Tuesday, July 6, 2010

Muatan Ngawur dalam Dongeng

Dongeng iku arep dipaido yo keneng [1]. Mau dibantah juga gak masalah. Yang jadi masalah, dongeng biasanya dituturkan kepada anak-anak yang memang gak bisa maido[2]. sehingga pasti akan ditelan bulet-bulet dan mentah-mentah, tanpa dimasak, dan tanpa dicerna. Nah, rupanya, dongeng-dongeng yang banyak diceritaken ke anak-anak tak semua bernilai edukasi yang baik. Nah loe! Dikeranaken hal itu, ane cuma ingin share pendapat aja tentang beberapa dongeng yang justru memberikan nilai edukasi yang buruk bagi anak. Hmmm... Simak aja ya :)





Bagi computer user yang mbacanya lewat Facebook, kunjungi langsung blog aslinya, biar enak dibaca. Klik di sini.


Dongeng sampai saat ini masih menjadi menu favorit dalam kehidupan anak. Di sekolah-sekolah masih menyajikan berbagai dongeng. Ane sendiri juga suka baca-baca dongeng kayak legenda-legenda gitu. Memang menarik sih. Hanya saja, materi dongeng - meski dipaido keneng - haruslah dipilih yang benar-benar selektif. Ibarat milihken makanan buat anak-anak kecil. Jangan anak masih umur setahun sudah dikasih blanggreng[3], karena bisa kloloden sontrot pohung[4]. Atau anak masih 4 bulan sudah dimut-muti permen ndhog cecak[5], wah bisa kisruh ususnya. Karena sekasar apapun itu makanan, asalkan kita masukkan ke mulut anak, ya telan aja. Sama halnya dengan materi dongeng.

Dongeng yang diceritakan pada anak akan membawa kesan yang dalam pada diri anak, dan itu akan dibawa sampai gedhenya. Maka tanamlah bibit yang benar, nanti akan menuai hasil yang benar pula.

Nah, di bawah ini ane cantumkan beberapa dongeng yang membawa pesan moral yang kurang baik bagi anak.
  1. Kancil Nyolong Timun

    Ini dongeng paporit anak-anak. Tapi isinya ngajari nyolong sama ngajari ngapusi[6]. Jangan-jangan banyaknya koruptor yang seliweran di Indonesia ini karena cilikan-nya pada didongengi Kancil Nyolong Timun sama guru TK dan Playgroupnya. :))

  2. Jaka Tarub

    Wah, ini dongeng berbau Pornoaksi. Si Joko Tarub gawean-nya ngincengi widodari adhus[7]. Trus milih, dan nyeleksi mana yang paling nyakdhut untuk dicolong selendangnya. Ini lebih parah lagi, sudah porno, nyolong lagi :tepok jidat:.

    Mangkanya aktifitas pornoaksi susah dibrantas, lha wong dongeng paporitnya Joko Tarub, je. Lagipula semakin hari semakin ane rasakan kontes milih widodari-widodari ini semakin beragam. Ada Miss Universe, ada Miss Asean, Miss Celebrity, Miss Call (ini ajang mencari Putri berbakat bidang tilpun seluler), Pemilihan Putri Indonesia, Putri Daerah, Putri Pantai, Putri Malu, Pemilihan gadis Cover Girls, de es be.

  3. Andhe-andhe Lumut

    Hwaduh ini lebih kacau lagi. Di adegan poro Klenthing dicegat sama Yuyu Kangkang. Wah… ada adegan Sex Party Orgies-nya, demi tercapainya kekarepan[8] bisa nyabrang kali. Ini mendidik para gadis untuk melacurkan diri untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.

    Lihatlah mal-mal, Blok M, atau dimanapun pusat perbelanjaan berada, mesti disitu sudah banyak berkleweran poro Klenthing tadi. Mulai Klenthing Ijo, Abang Biru, Coklat, Blontheng, Lorek sampai kelir parang rusak... Ada semua. Mereka sedang menunggu para Yuyu Kangkang untuk me-yuyu-i dan meng-kangkang-i mereka agar bisa dapat HP, duit, dan segala piranti hidup serta piranti dugem sehari-hari mereka.

