada di display board. Tapi aku tak menemukan United Airlines yang menuju ke Laramie. Setelah mikir-mikir,
"O ya, berarti bukan pake United Airlines. Mungkin ganti pesawat". Setelah kulihat tiket, memang nomor penerbangannya ZK5023Y. 2 huruf pertamanya ZK, bukan UA (yang berarti United Airlines). Aku kembali mencari di daftar yang ada pada display board. kali ini aku mencari penerbangan yang menuju Laramie. Ternyata hanya ada saru maskapai yang menuju Laramie, yaitu Great Lake. Pencarian kembali dilakukan, kali ini mencari loket Great Lake untuk transfer plane.

Sambil melangkah dengan gontai, kuseret-seret koperku yang gede. Dan aku tiba di selasar Denver Airport. Tampak banyak para penjemput yang akan menjemput para penumpang yang baru saja landing. Beberapa di antara mereka membawa papan yang bertuliskan sebuah nama.



[Inilah selasar Denver International Airport. Perhatikan di sebelah kiri taman. Di situ banyak para penjemput penumpang. Aku keluar dari koridor tersebut]


"Hmmm.. kok gak ada yang njemput guwe ya? Haiyyah... Kan belum nyampe Laramie. Ayo ah, satu penerbangan lagi. Semangat..."

Kegiatan muter-muter ini ternyata masih saja aku lakukan untuk mencari dimana loket Great Lake berada. Dalam proses pencarian, aku melihat baggace cart.

"Nah kalo pake kereta dorong itu kan gak perlu seret-seret koper...". Dan aku mendekati deretan bagagge cart.

Aku pegang satu, dan mulai menariknya dari deretan. Rodanya tuh disangkutin ke besi panjang, biar gak kemana-kemana ntuh kereta. Tapi setelah diujung besi, si kereta gak mau aku keluarin. It's stucked! Aku coba tarik-tarik, tetep gak mau keluar.

Tiba-tiba ada dua orang negro amerika yang akan mengembalikan kereta ke deretan.

"Hei, dude. You can't take the cart unless you pay five dollars", kata si negro itu sambil ketawa-ketiwi gara-gara melihat tingkahku yang teramat sangat 'ndeso'.
"Hah...?" Setelah kulihat, memang ada tulisannya.
"Hahaha... It's OK. You can take mine. Here..." kata si negro sambil ngasihin kereta dorong.
"Thank you so much". Mereka pun beranjak pergi.

Ternyata ada polisi bandara yang memperhatikan tingkahku yang bego tadi. Tampaknya dia akan mendekatiku tadi. Tapi berhubung ada yang ngasih kereta gratisan, dia kembali menjauh.

Beugh, matre juga nih state. Masa' cuma make kereta dorong beginian aja 5 dollar? Seket ewu, ndes! Dari Soekarno-Hatta ampe San Fransisco aja gratis. Lha ini kok mbayar ya? Mungkin Indonesia lebih kaya kali ya ketimbang ini state. Secara, di Soekaro-Hatta gratis gitu loh. Berarti kan emang sudah ada dananya. Sedangkan Colorado ini emang kurang dana kali yak? Ampe-ampe yang begituan dimintai biaya. Fiuh...

"Yah sudahlah, lumayan, dapat gratisan".

Kali ini aku dorong-dorong si kereta. Lumayan, beban sedikit berkurang.

Aku terus mengikuti papan petunjuk demi menemukan loket Great Lake. Dan tak jauh dari tempat aku mengambil kereta dorong, aku berhenti di depan eskalator.

"Masya Allah, jadi aku harus naik nih eskalator? Mana si kereta gak bisa naik nih eskalator lagi. Aih, ngapain juga guwe repot-repot ambil nih kereta".

Akhirnya aku kembalikan lagi tuh kereta ke tempatnya. Aktivitas seret menyeret koper kembali dilakukan. Inilah rasa dari sebuah kesia-sian... T__T

Singkat cerita, alhasil, ketemu juga tuh loket. Ternyata di salah satu pojok bandara T__T. Kalau melihat beberapa loket pesawat yang lain, mereka dipenuhi dengan antrian panjang. Lha, loket yang ini kok gak ada antriannya ya? Ya sudah, tanpa pikir panjang aku langsung urus administrasinya. Toh aku juga gak perlu ngantri. Ngomong bla...bla.. bli...bli... nunjukin passport yang sudah berisi Visa J-1, DS-2019 dan Form I-94 (form I-94 didapat dari hasil wawancara di San Fransisco, dan form-form itu gak boleh ilang!), trus nyerahin ntuh koper gede buat check-in. Dan dapat tiketnya ^_^.

Pencarian sesi 3 kembali dimulai. Pencarian gate keberangkatan.
"Nyari lagi, nyari lagi... T__T"

Kali ini aku bener-bener dikerjain sama si bandara. Sudah naik, turun lagi. Sudah turun, naik lagi. Putar sana, putar sini.

"Hah! Ini gimana sih petunjuk...?!! Katanya naik, sekarang disuruh turun.Ya kalo gak bawa apa-apa, ini kan bawa tas ransel ma tas laptop. Ini kalo kaki ada pengukur jaraknya, dah berapa kilometer aja gua jalan ya? Hadu...hadu..."

Dan ternyata, tanda panah ke bawah (gambar a) memiliki arti kalau yang Anda cari berada di level ini, bukan berarti turun. Hadu..hadu...


Bagi pembaca Note pada Facebook, mungkin akan tampak aneh bila melihat gambar di bawah. Karena Note pada Facebook tidak bisa menampilkan tag html untuk membuat table. Tag tersebut kubuat untuk menata gambar di bawah ini





a. Ada di level ini
b. Naik c. Turun


Setelah menyadari hal itu, akupun kembali melakukan pencarian lagi. Aku mulai merasakan berada di jalan yang benar. Setelah melewati koridor yang panjang, sampai juga di gate tempat aku akan diberangkatkan. Tapi kali ini aku di level paling bawah. It means, aku masuk ke pesawat gak lagi lewat lorong dinamis. Kali ini aku harus jalan di bawah untuk menuju pesawat. Pas di loket, seorang petugas cantik, sumpah kali ini benar-benar cantik (Astagfirullah, Alhamdulillah), menyambutku. Kembali ngurus admnistrasinya.

Akupun menunggu sambil duduk di kursi, dan bukan di closet. Aku baru tahu ternyata pesawat yang akan aku naiki ini bukan pesawat besar seperti yang sudah aku naiki di penerbangan sebelumnya. Pantes aja tadi di loketnya sepi. Kapasitasnya juga dikit.

Jam sudah menunjukkan pukul 7.00 pm, tapi matahari masih bersinar terik. Dan belum ada pengumuman untuk boarding.

"Lha gimana sih eneh? 15 menit lagi lho, kok belum boarding juga ya". Aku mulai gelisah.

Usut punya usut, ternyata penerbangannya bakal telat. Aduh! Padahal Mr. Shawn Bunning, my academic advisor, mau njemput. Lah kalo telat gimana coba? Aku mulai tak tenang. Aku teringat pada dua kartu telepon yang diberikan oleh Aminef dari World Learning.

"O ya, aku bisa pake tuh kartu buat nelpon Shawn. Tapi gimana make nya ya? Tanya ah..." Akupun bertanya pada seorang wanita negro berambut pendek.

"Excuse me, do you know how to use this card?" Tanyaku sambil menunjukan kartu telepon.
"Oh, I think you just follow the instruction. First, you have to... bla...bla...bla..." Dia mulai menerangkan.
"Can it work on that public phone?" Tanyaku lagi sambil menunjuk ke sebuah telepon umum.
"I think so"
"OK, thank you very much"
"You're welcome"

Langsung deh pencat-pencet nomor telepon. Dan... It works, babe...!!!
"Hello.." ada suara menjawab.
"Hello, I'm Yugo, a Fulbright Global Ugrad scholar from Indonesia. Is this Mr. Bunning?"
"O yeah. What's up Yugo?"
akupun menjelaskan duduk perkaranya kepadanya. Dan dia kedengarannya mengerti. Pembicaraan berakhir.

"Ah, nelpon rumah ah...". Aku kembali mencat-mencet nomor telepon

"Halo..." Ternyata Mbak Indah yang ngangkat. Pembantu di rumah. (Maaf kalo ada yang namanya Indah, namanya mirip ama pembantu di rumahku, hehehehe...)
"Mbak Indah, niki Yugo" Aku mulai bicara dengan bahasa jawa versi Tegal yang halus.
"Oh Mas Yugo, pripun Mas?"
"Mamah pundi, Mbak?"
"Dereng kondur Mas Yugo"
"Oh nggeh sampun, sanjangaken teng Mamah yen Yugo sampun tekan Amerika, nggeh.."
"Oh nggeh..."
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam"

Ah, plong juga rasanya. Sekarang tinggal melakukan salah satu pekerjaan yang paling membosankan. Menunggu.

Jam demi jam berlalu. Tapi belum juga ada pengumuman untuk boarding. Sekitar jam 10.00 pm akhirnya tiba juga waktu boarding. Aku dan beberapa penumpang lain mulai berjalan menuju pesawat yang berkapasitas hanya untuk belasan orang. Kamipun masuk. Tak ada pramugara/i yang menyambut.

"Jiah! Kecil bet nih pesawat. Tak ada AC. Ini pesawat apa bemo terbang yak? Kok kasihan gini...?"