    Lagi pula nama Yuyu Kangkang ini rancu. Ini bisa mengacaukan identitas seksual. Kalo Yu itu dipakai orang jawa untuk perempuan. sedangkan Kang untuk kaum laki. Dipakai bareng bisa menyebabkan kebingungan identitas seksual. Macem pendidikan dalam film Teletubbies, si Tinki Winki, Dipsi, Lala, dan Po, semuanya gak jelas identitas seksualnya. Malah ada yang berpendapat bahwa kucir rambut mereka itu melambangkan kaum homoseksual, baik itu gay ataupun lesbi… Wah kok sansoyo nggladrah[9] teori ane… Yang gak percaya jangan diteruskan mbacanya. :D

  4. Sangkuriang

    Ini jelas-jelas dongeng 21 tahun ke atas. Muatan pendidikan seksnya lebih kacau lagi. Ada incest, ada juga bestiality… Wuih pengarang dongeng jaman dulu ternyata fantasinya semprul juga ya. Wakakakak...

  5. Roro Jonggrang

    Siapa yang gak tau eneh cerita, kisah seorang pangeran sakti Bandhung Bondowoso yang menginginkan seorang putri semok nan jelita. Gara-gara syarat yang harus dipenuhi, yaitu membangung 1000 candi dalam semalam, pangeran sakti ini minta bantuan ke para jin. Gak bener ini. Roro Jonggrang juga gak kalah curang, dia pake acara nabuh lesung segala supaya ayam berkokok yang menjadi tanda akan datangnya fajar. Jelas-jelas ini ngajari curang dalam tender proyek maupun nguriki[10] proyek.

  6. Dongeng Ki Ageng Selo

    Ini membangkitkan daya takhayul dan khurafat. Jelas-jelas bertentangan dengan Ki Ageng Benjamin Franklin yang memang bisa nangkep petir. Hehehe...

Untuk itu, ane saranken ngasih dongeng yang membangun buat anak-anak. Kecuali kalo sudah "Lungsuran Anak-anak" yang sudah bisa milah dan milih. Itu saja tetap harus selektif milih tontonan.


 ---

[1]   Dongeng itu mau dicaci juga boleh
[2]   mencaci
[3]   singkong goreng
[4]   Wah, ane bingung nransletin keloloden ke Bahasa Indonesia. Intinya keloloden itu kondisi ketika makanan nyangkut di kerongkongan. Gak bisa masuk dan gak bisa keluar. Sontrot pohung itu apa ya? Hmmm... serat singkong.
[5]   telur cicak. Itu lho, permen warna-warni yang bulet-bulet kayak telor cicak
[6]   berbohong, membohongi.
[7]   kerjaannya mengintip bidadari mandi.
[8]   kemauan
[9]   semakin mbleber kemana-mana
[10] mencurangi

Thursday, June 17, 2010

Gara-gara USA

Gara-gara ke USA, aku jadi punya banyak pengalaman pertama. Apalagi bagi "wong ndeso" macam aku ini. Mungkin bagi sebagian pembaca, hal-hal yang aku alami ini sudah biasa. Yah, namanya juga wong ndeso yang ujug-ujug dapat kesempatan untuk terbang ke USA. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, yang berkenan memberikan anugerah yang begitu besar pada hambanya yang hina dina ini. Oqelah qalau begitu, simak saja postingan saya yang satu ini.





Yang baca lewat Facebook mending langsung lihat di blog aslinya. Klik link berikut :

  • Pertama kali pegang paspor dan VISA
    Aku mengajukan permohonan pembuatan paspor di Bandung. Ternyata prosesnya 10 hari! Mana lagi UAS, sering hujan pula. Eh, tapi ada ada yang 3 hari doank, Arghhh... Gak adil. Kalau permohonan VISA sih gak repot-repot amat. Cuma masuk ke kedubes AS itu kudu lewat pengamanan yang ketat. Kayak mau diserang teroris...

  • Pertama kali pegang Dollar Amerika
    Ternyata ukuran uang kertas USA sama aja. Bahannya pun sama. Jadi mau pecahan berapapun, biaya pembuatan uang kertasnya sama. Pelit ya? Gak kaya Indonesia yang ukurannya beda-beda. Kualitasnya aja beda-beda. Perhatikan uang pecahan Rp 100.000, bahannya beda kan?

  • Pertama kali masuk bandara
    Wah, ini yang bikin takut sebelum pergi ke USA. Udah aku ceritain sih, 5 episode malah, Klik di sini kalau mau baca :)

  • Pertama kali naik pesawat
    Pertama kali terbang rasanya gimanaaaa gitu. Pas mengudara apalagi, nanjak pokoknya, hahahaha...

  • Pertama kali mengalami kesulitan berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda bahasa
    Nah, kerasa susahnya ngomong sama orang singapura keturunan India. Ini juga udah diceritain di sini. Ternyata, sekalipun bahasa nasional Singapura adalah English, tapi aksennya berbeda. Aku tahu hal ini setelah mendapat teman dari Singapura. Dan setiba di Amrik, masalah beginian juga tetep datang. Apalagi pas ngomong sama pelayan Subaway. Beugh.... Kalau mau tau klik di sini juga.

  • Pertama kali melihat awan dari atas
    Gimana ya? Pokonya terbang di atas awan lah. Awannya bergulung-gulung, putih lagi. Tapi lama-lama bosen juga. Abis, dari Tokyo ke San Fransisco pemandangannya awan mulu. San Fransisco - Hongkong juga gitu.

    Pegunungan yang tertutup salju, dilihat dari langit Colorado, USA

    Awan di atas Samudera Pasifik

  • Pertama kali menyaksikan 2 kali sunrise dan 2 kali sunset dalam hari yang sama
    Fenomena waktu eneh. Setelah diterbangkan dari Tokyo menuju San Fransisco, aku menyaksikan sunset diudara, dan juga sunrise. Tapi ketika sunrise, itu masih dihari yang sama. Nambah seharilah perjalanan umurku...

  • Pertama mengalami perjalanan 2 hari tapi hanya mengalami 1 sunrise dan 1 sunset
    Aku cuma ngerasain siang mulu dari San Fransisco menuju Hongkong. Pokoknya matahari selalu ada. Tapi begitu sampai di Hongkong hari sudah berganti. Kali ini aku kehilangan 1 hari.

  • Pertama kali naik mobil dengan heater dan stir berada di kiri
    Kalo di Indonesia keknya gak ada ya mobil pake heater, hehehe...

  • Pertama kali menikmati koneksi internet yang cepat unlimited, dan gratis
    Nah, inilah salah satu hal yang bikin aku betah, wakakakak... Pokoknya streaming lancar lah :D

  • Pertama kali menggigil di siang hari padahal badan sehat
    Hari pertama di USA, matahari tampak bersinar terik di musim panas. Aku ke kampus dengan pakaian biasa, jeans dan polo shirt (sebenarnya bukan Polo, tapi yang kayak Polo gitu). Ternyata tetep dingin, euy! Padahal bule-bule yang lain pakaiannya "seadanya". Seiring berjalannya waktu, aku mulai terbiasa. Terbiasa menggigil, wakakakak...

  • Pertama kali makan makanan internasional
    Yah, wong ndeso macam saya, kalo makan makanan luar negeri paling banter ya masakan Cina, steak, atau Jepang. Pas di Amrik, aku sempet nyobain masakan Italia, Meksiko, India, Thailand, Mesir, Bangladesh, dan masih banyak yang lain.

  • Pertama kali merasakan senangnya bertemu saudara seiman
    Mungkin kalo di Indonesia liat cewek paka jilbab reaksinya biasa aja. Tapi pas di Amrik, rasanya gimanaaa gitu, "Weee... Ada muslim..!"

  • Pertama kali berteman dengan seorang gay
    Bahkan, dia adalah salah satu teman pertamaku yang aku dapatkan di USA. Pertama dapet, langsung dapet gay...

  • Pertama kali melihat pasangan lesbian (ciuman pula)
    Aku kira sih salah satu lesbong ini cowok. Soalnya tinggi, gedhe, rambutnya pun kayak cowok. Tapi diperhatikan sisi ceweknya tetep ada. Lehernya, dadanya, dan juga pinggulnya. Aku pikir mereka teman akrab. Biasalah cewek. Tapi kok, pake ciuman segala ya? Wah itu mah udah positif...