Kemudian, seorang cowok macho, bisa dibilang tampan, (cowok normal tentu tetep bisa ngebedain mana cowok jelek, biasa-biasa aja, ato yang tampan kan?) berseragam keluar dari kursi co-pilot. Dia memperkenalkan diri dan angkat bicara. Dia mulai memberitahu prosedur keamanan di pesawat. Setelah puas ngomong, dia kembali ke kursi co-pilot.

Pesawat, atau yang lebih mirip bemo terbang, mulai mengangkasa.

"Beugh kasar bener yak? Gluduk-gluduk gini..." Pokoknya agak jauhan lah dari yang namanya "nyaman".

Singkat cerita, pesawat sudah tinggi diangkasa. Pemandangan kota Denver, ibukota Colorado, tampak indah dilihat dari langit. Terbang dengan pesawat beginian membuat pikiran yang macam-macam muncul di kepala.

"Tapi serem juga ya. Ini kalo pesawat tiba-tiba aja mesinnya mati dan ngoenng... Bummp...!!! Badanku jadi kaya apa ya? Hmmmm..."

Sejam kemudian, tibalah kami (aku dan penumpang-penumpang yang lain) di Laramie Airport.


Laramie Airport

Begitu turun dan masuk ke ruangan, seorang pria muda tinggi semampai, berambut pirang, berkacamata tampak tersenyum memandangku. Hidungnya itu lho, beugh...!! Mancung abis. Hidungnya begitu ramping dengan punggung hidung yang tampak setajam katana (Haiyyah lebay...) dan ujung hidungnya meruncing. Baru kali ini aku liat hidung sebagus itu secara langsung.

"Hi, I'm Shawn" Dia langsung tau itu aku karena dia punya fotoku. Berasa jadi seleb hehehehe..., haiyyah...
"Hi, I'm Yugo. Nice to meet you. Have you been here for all along?"
"No, I'm from home. I was just called that your flight was delayed and wolud arrive about 11.00 pm".
Hah, ditelpon? Kalau liat cara dia bicara, ada orang lain yang meneleponnya selain aku. Jadi selama perjalanan aku tuh dimonitoring ya? Wew...

Sambil ngobrol, kami keluar menuju ke mobil. Aku terkejut. Lho, bandaranya kecil bet! Baru masuk dari pesawat menuju ruangan, beberapa langkah kemudian aku sudah di lapangan parkir. Baru kali ini aku lihat bandara sekecil ini.

Aku hendak masuk mobil. Dan ternyata aku akan masuk ke kursi supir.

"Ah iya! Ini kan USA, stirnya di kiri. Lupa aing... hadu..hadu..."

Sembari ngobrol, kami terus bergerak menuju kawasan universitas. Sabana yang terhampas luas kami lewati. Tampak ada seekor antelope diantara remang cahaya. Tampak pula rumah-rumah yang dibuat dari bahan utama kayu, lngkap dengan basement-nya. Semua rumah di sini tampaknya dilengkapi dengan basement. Dan juga, rasanya aneh berjalan di sisi kanan jalan. Pas ada mobil melintas dengan arah berlawanan, seakan-akan mereka akan menabrak kami. Ya karena kami bergerak di sisi kana jalan, yang mana aku terbiasa berjalan di sisi kiri jalan.

Tak lama, sampailah kami di depan asramaku. Berhubung aku belum makan, Shawn menawariku makan malam di Subway (salah satu restoran cepat saji, terkenal di Amrik lho gara-gara ada dimana-mana. Bahkan aku malah belum liat Mc D disini) dekat asrama.

Kami masuk ke Subway. Seorang pelayan menyambut.
"^%&^G!@Vbn+_97#$$%(....?"
"Eh? Pardon me please..." Sumpah, itu pelayan ngomong apa aku gak mudeng. Cepat dan seakan-akan antar kata menyatu membentuk dengungan-dengungan tak jelas.
"&^%$#$#^(juyt*(-%$$#...?"
"What...?" Tambah bingung...

Meihat kondisi yang seperti itu, Shawn langsung ambil tindakan. Dia mulai menjelaskan semuanya. Tentang makanannya, jenis-jenisnya, semuanya, termasuk mana yang mengandung babi dan mana yang tidak. Nah, kalo dia yang ngomong aku mudeng, tapi kok pelayan itu enggak ya? Apa faktor pendidikan mempengaruhi? Kalo Shawn yang ngomong lebih bahasanya terdengar understandable dan tertata rapi. Lah kalo si pelayan itu, paham aja enggak... T__T

Setelah kelar, kami menuju ke asrama, McIntyre Hall. Shawn langsung menguruskan kartu sementara untuk tinggal di asrama. Kartu ini diperlukan supaya aku bisa masuk ke asrama. Kartu tersebut kartu magnetik yang aku perlukan untuk masuk ke asrama termasuk kamar mandinya. Masuk Asram gesek dulu, masuk kamar gesek dulu, dan masuk toilet juga gesek dulu. Kalo keluar kamar, tapi kartunya tertinggal gimana? Mampus loe...!

Setelah beres, Shawn mengantarku kamar. Di kamar, dia ngejelasin semuanya. Tentang penggunaan telepon, denah kampus, termasuk nomor kamar teman-teman yang seprogram denganku. Setelah dianggap beres, dia berpamitan dan pergi.

Aku melihat jam tangan, hampir tengah malam. Aku beranjak ke kamar mandi, setelah itu gosok gigi. Ambil air wudhu di wastafel kamar. Setelah selesai wudhu, aku keluarkan sajadah, kompas, dan catatan tentang arah kiblat yang sudah aku siapkan dari rumah.

"Hmmm... 34.066 derajat dari arah utara searah jarum jam." Persiapan selesai. Shalatpun aku tunaikan.

Setelah beberes semuanya, aku keluarkan kembali kartu teleponku untuk menelepon ibuku. Kali ini aku coba menelepon langsung ke hapenya. Soalnya kalo telepon rumah pasti ibuku belum pulang dari SD. Maklum, cuma guru SD. Dan, berhasil.

Begitu diangkat, ibuku kaget dan kedengaran gembira. Ibuku bilang dia sempat menangisi baju-bajuku, kamarku, dan semua propertiku di rumah gara-gara aku gak bisa dihubungi selama perjalanan. Apalagi ini perjalanan internasional yang aku belum pernah melakukannya sebelumnya. Jangankan terbang, ke bandara saja tak pernah. Orang tua mana yang tak khawatir. Jangankan orang tua, lha wong aku saja khawatir dengan keselamatanku sendiri kok.

Setelah ngoborol beberapa menit, kami mengakhiri pembicaraan. Waktunya untuk tidur.

"Ya sudah waktunya tidur. Besok aku harus ikut tes Bahasa Inggris". Baru nyampe tengah malam dari perjalanan jauh besoknya harus tes Bahasa Inggris. Agak sedikit gila memang, tapi ya mau gimana lagi. Lampu kumatikan dan aku mulai memejamkan mata.

Sebelum terlelap, aku merenung. Subhanallah, aku tiba di USA dengan selamat sekalipun dilalui dengan berbagai tindakan bodoh. Aku di USA. Di USA, di luar negeri. Aku hampir tak percaya dengan kenyataan ini. Seperti mendapat keajaiban. Boleh dibilang ini adalah prestasi terbesarku. Mungkin beberapa dari teman-teman pembaca blog ini menganggap belajar di USA bukan hal yang luar biasa. Tapi ini luar biasa buatku. Secara teori, keluargaku hampir tak mungkin membiayaiku untuk belajar keluar negeri. Penghasilan orang tuaku selama sebulan saja tak mencukupi untuk biaya hidupku selama sebulan di USA. Tapi Allah memiliki sifat Iradah. Dia berkehendak atas segala sesuatu, Dia berkuasa atas segala sesuatu. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Dan lagi, perjalanan ini menjadi sebuah momen tak terlupakan, meninggalkan sebuah kesan tersendiri. Bahkan sampai saat ini pun aku masih merasakannya, rasa takutnya, khawatirnya, stresnya. Anyway, semuanya menjadi pengalaman berharga. Sekarang saatnya menatap masa depan. Tak lama kemudian aku pun terlelap.


TAMAT

=================
Saya ucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada teman-teman pembaca yang sudah rela meluangkan waktu untuk membaca blog ini. Baik yang membaca dari part I sampai part V, atau yang cuma satu episode saja. Baik yang membaca langsung di blog, ataupun yang diumpan ke Facebook. Saya tak mengira bakal sepanjang ini ceritanya. 5 episode. Semoga cerita ini bisa memberikan manfaat bagi teman-teman pembaca sekalian, amin. Dan jangan lupa untuk membaca kisah-kisah saya selanjutnya tentang pengalaman-pengalaman lain di USA.
Read More...

Dari Jakarta ke USA - Part IV


Bismillahirrahmanirrahim. Akhir-akhir ini lagi banyak kesibukan dan gak dapet mood yang cocok buat nulis, jadi lama banget update-nya. Maaf sudah mengecewakan pembaca. Anyway, Alhamdulillah, bisa ngeblog juga. Ya sudah, mari dibaca kelanjutan kisahku di serial "Dari Jakarta ke USA - Part IV"



Bagi yang belum baca epsode sebelumnya dan ingin membacanya, silahkan klik link berikut:

Atau bisa dilihat di note-ku sebelumnya. ^_^
Bagi pengguna komputer, langsung saja menuju blog aslinya biar lebih enak mbacanya. Klik di sini.