  • Pertama kali melihat cowok waras telanjang di ruang loker pria
    Aku sempet kaget pas pertama kali masuk ke gym via locker room. Dengan santainya mereka ganti baju, bertelanjang ria, jalan sana, jalan sini, lenggang kangkung lah. Tapi aku jadi tau macam-macam bentuk, model, ukuran, dan warna dari berbagai jenis ras dan usia, buahahahaha... (Yang cewek gak usah kemana-mana pikirannya). Aku sempat kepikiran juga, "Yah, sayangnya loker cowok. Gimana loker cewek ya? Hihihihi..."

    Btw, banyak kok Americans yang dikhitan. Yang enggak dikhitan itu biasanya orang-orang Cina (dan yang mirip-mirip Chinese gitu). Tapi ada juga sih temenku yang dari Germany, mereka gak dikhitan, hihihihi... Herannya nih ye, kenapa ya punya Asia jauh lebih 'lebat' ketimbang bule? Padahal, rata-rata bule itu brewokan (tapi kebanyakan dicukur sih brewoknya). Ups, jadi obrolan BB++.

    Dan satu lagi, masalah onderdil cowok. Di Amrik pun preferensinya beda. Kalo di Indonesia, underwear cowok kebanyakan yang modelnya segitiga (you know what I mean lah). Marketer of men underwear pasti tahulah yang beginian. Coba cek aja di supermarket. Pasti model "segitiga" yang mendominasi. Tapi kalo di Amrik, rata-rate bule pake model yg trunk, atau brief (yang "persegi"). Aku sudah sering lihat di loker, dan roommate-ku juga. Di supermarket pun gitu, yang model "persegi" lebih mendominasi. Kenapa gitu ya?

  • Pertama kali melihat cewek pakai bikini (secara langsung, bukan lewat tivi)
    Kejadian ini terjadi pas aku di amusement park (dunia fantasi) di Denver. Wahahaha... mirip di serial tivi Baywatch. Cuma kalo di Baywatch, kebanyakan artis dan model, jadi badannya aduhai. Kalo di tempat itu macem-macem, dari anak-anak ampe nenek-nenek. Dari yang aduhai ampe yang dada dan perutnya gak bisa dibedain.

  • Pertama kali melihat 2 sejoli berciuman (secara langsung, bukan lewat tivi)
    Kayaknya ciuman di sana mah udah biasa aja. Mau sepi, rame, di lift, lagi ngantri, makan bareng ama temen-temen, pokoknya kalo pengen nyosor, ya nyosor aja...

  • Pertama kali merasakan menghadiri kelas dengan mahasiswa berbagai ras di dunia.
    Nah, salah satu kerennya USA disini. Pelajaranya multi ras. Dari berbagai penjuru dunianya. Jadi punya banyak temen dari berbagai negara.

  • Pertama kali merasakan beratnya Ramadhan
    Untuk lebih jelasnya klik aja di sini.

  • Pertama kali melihat hail
    Apaan tuh hail? Hail itu hujan batu es. Jadi ya suaranya pletak-pletak gitu. Bisa bikin mobil peda penyok.

    Bongkahan kecil hail yang mulai mencair

  • Pertama kali melihat dan pegang salju
    Ini juga asik. Hujan salju itu macaam-macam. Ada yang lembut sehalus kapas, ada juga yang campur dengan air hujan. Kalo yang kayak kapas, turunnya salju seperti beterbarannya kapas di udara. Romantis situasinya, huahahahaha...

  • Pertama kali merasakan homesick
    Saat kuliah di Bandung, aku gak pernah (yaaa jarang bangetlah) yang namanya homesick. Ya paling-paling sekedar ada rasa ingin pulang doank. Tapi pas di USA, sering banget aku mimpi pulang ke rumah, sampai nafsu makan juga ikitan turun. Soalnya saat juga aku dapat tekanan-tekanan yang banyak tak dapat kuatasi dari lingkungan yang berbeda dari tanah kelahiranku. Coba klik link ini untuk cerita yang lebih lengkap :)

  • Pertama kali bermain snowboarding
    Bagiku olahraga ini exciting banget. Sampe ketagihan. Padahal gara-gara olahraga ini, bahuku cidera dan mudah dislocated. Puncaknya pas aku main badminton, bahuku dislocated hingga ambulan datang untuk mebawaku ke Emergency Room.