Sekedar mengingatkan, berhubung kapasitas tag cuma 30 doank, maka yang di-tag cuma yang komen di episode sebelumnya (exactly the previous episode). Kalo masih sisa, maka penulis akan men-tag secara random. Kalo yang komen di episode sebelumnya lebih dari 30 gimana? Ya 30 komentator pertama yang di tag. Kalo si 'A' komen berulang kali di episode yang sama tetap dihitung sekali. Tak berlaku kelipatan (kaya voucher belanja aja...)

OK, sampai dimana ceritanya? O ya, di cerita sebelumnya aku sudah dalam pesawat dengan nomor penerbangan UA 838 keberangkatan Tokyo menuju San Fransisco. Dan yang jadi fenomena, aku terbang pada pukul 04.05 pm, 26 Juli 2009 waktu setempat dan tiba pada pukul 09.20 am, 26 Juli 2009 waktu setempat (Jamnya mundur). Dan aku juga shalat fardhu 10 kali dalam tanggal yang sama. Hmmm... Kenapa ya?

Inilah anehnya kalo berpergian melewati garis bujur 180 derajat. Kita jadi seakan-akan melewati lorong waktu, mundur sehari. Belahan bumi timur mendapat sinar matahari terbit lebih dulu jadi belahan bumi mendapati tanggal baru lebih dahulu dari pada belahan bumi barat. Saat Tokyo jam 04.05 pm, 26 Juli 2009, maka USA mainland bagian barat masih jam 01.05 am, 26 Juli 2009. Nah berarti Jepang sudah mengalami matahari terbit (bahkan hampir tenggelam) tapi USA mainland bagian barat belum mengalaminya (bahkan umur tanggal 26 baru 1 jam). Nah, saat aku terbang ke barat (masih dalam belahan bumi timur) aku mengalami sunset. Esoknya (masih dalam pesawat) aku mengalami sunrise dan aku sudah berada di belahan bumi barat. Tapi itu bukanlah sunrise untuk tanggal 27 Juli 2009, tapi sunrise untuk tanggal 26 Juli 2009. Ingat! Bagian timur mendapat sinar matahari terbit lebih dahulu dari pada bagian barat. So ini gilirannya belahan bumi bagian barat untuk mendapatkan sunrise. Jadi, sunrise kali ini adalah sunrise yang kedua yang aku alami pada tanggal 26 Juli 2009(sunrise pertama aku alami di Singapura). Dan sunset ke dua alami di Denver, ibu kota negara bagian Colorado.

Lah trus, kenapa ampe shalat fardhu 10 kali? Bukannya cukup 5 kali saja? Ya aku pake dalil umumnya saja. Sekalipun aku mengalami tanggal 26 lebih lama daripada biasanya, tapi secara prkatek itu tetap 2 hari (2 kali sunrise dan 2 kali sunset gitu loh). Aku menjalani tanggal 26 selama 37 jam*, dari Singapura hingga USA (kok 37 jam? lihat penjelasannya di bagian akhir postingan ini). Nah, kan sudah ditetapkan waktu-waktu shalat. Ya sudah, kalau aku melihat mega merah saat matahari tenggelam berarti waktu shalat Maghrib, saat matahari tenggelam dengan sempurna maka itu tanda waktu shalat isya, saat Fajar mulai menampakkan tanda-tandanya, maka waktu shalat shubuh telah tiba, dan seterusnya. Aku berpatokan pada tanda-tanda itu, tak peduli tanggal berapa saat itu. Jadi total shalat fardhu yang aku jalani pada tanggal 26 Juli 2009 ada 10 kali.

OK, kembali ke alur cerita...

Saat terbangun di waktu fajar (masih tanggal 26 Juli neh...) aku menunaikan shalat shubuh dalam pesawat. Aku bangun hanya mengandalkan ritme biologisku yang biasa bangun di waktu shubuh dan pertolongan Allah. Karena jam saat itu hampir tiada gunanya. Soalnya zona waktu terus berubah gara-gara aku terus bergerak. Apalagi beda zona beda waktu shalat (Itulah manfaat mengetahui tanda-tanda waktu shalat, so jangan hanya sekedar mengandalkan jam). Setelah selesai shalat shubuh, aku coba membuka sedikit penutup jendela.

"Wah, masih gelap".

Setelah agak terang, aku coba melihat ke arah luar kembali.

"Wah, ternyata masih diatas samudra pasifik. Tapi airnya gak keliatan euy. Ketutupan awan"

Aku melihat di layar, terdapat informasi tentang temperatur suhu di luar pesawat. Ternyata lumayan jauh di bawah 0 derajat celcius. Tapi berhubung di atas awan dan uap air juga sudah sangat rendah, aku tak menjumpai es yang pada nempel di pesawat. Lagian pesawatnya kan terbang dengan kecepatan tinggi, kalaupun ada butir es pasti dah terbawa angin. Tapi ternyata aku sempat melihat beberapa titik kristal-kristal es dengan bentuknya yang khas yang mungkin berasal dari uap air yang terjebak diantara kaca jendela (jendela pesawat itu brelapis).

Tiba-tiba terlintas dipikiranku tentang keluargaku di Indonesia. Aku teringat saat ibuku meneleponku saat aku masih di Singapura. Ternyata menerima telepon di luar negeri itu kena charge, mahal pula. Saat aku lihat pulsaku, hanya tersisa 200 sekian rupiah. It means, aku gak bisa ngapa-ngapain, kecuali menerima sms doang. Sudah banyak aku menerima sms dari ibuku. Ibuku bilang dia tak bisa menghubungiku. Ya bagaimana bisa, pulsaku sudah di ambang batas, balas sms juga tak bisa. Dari pesan-pesannya, aku merasakan ibuku sangat khawatir karena tak bisa menjangkauku melalaui ponselku. Tapi aku bisa apa?

"Wah, pasti mamah khawatir dan kemungkinan besar dia nangis terus. I know her well..."

Tapi akupun tak bisa ikut-ikutan berkhawatir ria. Aku harus konsen dan berhati-hati pada perjalananku. Apalagi ini first time buatku. Aku hanya bisa berdoa...

"Hasbunallah wani'mal wakil, ni'mal maula wani'mannasir",
Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.

Tak terasa, pesawat sudah mendekati bandara. Peswat beberapa kali berputar-putar diatas awan. Dan ternyata, land-nya gak keliahatan, hanya awan dan awan. Tapi berkat sistem radar dan navigasi, akang pilot dan co-pilot bisa menemukan lokasi landasan.

Pesawat mulai terbang merendah. Aku merasakan kepala peswat sudah lebih rendah dari pada ekornya. Dan pesawat pun menembus awan yang bertempuk-tumpuk. Wow! Seperti kabut dan asap tebal saja. Aku jadi teringat pikiranku tentang awan waktu masih duduk di Taman Kanak-kanak. Aku kira awan itu suatu yang padat sehingga aku bisa berdiri dengan mapan diatasnya. Ternyata tidak demikian, hehehehe...

Di San Fransisco International Airport

Alhamdulillah, pesawat sudah mendarat di San Fransisco International Airport. Wew, ternya panas juga. Dan, berhubung San Fransisco adalah first entry point-ku di USA, praktis aku harus mengurus status keimrigasianku. Aku berdoa moga-moga aku tidak terkena second interview. Ternyata Allah berkehendak lain. Ya sudah...

Apa itu second inteview? Sebenernya nama resminya bukan second interview, tapi apa gitu... Lupa saya. Semenjak peristiwa runtuhnya gedung kembar WTC di NYC, USA menjadi lebih phobia. Sistem di bandara menjadi lebih ketat. Bahkan ngurus Visanya pun lebih ribet dari pada negara-negara lain. Nah, tiap warga negara asing yang akan memasuki wilayah kedaulatan USA, mereka akan di wanwancarai secara singkat. Tapi gak kaya ngelamar kerjaan. Tapi walaupun singkat tapi kan yang ngantri bejibun, tetep aja lama. Nah itu first interview. Second interview itu dilakukan secara acak (gak tau juga sih sistemnya gimana, tapi yang jelas gak semua ngalami second interview). Yang kena second interview itu biasanya yang laki-laki. Dan barang siapa yang kena second interview, harus melapor saat dia meninggalkan USA. Kalo enggak? Jangan harap bisa masuk USA lagi.


denah San Fransisco International Airport

Dan akhirnya aku dibawa ke tempat khusus. Ngantri lagi, Hhhh... Kali ini ngantrinya lama banget. Dan ternyata, aku ketemu Bang Simon lagi.

"Jiah! Kena second interview loe, Bang?"
"Iya neh..."

Setelah mengisi beberapa formulir, aku duduk di kursi tunggu.

Dan gara-gara second interview ini, jadi banyak yang ketinggalan pesawat. Untungnya aku tiba di SF airport jam 9:20 am dan keberangkatanku yang berikutnya jam 13:54 pm. Masih ada banyak waktu.

Ada seorang bapak-bapak dari negeri Tiong Kok, dia gak bisa Bahasa Inggris. Tapi emang Chinese itu dimana-mana. Jadi dia gak begitu bermasalah. Chinese itu dah kayak bahasa kedua di USA. Di mana-mana ada aja orang yang ngobrol pake Bahasa China. Bahkan salah satu petugas di ruangan itu orang China (atau keturunan ya? Yang jelas mukanya muka muka orang China). Ya sudah si bapak-bapak itu ditanyain pake Bahasa China.