    Playing snowboarding with friends

  • Pertama kali mendapat kado natal
    Gak tau nih, ngerayain enggak, ngucapin selamat aja enggak, aku sering dikasih kado dari temen-temen. Mereka emang sedia banyak, trus dibagi-bagiin deh. Otomatis aku kecipratan juga, hehehe...

  • Pertama kali naik ambulan
    Seperti yang udah diceritain diatas, aku dapat shoulder dislocation pas maen badminton. Awalnya gak begitu sakit. Setelah kulihat pangkal lengan kananku, bentuknya aneh. Tidak bulat seperti yang kiri. Seperti ambles gitu. Pokoknya freak banget lah. Lama-lama aku menjadi tak nyaman berdiri, aku cuma duduk. Orang-orang mulai mengerumuni aku (sumpah, malu banget!). Keringat dingin mengucur deras. Kata temenku, keringetku udah sejagung-jagung dan wajahku pucat, tapi aku gak ngerasa. Rasa sakit mulai menggorogoti. Aku dibawa ambulan ke ER dan dikawal polisi.

    Tiap melewati jalan yang tak rata, rasa sakitku makin menjadi. Akhirnya si sopir ambulan mengemudikan mobilnya dengan sangaaaaaat pelan. Dimana-mana ambulan yang nguing-nguing pasti jalannya ngebut. Yang ini mah pelan banget. Kaya sepeda santai gitu.

    Sampai di ER, sakitku memuncak. Aku tak bisa merebahkan punggungku di ranjang. Meluruskan badan pun tak bisa. Kukaitkan jempol kakiku dan jari kedua pada besi ranjang untuk menahan rasa sakit. Aku sampai takbir ratusan kali, "Allahu Akbar...!!!" Benar-benar siksaan dunia.

    Prosesnya penanganannya lama. Rontgen lah, ini lah, itu lah. Dan itu pun aku masih dimintai banyak informasi dari tim medis. Dan pake Bahasa Inggris. Udah sakitnya minta ampun, otakku harus tetep bekerja memahami pertanyaan dokter dalam Bahasa Inggris. dan aku juga kudu tetep mikir untuk menyusun kalimat jawabannya, tensesnya, aktif-pasifnya, gerund-nya, semuanya. Plus, aku dibawah pengaruh morphin. Begitu banyak morphin yang disuntikkan tak mampu meredam rasa sakitku. Hingga akhirnya mereka menyuntikkan obat bius. Tapi otakku lebih merspon rasa sakit ketimbang obat bius. Aku tetap terjaga sambil menahan rasa sakit.

    Akhirnya dokter datang. Tubuhku diluruskan. "Aaaargh...!!!", sakitnya. Tangan kananku dipegang, ditekuk-tekuk. "Aaaaarggggghhhhhh....!!! " Ampun dah... Kayak mau putus.... Dan seketika itu, rasa sakitku menghilang. "Eh...?!"

    Wajah dan rambut yang berantakan, muka yang konyol, plus masih dibawah pengaruh morphin.

    Aku keluar ruangan dengan arm sling dan kaos yang super gede (soalnya sleeveless t-shirt-ku di gunting dan aku dikasih kaos gedhe, karena memang gak ada yang kecil). Teman-temanku dari Indonesia sudah menunggu di ruang tunggu. Ada 4 orang. Aku juga dibelikan McD. Hhh... Senangnya ketika aku menyadari aku tak sendirian. Teman-temanku selalu ada untuk membantuku. May Allah bless them all, amen.

  • Cebok pake tissue
    Yang ini mah gak usah diceritaiin lah...

Nah, mungkin itu dulu. Gimana? Ada pertanyaan? Komentar? Post aja di comment box di bawah :D

Tuesday, June 15, 2010

Aku Bukanlah Seorang "Ikhwan"

Postingan kali ini masih berkaitan dengan pengalamanku di USA. Dan mungkin bakal ada yang senyam-senyum atau ketawa-ketiwi saat membaca postingan ini. Sebenernya apa sih arti "ikhwan" itu? Berdasarkan pengetahuan Bahasa Arab-ku yang sangat pas-pasan ini, Secara lughowi (bahasa) kata ‘ikhwan’ adalah bentuk jamak dari akhun, yang artinya saudara (laki-laki). Sedangkan akhwat adalah bentuk jamak dari ukhtun dengan arti yang sama (namun untuk perempuan). Saudara di sini bisa bermakna denotatif, yang berarti saudara kandung atau saudara se-pertalian darah, ataupun bermakna konotatif, yang berarti saudara dalam arti yang lebih luas. Misalnya saudara seiman, saudara seorganisasi, dst. Kalau salah tolong dikoreksi, ya. Lha terus, maksud dari judul artikel ini apaan? Hmmm, mau tau? Simak terus!