"Wah enaknya. Aku harus belajar Bahasa Inggris dulu biar bisa sampe ke USA. Lah dia... Waaa... Btw, ada yang dari Indonesia gak ya heheheh... Keknya gak ada deh..."

Akhirnya Bang Simon dipanggil. Dia dibawa keluar, entah kemana. Sejak saat itu aku tak bertemu dengannya lagi. Ruangan makin sepi saja.

Singkat cerita, namaku di panggil. Aku di bawa keluar. Ternyata aku dibawa ke tempat first interview, hanya beda loket saja. Ditanya ini, itu, tinggi badan, berat badan, de el el.

"Ini wawancara buat masuk USA apa buat ngedaftar male model sih, sampek ditanya begituan..."

Akhirnya kelar, dan aku segera menuju Bagage Claim. Aku mendapati Koperku yang gedhe sudah tergeletak. Aku segera membuka kunci koperku. Soalnya kalo gak dibuka, pihak bandara akan memaksa membukanya untuk diperiksa. Kalo dipaksa ya rusak lah...


kondisi salah satu koridor di San Fransisco International Airport


Kemudian aku menuju tempat check-in baggage.

"Hmmm... petugasnya ramah juga ya.."

Sekali lagi sebelum memasuki Terminal, aku diperiksa. Tas ku, sepatuku, badanku, semuanya deh. Aku melihat begitu banyak orang bule, negro, dan ras internasional lainnya. Begitu fasihnya mereka berbahasa Inggris, sampe-sampe aku gak paham mereka ngomong apa...

"Beugh, guwe di USA... di USA bro...!!!  USA...!!! Waaa...!!!" Rasanya gimana gitu... [udik mode is ON]

Langsung aja aku menuju Terminal 3 untuk menuggu di lobby tunggu. Setelah menunggu lama di lobby, aku baru nyadar aku salah gate.

"Masya Allah... salah to...?"

Lansung saja aku sambar tas ransel dan laptopku. Aku langsung meluncur ke Gate yang benar.

"Alhamdulillah, I can make it in time..."

Tak lama kemudian aku masuk ke kabin pesawat. Kali ini pesawatnya lebih kecil. Maklumlah penerbangan domestik, ngapain juga gede-gede. Aku melewati ruang kelas eksekutif. Keren euy... Tapi bagiku kelas ekonomi sudah mantap, kayak di bis eksekutif rasanya. Dapat earphone, selimut, makanan dan minuman lagi. Dan lagi, aku duduk di samping jendela. di samping seorang cewe bule yang asik ngobrol dengan temannya melalu ponsel.

Pesawat United Airlines dengan nomor penerbangan UA720 mulai mengangkasa menuju Denver , Colorado...

Sehabis shalat dhuhur yang di jama' dengan ashar, aku coba melihat daratan di Benua Amerika bagian utara ini. Kering bet dah...

Eh, cewek sebelahku ngajak ngobrol. Mungkin penasaran kali ya liat wajah ras melayu. Ya sudah akhirnya kami ngobrol. Aku bertanya pada si cewek,

"What's that? Is that desert?" tanyaku sambil menunjuk ke arah luar?
"What?" Matanya tampak menunjukkan ekspresi bingung.
"Is that desert?" Ulangku.
"Oh, do you mean desert?" tanyanya.
"O yeah..." Tau gak, ternyata aku salah melafalkan desert. Aku melafalkan "desert" seperti "dessert", yang berarti makanan penutup. Jiah... Malunya....
Akhirnya dia ngejelasin kalo itu bukanlah gurun, hanya daratan kering karena kecilnya jumlah hujan. Dia banya cerita tentang lingkungan daerah situ.

.....

Di Denver Airport

Singkat cerita, pesawat yang aku naiki mendarat di Denver Airport. Di sinilah bandara yang paling menyebalkan dan membingungkan yang pernah aku masuki...

Bersambung...
Nantikan kisahku selanjutnya...


=============
* Kenapa 37 jam? Perhatikan. Aku mulai menjalani tanggal 26 Juli 2009 pukul 00.00 di Singapura. Zona waktu singapura sama dengan WIB. Aku mengakhiri tanggal 26 Juli di USA jam 00:00 27 Juli 2009. Untuk menghitung jumlah jam yang kita lalui kita harus menggunakan zona waktu yang sama. Saat USA jam 00:00 27 Juli 2009, di singapura sudah pukul 13.00 27 Juli 2009. Nah dari jam 00:00 26 Juli hingga 13:00 27 Juli 2009 berapa jam tuh? 37 jam toh?Read More...

Free Download Bleach


xjbhr72c9u Free Download Beach. The story opens with the sudden appearance of one of the Soul Reapers (死神, shinigami, lit. "death god"), a military order who escorts the souls of the dead, named Rukia Kuchiki in teenager Ichigo Kurosaki's bedroom. She is surprised at his ability to see her, but their conversation is interrupted by the appearance of a "hollow", an evil spirit who was originally a human soul. After Rukia is severely wounded while trying to protect Ichigo, she attempts to transfer half of her reiatsu (霊圧, lit. "spirit pressure") to Ichigo in order to let him face the hollow on equal footing. Ichigo unintentionally absorbs almost all her energy, allowing him to defeat the hollow with ease. The next day Rukia appears in Ichigo's classroom as a seemingly normal human, and informs Ichigo that his absorption of her powers has left her stranded in the human world until she recovers her strength. In the meantime Ichigo shelters Rukia in his home and takes over her job as a Soul Reaper, battling hollows and guiding lost souls to the afterlife realm known as Soul Society (尸魂界(ソウル·ソサエティ), Sōru Sosaeti).

After a few months of this arrangement, in the sixth volume of the series, Rukia's Soul Reaper superiors find out about her giving her powers away (which is illegal in Soul Society) and send a detachment to arrest her, and sentence her to death. Ichigo is unable to stop Rukia's capture, but with the help of several of his classmates who also possess spiritual abilities and ex-Soul Reaper Captain Kisuke Urahara, he sets off for the Soul Reaper base, located in Soul Society. Once there, Ichigo and company battle against the elites of the Soul Reaper military, and are ultimately successful in halting Rukia's execution.

It is then revealed that Rukia's execution and Ichigo's rescue attempt were both manipulated by Sōsuke Aizen, a high ranking Soul Reaper previously believed to be murdered, as part of a far-reaching plot to take control of Soul Society. Aizen betrays his fellow Soul Reapers and allies himself with the strongest hollows, arrancar, becoming the main antagonist of the series, and Ichigo teams up with his former enemies in Soul Society after learning that the next step in Aizen's plan involves the destruction of his hometown. However, Ichigo goes with a few friends to the Hollow's world, Hueco Mundo (虚圏(ウェコムンド), Weko Mundo), in order to rescue their friend Orihime Inoue who was kidnapped by Aizen in order to reduce the number of Soul Reapers defending Soul Society. At this point, Bleach chronicles the war between Aizen and the Soul Society, a plotline which has not yet been resolved. According to Tite Kubo, the ending of the series is not yet planned out or written. [Source: http://en.wikipedia.org/wiki/Bleach_(manga)]

Do you wanna download this Animé? Just do it. Enjoy!













[reference: http://www.cyber12.com/]
Read More...

Free Download One Piece


Free Download One Piece. A boy named Monkey D. Luffy, inspired by his childhood hero "Red-Haired" Shanks, sets out on a journey to find One Piece, the legendary treasure of the King of the Pirates, Gol D. Roger. To accomplish this, he must reach the end of the most deadly and dangerous ocean: The Grand Line.

Luffy captains the Straw Hat Pirates first through the sea of East Blue and then through the Grand Line. He follows the path of the deceased King of the Pirates, Gol D. Roger, from island to island on his way to the great treasure One Piece. On his way his crew grows to have a swordsman, a navigator, a sniper, a cook, a doctor, an archaeologist, a shipwright, and a musician.

During the course of the story, the crew contend with both other less moral pirate crews and the Navy. The latter are the subordinates of the World Government, who apparently seek justice by ending the Golden Age of Pirates. Many background story elements involve the delicate balance of power between the World Government and the world's most powerful pirate crews.
[source: http://en.wikipedia.org/wiki/One_piece]


You wanna download this Animé? Just click links below. Enjoy!





Epsiode
High Quality
Low Quality
PSP
One Piece 0401
-
-
-
One Piece 0402
-
-
-
One Piece 0403
download
download
download
One Piece 0404
download
download
download
One Piece 0405
download
download
download
One Piece 0406
download
download
download
One Piece 0407
download
download
download
One Piece 0408
download
download
download
One Piece 0409
download
download
download
One Piece 0410
download
download
download
One Piece 0411
download
download
download
One Piece 0412
download
download
download
One Piece 0413
download
download
download
One Piece 0414
download
download
download
One Piece 0415
download
download
download
One Piece 0416
download
download
download
One Piece 0417
download
download
download
One Piece 0418
download
download
download
One Piece 0419
download
download
download
One Piece 0420
download
download
download
One Piece 0421
download
download
download
One Piece 0422
download
download
download
One Piece 0423
-
-
-
One Piece 0424
-
-
-
One Piece 0425
-
-
-


Refference: http://www.get-onepiece.com/Read More...

Dari Jakarta ke USA - Part III


Alhamdulillah, akhirnya bisa meng-update blog juga. Mohon maaf kalau postingannya sangat telat. Belum istiqomah ngisi blognya. Insya Allah, kisah-kisahku selama perjalanan masih terbekukan di kepala. Moga-moga aja, meski dalam bulan Ramadhan semangat menulis masih tetap terbakar. Ya sudah, gak usah kelamaan, langsung saja kita lihat cerita selengkapnya.

Bagi yang belum baca epsode sebelumnya dan ingin membacanya, silahkan klik link berikut:

Atau bisa dilihat di note-ku sebelumnya. ^_^
Bagi pengguna komputer, langsung saja menuju blog aslinya biar lebih enak mbacanya. Klik di sini.

Sekedar mengingatkan, berhubung kapasitas tag cuma 30 doank, maka yang di-tag cuma yang komen di episode sebelumnya (exactly the previous episode). Kalo masih sisa, maka penulis akan men-tag secara random. Kalo yang komen di episode sebelumnya lebih dari 30 gimana? Ya 30 komentator pertama yang di tag. Kalo si 'A' komen berulang kali di episode yang sama tetap dihitung sekali. Tak berlaku kelipatan (kaya voucher belanja aja...)

Pada kisah sebelumnya, setelah lelah berjalan-jalan di bandara yang lebih mirip pusat perbelanjaan, aku putuskan untuk merebahkan tubuhku di kursi sejenak, mengingat perjalananku yang masih panjang. Sejenak kemudian, mataku mulai menutup. Syukur, aku bisa tidur sesaat walau bukan tidur yang sempurna. Aku masih bisa mendengar suara kaki-kaki bersepatu yang bergesekan dengan karpet tebal bandara dan suara mesin 'lantai berjalan'* (maaf, aku tak tahu istilahnya apa :D) otomatis. Hingga 3 orang polisi Singapura datang menghampiriku.

"Excuse me, Sir. May I see your passport?" katanya.
"Oh, yeah", aku menjawab.

Kemudian aku keluarkan passport-ku dan aku tunjukan pada mereka. Salah satu polisi menerima dan memeriksanya. Dia melihat sambil mengangguk-angguk. Entah apa yang ia periksa. Setelah puas memeriksa, dia mengucapkan terima kasih dan beranjak pergi. Ternyata bule yang tidur di kursi sebelah juga dibangunkan sama polisi-polisi tadi. Dan si bule tampaknya masih mengantuk, di mulai merebahkan dirinya dan kembali tidur.

suasana di Changi International Airport

Aku tak bisa tidur lagi, cuma celingukan. Jarum pendek jam tanganku menunjuk angka 4. Sudah pagi ternyata. Aku segera membuka catatanku. Aku mencatat jadwal waktu shalat dari shubuh hingga isya sekaligus arah kiblatnya untuk tiap kota tempat aku transit. Waktu shubuh untuk daerah Changi jatuh hampir pada pukul 6.00. Kiblatnya 293.14 derajat dari arah utara searah jarum jam. Aku segera melihat kompas.

"Di sini ada tempat shalat gak ya? Hmmm... kalo gak ada ya udah nekat shalat di pojokan sono. Bersih ini. Bodo amat kalo ntar ada orang ngomongin aku atau polisi-polisi tadi datang lagi. Daripada gak shalat".

Ya sudah berhubung tak bisa tidur, toh waktu subuh tinggal 2 jam lagi, aku berdiri dan kembali mengeksplor Changi International Airport untuk mencari tempat shalat.

Pas berjalan, aku melihat wanita berumur petugas cleaning service. Dia berwajah melayu (mirip Indonesia gitu) dan memakai jilbab.

"Wah, muslim neh, pastinya tau donk tempat shalat". Langsung saja kutanya dia.

"Excuse me, do you know a place for praying?",
"Place for praying?",
"Yeah",
"Ummm.. OK, follow me"
Aku pun mengikuti dia. Sambil berjalan, ia mulai bertanya,
"So, you're moslem?"
"Yes I am".

Iseng-iseng aku pakai Bahasa Indonesia, mestinya dia paham donk. Kan dia dari ras Melayu.

"Disini banyak muslim?",
"O ya, disini muslimnya banyak", dia menjawab dengan dialek Melayu.
"Nah, dari sini kau tengok saja ke kiri terus kanan. Lurus terus, nanti kau temukan tempat shalat"
"O ya, thank you so much".

Aku berpikir, "Cukup tengok kanan kiri bisa ketemu tempat shalat? Cuma nengok? Aih...".

Akhirnya, sampai juga di tempat shalat. Tapi berhubung shubuhnya masih lama, aku memutuskan untuk berjalan-jalan lagi.

Aku terus berjalan sampai tibalah aku di pusat layanan pertukaran pesawat (kalau ak salah namanya Transfer Plane).

"Wah tempat duduknya bagus, duduk disana aja ah. Capek"

Langsung saja aku masuk. Tempatnya tidak dibatasi dinding atau pintu, jadi siapapun bisa masuk. Saat masuk, seorang petugas keturunan India langsung menyambutku.

"Excuse me, are you going to fly by United Airlines?"
"Oh, no.." langsung saja kujawab seperti itu, karena seingatku aku pakai Qatar.
"Oo.." katanya. Dan aku segera duduk di tempat kursi sambil melepas lelah.

Iseng-iseng aku buka tiket pesawat yang diberi oleh Bu Ratna, staf AMINEF di Jakarta. Setelah melihat nomor penerbanganku ke Tokyo, aku kaget.

"Eh? UA 804? Bukannya UA itu United Airlines ya? Wah berarti aku memang naik United Airlines donk!"

Aku langsung menuju pria tadi dan mengatakan kalau aku akan terbang dengan maskapai tersebut. Sempat malu juga sih.

Akhirnya si petugas tersebut mulai menanyai lusinan pertanyaan. Mau apa lah, bawa apa aja lah, bawa cairan gak lah, bawa senjata apa enggak lah. Fiuh. Banyak deh. Tapi tau gak, hampir tiap pertanyaan yang ia ajukan aku minta agar diulangi. Berulang kali aku bilang, "Pardon me, please?". Karena aku memang hampir tidak mengerti apa yang dia katakan. Dia memang menggunakan Bahasa Inggris, tapi versi Singapura. Pusing lah. Agak malu juga saat meminta dia untuk mengulangi pertanyaan. Sepertinya dia setidaknya mananyakan pertanyaan yang sama masing-masing dua kali. Mungkin dalam pikirannya dia bilang, "Susah amat ngomong ama nih bocah. Kaya ngomong ama orang budek." Tau lah.

Setelah selesai wawancara yang sangat menguji kesabaran si petugas gara-gara aku tak paham-paham, aku menuju loket untuk mengurus transfer pesawat. Kemudian petugas meminta tiket-tiketku dari Qatar dan menggantinya dengan United Airlines. Dia sempat menjelaskan tentang check-thru koperku. Aku bisa paham karena Bu Ratna sudah menjelaskan penjelasan yang sama dan dalam Bahasa Indonesia tentunya.

Aku kembali ke kursi. "Alhamdulillah, untungnya petugas tadi tanya. Coba kalo enggak. Bisa berabe."

Tak lama kemudian aku melihat Pak Agussalim, Fulbright Grantee juga, tapi beliau mengikuti program Ph.d di Hawaii.

"Eh, Pak! Pake UA juga ya?"
"Iya neh, ini mau transfer"
"Ah, kesono dulu pak, ke petugas itu" kataku sambil menunjuk pria yang mewawancaraiku.
"O ya?"
"Iya, Pak" aku menjawab dengan lagak sok tau.

Sejurus kemudian Pak Agussalim tampak mulai menjawab pertanyaan-pertanyaan dari pria itu.

"Eh, Pak Agussalim lancar tuh njawabnya. Apa akunya aja yang masih bego ya?"

Setelah selasai wawancara, aku dan Pak Agussalim mengobrol beberapa saat hingga sekitar pukul enam.

"Udah jam enam neh, shalat shubuh yuk" aku mengajaknya.
"Oh kamu tau tempatnya?"
"Tadi saya baru kesana, Pak"

Sesaat kemudian kami sudah tiba di tempat shalat dan kami menunaikan shalat shubuh berjamaah. Sempet kaget juga saat tiba disana.

"Perasaan tadi sepi sekarang tempat shalatnya dipenuhi orang-orang arab..." pikirku.

Selesai shalat kami langsung menuju loby untuk boarding. Namun aku pergi duluan karena Pak Agussalim mampir ke kamar mandi dulu.

Tak lama kemudian aku pun sudah berada di antrian pemeriksaan koper dan barang bawaan. Semua barang bawaan harus diperiksa melalui sinar X. Begitu tiba giliranku, barang-barangku lolos pemeriksaan. Badanku juga ikut digerayangi oleh petugas bandara. Aku sempat melihat pria bule berumur yang marah-marah gara-gara mesin pemeriksa memberi sinyal kejanggalan namun petugas tak bisa menemukan apa itu. Diperiksa bolak-balik tetap saja tak ketemu.

"What are you looking for?!!! You're so annoying!!!" Bentak si bule itu.

Berhubung antrian-nya panjang, aku tinggalkan si bule itu dan masuk ke ruang tunggu.

Aku duduk di kursi tunggu dan tak lama kemudian Pak Agussalim datang. Beberapa menit kemudian tibalah boarding time (dah tahu kan apa itu boarding time? penjelasannya ada di Part I). Ternyata nomor kursiku berbeda jauh dengan Pak Agussalim. Aku dapat kursi 33F (Aku lupa kursi beliau, hehehe). Jadi, begitu masuk kabin kami berpisah dan setelah itu aku tak melihat beliau lagi meskipun pesawat sudah mendarat di Tokyo.