Bagi pengguna komputer langsung saja baca di blog saya, klik:

Makna yang tadi aku jelaskan tadi adalah makna secara bahasa. Begitu kata "ikhwan" ini populer di Indonesia, maknanya jadi bergeser. Di Indonesia, sekali lagi kalau salah mohon dikoreksi, "ikhwan" berarti laki-laki alim yang kerjaannya ke masjid, hafalan Quran-nya sejibun, sering dakwah, sering syuro, kalau ngomong mesti pake istilah "ana", "antum", "akhi", "ukhti", "tafadhol", "afwan". Pokoknya yang gitu-gitulah. Kalaupun mereka punya blog, artikelnya gak bakal jauh-jauh dari yang namanya Islam.

Hmmm... Keliatannya aku (atau "ana"? Hehehe...) kudu mulai dari sejarah siapa diriku. OK, mari kita mulai!

Aku hanya seorang laki-laki yang dilahirkan di sebuah desa kecil di Kabupaten Tegal, namanya Desa Tonggara (wajar kalau pembaca tak tahu tempat ini). Aku dibesarkan bukan dilingkungan orang-orang yang paham secara mendalam akan Islam. Orang tuaku hanyalah orang yang awam dalam hal agama. Tapi hal ini tidak membuat mereka membiarkan anak-anaknya tidak mengenyam pendidikan agama. Mereka memasukkanku kedalam sebuah madrasah kecil di desa, yang saat itu SPP-nya cuma Rp 2.000,00/bulan. Disanalah aku mulai belajar agama Islam. Bahkan berkat madrasah kecil ini, aku tahu kalau shalat fardhu itu ada 5 waktu. Kirain cuma sekali sehari doank, hehehehe... Anyway, terima kasih buat Mamah, Papahku yang sudah menyekolahkan anaknya ini hingga bisa mengaji, bahkan bisa sampai terbang ke Amerika Serikat.

Dan aku juga tumbuh sebagai anak-anak laki-laki seperti pada umumya, maksudnya yang gak alim-alim banget gitu (you know what I mean, lah). Nah, semenjak masuk IT Telkom, aku mulai ada sedikit perubahan.

Meskipun IT Telkom bukanlah kampus besar, tapi kampus ini memiliki banyak aktivis dakwah. Di sanalah aku mulai tau apa namanya mentoring. Duduk melingkar, ngomongin soal agama yang dipimpin oleh seorang murabbi, itu adalah definisi pertamaku tentang mentoring. Dan entah kenapa, aku jadi sering ikut dalam kegiatan yang berhubungan dengan Islam. Intinya, aktifitas Islami di kampusku memberikan pengaruh yang signifikan dalam kehidupan spiritualku.

Di IT Telkom juga lah aku mulai mengenal Tahfidz (hafalan Quran) dan Tahsin. Dulu waktu SMA, boro-boro ngapalin Qur'an, shalat aja yang penting 5 kali sehari. Bahkan, aku pun ikut-ikutan para "ikhwan" IT Telkom untuk tidak bersentuhan, termasuk bersalaman, dengan wanita yang bukan muhrim. Yaaa.. walaupun kadang-kadang sering lupa, tempel sana, tempel sini, hehehehe... Tapi keknya, lupanya lebih sering dari ingatnya deh. Maklum, masih seorang pemula, sangat pemula.