Tak lama, pukul 7.10 am 26 Juli 2009 waktu setempat, pesawat mulai bergerak. Pesawat bergerak menuju jalur penerbangannya. Setelah pesawat siap di jalur terbangnya, mesin pesawat mulai mendengung keras, makin keras dan makin keras. Dalam hitungan detik, pesawat mulai meluncur dengan kecepatan yang terus meningkat. Aku mulai merasakan badan pesawat agak miring dengan kepala pesawat lebih tinggi.Ada sensasi tersendiri kita pesawat mulai mengangkasa dan berputar berbelok arah. Pesawat United Airline dengan nomor penerbangan UA 804 telah diberangkatkan menuju Narita International Airport, Tokyo, Jepang.


Di Narita International Airport, Jepang

Pukul 15.10 waktu setempat (Tokyo), 26 Juli 2009, aku tiba di Narita International Airport. Sesaat sebelum mendarat, saat pesawat melayang di atas pulau Honshu, pulau terbesar Jepang, aku melihat pemandangan sawah hijau terhampar luas. Mirip Indonesia.

"Gila! Aku di Jepang! Negeri matahari terbit. Negerinya Mangaka (seniman manga dan anime), negerinya dorama! Wow!"

Jujur saja, Jepang merupakan salah satu negara yang ada dalam daftar "The most wanted country to visit"ku. Kenapa? Ya gara-gara anime dan doramanya.

Setelah landing, aku melihat kembali tiketku. Ternyata jadwal kedatanganku di Tokyo pukul 15.10 waktu setempat 26 Juli 2009 dan berangkat ke San Frasisco dengan nomor penerbangan UA 0838 pukul 16.05 waktu setempat melalui Terminal 1. Ini berarti waktuku tidak ada satu jam. Untungnya luggage-ku aku check-thru (tahukan check-thru itu apa? Penjelasannya ada di Part II) sampai Denver. Kalau tidak, bisa-bisa aku ketinggalan pesawat. Untungnya lagi, pesawat yang baru saja kunaiki tiba di Terminal 1. Jadi tak perlu pindah ke Terminal yang lain.

Suasana di Narita International Airport

Sesaat sebelum ke loby tunggu untuk boarding, aku putuskan untuk ke toilet dulu.

"Mampir pipis dulu ah, masih 15 menit ini. Jadi punya pengalaman pipis di Jepang, hehehe..."

Sejurus kemudian aku sudah berada di antrian pemeriksaan barang. Setelah selesai diperiksa, aku iseng mengucapkan terima kasih pada salah seorang petugas bandara.

"Arigato gozaimasu"
"Hai'..." Jawab si petugas.

Aku berkata dalam hati, "Yes... yes... akhirnya bisa ngomong pake Bahasa Jepang sama orang Jepang asli, hehehehe..."

Sesaat sebelum masuk kabin aku bertemu Bang Simon, seorang Fulbright Grantee juga namun untuk program Magister.

"Oi, Bang! Ke San Francisco juga?"
"Ho oh"

Lagi-lagi, gara-gara nomor kursinya berbeda jauh, aku tetap saja duduk tanpa teman yang kukenal.

Aku duduk di kursi nomor 53A. Aku senang bukan main karena aku bisa duduk di samping jendela. Tapi jendelanya tak bisa di buka (Ya iya lah). Disampingku ada cewek jepang dan cewek bule. Yah lumayan cantik sih. Wow! disampingku cewek-cewek. Lumayan kan? (dasar!)

sambil duduk, kuperhatikan tiketku. Ada yang aneh. Aku berangkat dari Narita International Airport pukul 04.05 pm, 26 Juli 2009 waktu setempat dan tiba di San Francisco International Airport pukul 09.20 am, 26 Juli 2009 waktu setempat.

"Lho kok malah waktunya mundur? Wow, fenomena eneh"

Tak terasa, si burung besi bernomor penerbangan UA 0838 telah mengangkasa. Di dalam pesawat inilah perjalanan terpanjangku dimulai. Melintasi samudra pasifik yang amat luas. Dalam pesawat ini, dalam tanggal 26 Juli 2009, aku melaksanakan shalat fardhu 10 kali dalam tanggal yang sama.

Kenapa?

Bersambung
Nantikan kisahku selanjutnya...


* Bagi yang sudah pernah ke bandara pasti ngerti donk apa yang aku maksudkan dengan "lantai berjalan". Itu adalah semacam lantai panjang yang lebarnya hampir 50 cm. Lantai itu bisa bergerak otomatis. Jadi tak perlu capek-capek jalan, cukup berdiri badan kita ikut jalan. Mirip eskalator, tapi bedanya ini horisontal.
Read More...

Dari Jakarta ke USA - Part II


Bismillahirrahmanirrahim. Di kisah sebelumnya, aku berangkat dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta. Meski sempat berputar-putar di bandara, akhirnya aku sampai juga aku di Terminal 2. Setelah check in, aku keluar menuju lobby bandara untuk berpamitan dengan keluargaku. Pukul 21.15 WIB aku langsung meluncur ke loket fiskal dan mengurus keimgrasian. Aku pun boarding pada pukul 21.30 WIB. Sejam kemudian, pukul 22.25 WIB, 25 Juli 2009, sang burung besi mulai mengangkasa, dan mendarat di Changi International Airport pukul 01.10, 26 Juli 2009, dini hari waktu setempat.


Bagi pembaca postingan ini melalui Facebook dan menggunkan komputer (PC , laptop, atau notebook), silahkan saja baca langsung ke blog aslinya, klik:
http://www.yugoananda.com/2009/08/dari-jakarta-ke-usa-part-ii.html

Bagi yang belum baca episode sebelumnya dan pengin membacanya, klik saja
"Dari Jakart ke USA - Part I"

Bagi yang meninggalkan comment di sesi sebelumnya, akan di tag pada sesi ini. Bagi mereka yang meninggalkan comment di sesi ini akan di tag juga di sesi berikutnya, insya Allah. Tapi commentnya jangan yang seperti, "pertamax, Gan!", "Hmmm...", "Hahaha...", atau yang semacamnya. ^_^



Di Changi Airport, Singapura

Setiba di sana, aku berusaha untuk tampil pede. Biar tidak kelihatan seperti orang bingung dan tampil layaknya orang yang sudah biasa melancong ke mancanegara. Menurutku, wajah orang bingung sangat menarik perhatian bagi pelaku kejahatan. Apalagi saat berada di negeri orang. Tak bisa kubayangkan seandainya menjadi korban kejahatan di negeri orang. Tak ada teman, tak ada keluarga. Pada siapa aku berteriak? Hanya Allah yang menemani.

Tak seperti di Bandara lain, Changi International Airport seperti bandara di dalam Mall. Penuh dengan pusat perbelanjaan, lantai berkarpet, dan bersih. Dan ada juga mesin pemijat otomatis yang bisa digunakan secara cuma-cuma. Jumlahnya pun banyak (aku sudah coba, enak euy!) Bahkan, Changi International Airport adalah satu-satunya (yang aku tahu ^_^) bandara yang memiliki hotel, bioskop, dan swimming pool. Bahkan kamu bisa menonton film gratis disana. Aku melihat tanda bertuliskan "Film Percuma". Aku berfikir, "Lha, film percuma? berarti film tak berguna donk? Ngapain ditayangin?". Setelah melihat terjemahan dalam Bahasa Inggris, tertulis "Free Movies". Oalah...!

Aku tiba di Changi International Airport pada tanggal 26 Juli 2009, pukul 01.10 waktu setempat tapi aku diberangkatkan ke Narita International Airport, Tokyo, Jepang pukul 07.10 waktu setempat. Ini berarti aku harus menunggu pesawat lebih dari 6 jam. Ya sudah apa boleh buat aku harus menghabiskan malamku untuk menunggu di Changi International Airport. Wis, pokoke koyo cah ilang...

Tapi untungnya, Changi International Airport tidak seperti di bandara Soekarno-Hatta. Tempatnya bersih dan dipenuhi dengan fasilitas yang lengkap. Aku sempat melihat beberapa bule tidur dengan nyamannya di kursi. Aku pikir tidur merupakan pilihan yang baik untuk memulihkan energi, mengingat perjalananku masih sangat jauh. Bahkan lebih jauh daripada perjalanannya Tong Sam Chong dan ketiga muridnya untuk mengambil kitab suci. Ya sudah, aku putuskan untuk merebahkan tubuhku ke kursi seperti yang dilakukan bule yang aku lihat tadi. Aku mulai memejamkan mata. Tapi pikiranku tak bisa tenang. Pikiranku berkecamuk, dan banyak hal yang terlintas. "Waduh, kalau tertidur nanti barang-barangku ada yang ambil, ntar ketinggalan pesawat, trus shalat shubuhnya gimana? Trus, bener nih gak ada yang harus aku lakukan selain menunggu? Jangan-jangan ada prosedur yang terlewatkan, Aduuh...". Otakku tak bisa diam. Akhirnya kuputuskan untuk berdiri dan berjalan-jalan di dalam bandara yang lebih mirip pusat perbelanjaan.

Sekitar pukul 01.30 dini hari waktu setempat, aku mulai berjalan-jalan dengan kereta koper yang disediakan secara cuma-cuma oleh bandara. Dengan kereta koper itu, aku cukup menaruh barang-barangku diatas kereta koper dan aku tinggal mendorongnya. Saat itu tengah malam, jadi banyak department store yang tutup. Tapi aku masih menemukan banyak department store yang buka. Mungkin mereka memberikan layanan 24 jam. Aku jadi teringat kata-kata Bang Simon, teman dari ITB yang dapat program beasiswa dari Fulbright untuk program Master, klo colokan listrik di Amrik dengan Indonesia beda, jadi harus beli konverter kalau alat-alat elektronikku mau tetap bisa dipakai. Dia juga bilang kalau aku bisa beli di Changi International Airport. Langsung aku cari department store yang menjual alat-alat elektronik. Akhirnya ketemu juga. Dan inilah conversation pertamaku dalam Bahasa Inggris dengan orang Singapura.

Si penjual, menurutku sih, tampak seperti keturunan India. Dan setelah kuperhatikan memang banyak keturunan India (yang menurutku mirip India - Dravida) di Singapura. Aku coba mulai untuk mengawali transaksi. Dan bayangkan saja, betapa sulitnya aku menggambarkan colokan listrik di Indonesia dan stekernya dalam Bahasa Inggris. Apalagi aku belum berpengalaman dalam berbahasa English-Singapore. Aku dengernya agak susah. Tambah lagi kemampuanku memang pas-pasan. Dengan Bahasa Inggris yang belepotan aku berusaha mendeskripsikannya, dan akhirnya aku keluarkan juga charger ponselku dari tas. Baru setelah itu si penjual mengerti. Deal, dan aku beli seharga (kalau tidak salah) SG$ 5.00. Setelah membeli konverter colokan (ah, apalah namanya...) dengan transaksi yang diwarnai dengan bahasa isyarat, aku mulai melanjutkan sesi jalan-jalanku.

Saat berjalan, aku jadi teringat koperku yang sudah aku check-in di loket Qatar di Bandara Internasional Soekarna-Hatta. Sesuai dengan petunjuk dari Bu Ratna, staf Aminef di Jakarta, aku meminta agar koperku di check-trhu sampai Denver International Airport. Apa maksudnya "check-trhu sampai Denver"? You know, bilamana kamu berpergian dengan pesawat kamu tidak bisa membawa kopermu yang besar masuk ke kabin bersama kamu. Kopermu harus masuk bagasi. Dan itupun dibatasi. Kamu hanya boleh membawa maksimal 2 koper dengan berat maksimum 23 kg. Lebih dari itu, kamu bakal dekenakan charge. Dan bila lebih dari 30 kg, kopermu tidak diperkenankan untuk dibawa. Kamu hanya boleh membawa ke dalam kabin 1 tas gendong (dengan berat tak lebih dari 8 kg), personal bag (tas laptop), dan tas kecil yang biasa ditaruh dipinggang. Selain itu, barang-barangmu harus masuk bagasi. Nah, lalu apa hubungannya dengan "check-thru sampai Denver"? Itu maksudnya, aku tidak akan melihat koperku sampai aku tiba di Denver International Airport atau first entry point ku di USA (San Fransisco International Airport). Petugas maskapai akan men-check-in-kan koperku tiap kali aku transit. Jika tidak melakukan itu, maka aku harus mengambil koperku di baggage claim dan check-in lagi tiap kali aku transit. Jika aku harus check in tiap kali transit, ini akan menyita waktu. Bandara itu luas, bro! Yang jelas bisa buat kakimu mirip kaki pemain bola! Bisa-bisa aku ketinggalan pesawat bila tidak check-trhu.

Aku bertanya dalam hati, "Nasib koperku bagaimana ya? Adakah yang harus aku lakukan selama aku di Changi International Airport ini?" Hmmm... Aku benar-benar tak tahu. Yang aku tahu, aku sudah pegang boarding pass (tiket) untuk terbang dari Changi ke Narita, Tokyo, dari Narita ke San Fransisco, dari San Fransisco ke Denver, dan dari Denver ke Laramie. Aku berpikir, "Ya sudah, kan aku sudah pegang boarding pas. Ini berarti aku tinggal menunggu keberangkatan ku selanjutnya". Dan tak terasa kakiku sudah terasa pegal-pegal. Muter-muter di Soekarno-Hatta saja sudah bikin capek, ditambah lagi jalan-jalan di Changi. Akhirnya kuputuskan untuk mencoba merebahkan diri di kursi.

Sekitar pukul 02.30 pagi waktu setempat, 26 Juli 2009, aku berusaha memejamkan mata. Perasaanku mengatakan ada sesuatu yang harus kulakukan di bandara. Tapi aku tak tahu itu apa. Hal ini tentu mebuatku resah. Namun demikian, aku tetap berusaha untuk tidur di kursi. Tak nyaman memang, ditambah perasaanku yang cemas. Sangat cemas, dan ketakutan. Aku terus berdzikir:

"Hasbunallah wani'mal wakil, ni'mal maula wani'mannasir",
Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.

Aku akhirnya bisa tidur walaupun bukan tidur yang sempurna. Aku masih bisa merasakan suara-suara di sekelilingku. Hingga akhirnya 3 orang polisi Singapura menghampiriku. Hah?! Polisi?! Ada apa ini...?!

Bersambung...
Nantikan kisahku selanjutnya...

Read More...

Dari Jakarta ke USA - Part I


Bismillahirrahmanirrahim. Akhirnya di sela-sela kesibukanku aku masih bisa meng-update blog-ku yang masih ecek-ecek ini. Kali ini aku cuma sekedar sharing pengalamanku terbang dari Jakarta ke Laramie, Wyoming, USA. Ini adalah pengalamanku yang mungkin tak terlupakan. Semoga dengan berbagi pengalaman ini bisa memberikan manfaat bagi siapapun yang membaca blog ini, setidaknya buat penulisnya sendiri. Yups, simak terus postingan ini.

Bagi pengguna komputer yang membaca melalui Facebook, silahkan langsung menuju ke: http://www.yugoananda.com/2009/08/bismillahirrahmanirrahim.html

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Akhirnya aku tiba juga di USA tanggal 26 Juli 2009. Aku tiba di San Fransisco tanggal 26 Juli 2009 sekitar pukul 9.20 am waktu setempat. San Fransisco merupakan entry point-ku di USA. Hmmm... Tampaknya aku harus bercerita mulai dari keberangkatanku di Bandara Soekarno Hatta, Jakarta.


Di Bandara Soekarno-Hatta

Aku cuma wong deso yang sebelumnya belum pernah ke luar negeri. Jangankan ke luar negeri, naik pesawat saja sebelumnya aku belum pernah. Jadi aku tak bisa membayangkan bagaimana di bandara nanti, lha wong ke bandara saja juga belum pernah. Dan sumpah, aku menghabiskan waktu hampir satu jam untuk berputar-putar di Bandara Soekarno-Hatta. Aku tak membayangkan kalau jalan masuk ke Bandara via Tol begitu panjang dan perlu sedikit berputar-putar. Sempat nyasar, tapi Alhamdulillah, aku bertemu orang yang mau menunjukkan jalan menuju Terminal 2 untuk keberangkatan.

Di tiketku memang sudah tertulis bahwa aku akan terbang dari Terminal 2 dengan maskapai Qatar Airlines, kelas ekonomi, ke Changi Airport, Singapura pada jam 22.25 WIB tanggal 25 Juli 2009. Tapi karena belum pernah ke bandara, aku benar-benar tak tahu apa itu maksud "Terminal". Bingung? Sudah pasti. Takut? Tak perlu ditanya. Bayangkan saja, aku belum pernah naik pesawat dan tak tahu bagaimana sistematikanya kalau naik pesawat, tiba-tiba harus ke terbang sejauh ini, sampai USA, sendirian lagi. Tak ada kawan untuk saling menjaga. Namun aku yakin dengan sepenuh hati, aku memiliki Allah yang senantiasa menjagaku.

Begitu masuk ke Bandara Soekarno-Hatta dan check in koperku di loket Qatar, ternyata aku masih harus bayar Rp 150.000,00 untuk asuransi koperku. Aku kira World Learning sudah membayar semuanya. Ternyata tidak demikian. Terpaksa aku harus keluar dari pintu untuk mengambil uang, karena semua uangku sudah dalam US Dollar.

Setelah mengucapkan selamat tinggal pada keluargaku, dan ibuku sempat meneteskan air matanya, aku pun masuk ke pintu Bandara dan langsung menuju loket untuk mengurus fiskal. Alhamdulillah, aku bebas fiskal luar negeri secara langsung. Kemudian aku langsung mengurus keimigrasianku. Sejurus kemudian aku melangkah bergegas menuju Gate D5, karena disitulah aku akan boarding. Apa itu boarding? Boarding berarti naik dari tempat tunggu ke pesawat. Aku juga baru tahu setelah aku masuk ke ruang tunggu, kok. :D

Begitu boarding time tiba, pukul 21.30 WIB, aku mulai memasuki pesawat melalui suatu lorong temporer yang menghubungkan ruang tunggu dan kabin pesawat. Dan aku mulai mencari kursiku, 20J. Aku duduk disamping pria keturunan china. Pesawat pun mulai bergerak dan meninggalan bandara, meninggalkan negeri tercinta, Indonesia. Sebuah sensasi tersendiri begitu pesawat mulai merangkak naik ke udara. Aku melihat lampu-lampu kota dari atas langit. Tampak indah...

Sesaat setelah pesawat mengangkasa dan sebuah petunjuk penggunaan sabuk pengaman, rompi keselamatan, dan masker oksigen yang dibacakan dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, pramugari mulai membagikan makan malam dan snack. Sebenarnya aku sudah makan malam di restauran Jepang di Bandara Soekarno-Hatta. Tapi okelah, aku makan lagi. Eman-eman.

Pukul 01.10 dini hari, waktu setempat, aku tiba di Changi Airport. Sebuah bandara yang megah. Mulai dari sinilah kemampuan Bahasa Inggris-ku dipertaruhkan. Dengan modal kemampuan conversation yang terbatas, aku berjuang untuk tetap agar tidak kesasar ataupun ketinggalan pesawat. Sungguh, rasa takut mulai menyelimuti hati. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan, karena ini adalah pengalaman pertamaku.


Di Changi Airport, Singapura

Bersambung...
Nantikan kelanjutan kisahku....
Read More...

Mohon Doa Restu


Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Impianku untuk terbang ke luar negeri akhirnya akan segera terwujud juga, insya Allah. Aku memperoleh beasiswa ke Amerika Serikat selama setahun di University of Wyoming, Laramie. Insya Allah, aku berangkat tanggal 25 Juli 2009. Dalam postingan kali ini, aku ingin meminta doa dari teman-teman sekalian sekaligus memohon maaf barangkali ada sikap atau tutur kata yang membuat teman-teman merasa terdzalimi atau membuat hati teman-teman tak berkenan.


Bagi pengguna internet via komputer langsung ke blog-ku aja. Klik http://www.yugoananda.com/2009/07/mohon-doa-restu.html

Sebelumnya aku ingin mengucapkan terima kasih pada teman-teman ataupun semua pihak yang telah membantuku dalam proses perolehan beasiswa ini dan persiapan pra keberangkatan. Saya coba sebutkan beberapa diantara mereka. Mohon maaf bagi yang merasa sudah memberikan bantuannya tapi belum saya cantumkan. Itu semata-mata karena keterbatasan saya dalam mengingat. Mohon dimaafkan...

Muhammad Fachrie
Terimakasih, Rie. Dirimu orang pertama yang memberikan informasi tentang adanya program beasiswa ini. Seandainya dirimu tidak memberi tahu mungkin aku takkan pernah tahu.

Orang tuaku, kakakku, dan semua sanak keluargaku
Terimakasih atas doa, restu, dan dukungannya selama ini. Semoga Allah memberikan kebaikan pada kalian, amin.

Ms Flo, Ms Ima, dan Ms Katie
Terimaksih buat para dosenku ini yang sudah merelakan waktu, pikiran, dan usahanya untuk membuatkanku surat rekomendasi.

Andy Hakiem Nasution
Terimaksih buat Mas Andy yang sudah memberikan informasi tentang kereta api dari Bandung ke Jakarta.

Teman-teman Jaringan PGA
Terimakasih bagi kakak-kakak di Jaringan PGA (maaf nick-nya lupa) yang sudah memberikan informasi tentang Jakarta, men-share software peta Jakarta dan Bandung, dan informasi tentang dimana bisa mendapatkan winter coat.

Eko Indra P., Tiyaswiyoso, Alfian Akbar G., M Rizal Alim K.
Terimaksih sudah mau mengantar aku ke Stasiun Bandung (Hall). Sungguh sangat membantu.

Fitra Bayu A.
Terimaksih sudah mau mengantar aku ke Kantor Imigrasi walaupun hujan-hujan, mengantar ke Balai Imunisasi, dan ke biro pengiriman barang. Sungguh aku merasa terbantu.

Indra Kurniawan (Tante)

Terimakasih, Nte, sudah mau meminjamkan aku motor sehingga aku bisa mengurus berbagai dokumen penting.

Herpin D.
Terimaksih buat Teh Herpin yang sudah mau repot-repot bantu aku untuk menterjemahkan ijazah SMA-ku ke dalam Bahasa Inggris.

Fakultas Informatika IT Telkom
Terimaksih untuk Pak Andrian dan semua staf/dosen di Fakultas Informatika atas dukungannya dan bantuannya dalam menerbitkan berbagai dokumen penting yang saya butuhkan.

Staf BAU
Terimaksih buat Mbak Ellen (maaf kalo penulisannya salah) dan kawan-kawan yang sudah membantu dalam menerbitkan Surat Cuti Akademik.

Laboratorium Klinik Prodia
Terimaksih buat dr. Yetti Mulyatie dan staf-staf Prodia yang sudah dibuat repot oleh aku gara-gara aku sering minta tolong dan buat janji dengan dokter.

Anisa Rakhmataya
Terimaksih baut kamu, Ya. Kamu sudah memberikan informasi tentas Rumah Sakit yang bagus di kota Bandung.

AMINEF
Terimakasih untuk AMINEF yang sudah mempromosikanku sebagai kandidat dari Indonesia pada World Learning untuk mendapatkan beasiswa Fulbright program Global Ugrad.

World Learning
Terimaksih sudah memilihku sebagai penerima beasiswa. Saya merasa menjadi orang yang sangat beruntung, karena aku sadar masih banyak mahasiswa yang jauh lebih kompeten dari aku. Jangankan di Indonesia, dalam intern IT Telkom saja sudah begitu banyak teman-teman yang memliki kompetensi jauh diatasku. Sungguh, Allah berkehendak atas segala sesuatu.

Sekali lagi aku mohon maaf bila ada pihak yang merasa memberikan bantuan namun belum saya sebutkan. Namun demikian, aku ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada semua pihak yang sudah membantuku dalam proses perolehan beasiswa ini.

Kemudian, aku mohon doa restu dari teman-teman sekalian dan semua pembaca blog-ku ini. Karena itu bisa sangat membantu ketika aku sedang merantau di negeri orang. Semoga doa teman-teman dan pembaca blog ini bisa membuat aku diberi kemudahan dan kenyamanan selama perjalanan, kemudahan dalam urusan akademik maupun non-akademik, kemudahan dalam beribadah, kemudahan dalam menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, kemudahan menuntut ilmu dan pemahaman yang baik, kemudahan dalam berkumpul dengan orang-orang shalih, kemudahan dalam bersosial dengan masyarakat setempat dan internasional, kemudahan dalam mencapai prestasi disana, kesehatan yang baik, dilimpahkan rizqi yang halal lagi baik, bertambah iman dan ketaqwaan, dan kembali ke Indonesia dengan selamat dan membawa ilmu dan pengalaman yang bisa memberikan manfaat bagi agama, bangsa, negara, dan dunia.

Aku juga mohon maaf apabila selama ini saya pernah berbuat salah ataupun sesuatu yang dzalim pada teman-teman dan semua pihak yang pernah kenal denganku. Sungguh, maaf yang yang diberikan adalah suatu yang berharga buatku.

Untuk anak IF 30-04 IT Telkom, teman-teman dari Fakultas Informatika, dan teman-teman sekampus, barangkali selama 3 tahun ini aku pernah berbuat salah, aku mohon maaf. Teman-teman dari Language Laboratory, mohon maaf bila pernah ada kesalahan yang kuperbuat. Maaf juga karena tak ada makan-makan, karena, jujur saja, aku sedang butuh dana yang cukup besar untuk keperluan ini (setidaknya untuk ukuran anak kost macam aku ini). Jadi aku berusaha ngirit. Mohon maklum, ya.

Dan semoga mereka yang pernah aku dzalimi, Allah berikan kebaikan-kebaikan yang berlimpah pada mereka sebagai ganti kedzaliman ataupun kesalahan yang pernah aku perbuat pada mereka. Semoga Allah mengampuniku.

Semoga keluarga dan teman-teman yang akan aku tinggalkan selama setahun tetap dijaga Allah, diberikan kesehatan, dan rizqi yang halalan toyibah lagi melimpah. Bagi yang masih kuliah semoga kuliahnya diberi kelancaran dan kemudahan, yang sedang mengerjakan TA/PA/Sekripsi/Thesis/Disertasi semoga diberi kemudahan dan kesuksesan, yang sedang cari kerja semoga lekas mendapat perkerjaan yang baik dan cocok, yang sudah kerja semoga diberikan prestasi dan terus dipromosikan ke jabatan yang lebih tinggi namun tetap amanah, yang punya usaha/perusahaan semoga usahanya berkembang pesat, yang sedang cari jodoh semoga diberikan jodoh yang shalih dan terbaik untuknya. Amin...

Semoga Allah Azza Wa jalla memperkenankan permohonanku. Rabbanaa taqabbal minnaa, innaka anta sami'ul aliim.

"...Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku,..."
[Q:S Thaahaa:25-28]

"...Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma`aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir".
[Q:S Al Baqarah:286]
Read More...

 
Here I Am
This is me, Yugo Prima Ananda (Japanese Name: Yugoro Arishima). An ordinary man, but really wanna be an extraordinary one, that try hard to be a successfull man in the world and hereafter. I'm a student of Telkom Institute of Technology, Bandung, Indonesia. My major is Informatics Engineering, Bachelor Degree, and has been studying there since 2006. But now, I am studying in University of Wyoming as an exchange student. I got scholarship from Fulbright Global Under Graduate Program. Hajimemashite, dozou yoroshiku onegaisimasu....
Luka Angin
Luka Angin