Aku bisa melakukan hal-hal itu karena memang aku dikelilingi para "ikhwan". Jadi bisa dibilang kondisinya memang mendukung. Sampai-sampai saat mudik ke Tegal, orang tuaku dan saudara-saudaraku sempat menyebutku seorang "ikhwan". Tapi hatiku selalu mengatakan "Bukan! Aku belumlah cukup pantas!" dan aku bisa seperti itu memang karena lingkungannya yang mendukung, kalau berbeda lingkungan mungkin beda juga hasil bentukannya. Yah, iman itu memang sesuatu yang gaib. Hanya diri sendiri dan Allah lah yang mengetahui seberapa dalam iman kita. Dan diri sendiri pun terkadang sering salah ukur dengan "level" imannya sendiri.

Terus apa hubungannya dengan pengalamanku di USA? Well, sebelum berangkat ke USA, aku sering memikirkan hal ini. Aku tahu aku bukanlah seorang "ikhwan" sejati. Aku hanya sekedar mengikuti dari contoh-contoh yang diterapkan para "ikhwan" yang aku anggap baik dan benar. Aku baru pada level "mencontoh". Jadi, jika kehilangan apa yang aku contoh, kemungkinan besar bakal ada penurunan kualitas iman di berbagai sudut. Aku menyadari hal itu.



Tekanan-tekanan di USA

Sebenarnya aku tidak pernah merasa didiskriminasikan oleh warga atau pemerintah Amerika Serikat gara-gara aku bergama Islam. Mereka sangat menghargai apa yang aku yakini. Mereka dengan ramah menyilahkan diriku untukku menunaikan ibadah shalat fardhu. Bahkan aku sering diingatkan oleh seorang Amerika untuk shalat yang notabene dia adalah seorang Protestan. Wah, jadi malu, hehehehe...

Lalu apa yang menjadi tekanan? Hmmm... sebenernya aku agak kesusahan menuangkannya dalam kata-kata. Tapi okelah aku coba.

Setiba di USA, aku mendapar kelas Bahasa Inggris. Saat itu masih Summer Break. Jadi tak banyak mahasiswa yang berkeliaran di kampus. Dan juga, di kelas Bahasa Inggris, orang-orang ras Arab justru mendominasi. It means sebagian besar temanku adalah Muslim, so bulan pertama efeknya belum kerasa. Pokoknya, kisah bulan pertama di USA sudah aku ceritakan di sini.

Nah, saat masuk kuliah, Ramadhan sudah tiba terlebih dulu. Dan aku masih punya pengekang untuk 1 bulan ke depan. Karena memang aku tak mau merusak puasaku, jadi mau tak mau, aku harus berusaha dengan segenap daya dan upaya untuk mempertahankan puasaku. Kisah Ramadhan di USA juga sudah aku ceritakan di sini.

Selepas Ramadhan usai, aku mulai merasakan gelombang godaan yang besar (Bagiku mungkin besar, tapi bagi sebagian orang lain, ini bukanlah apa-apa.). Aku sangat sering menolak ajakan teman-teman. Bukan hanya ajakan bermaksiat, ataupun mengunjungi tempat maksiat, tapi juga acara-acara yang pelaksanaannya clash dengan waktu shalat. Salah satu contoh, seorang temanku mengajak ke acara pesta ulang tahunnya.

"Hi, man! This Saturday I will celebrate my birthday. I want you to come", ajaknya.
Aku tahu dia sering pesta-pesta dan bermabuk-mabuk ria dengan teman-temannya.
"Are you gonna provide alcoholic beverage on your party?" tanyaku.
"Sure", jawabnya santai.
"I'm sorry, I don't drink".
"Don't worry, I'll provide you juice and coke. C'mon, you're my friend. You have to come".

Terjadi pergulatan dalam hatiku.
"Nah, dia bakal nyediain jus ama sofdrink. Loe gak perlu ikutan mabuk. Dia udah bilang, 'you're my friend', lho. Masa sih loe tega nolak", salah satu sisi hatiku memberikan saran.
"Eh, gak bisa! Kalau tempat itu jadi tempat mabuk, berarti tempat itu jadi tempat maksiat. Loe gak boleh dateng ke tempat maksiat sekalipun loe gak ngelakuin maksiat. Lagian itu kan cuma pesta, loe kan gak ngelakuin hal-hal yang berkepentingan tingkat tinggi macam investigasi. Jadi loe gak boleh dateng!", sisi lain hatiku menolak.

"I am sorry, I can't", kataku padanya dengan nada sesal.
"Why? You don't have to drink. C'mon my friend...", dia mulai membujuk.

Aku mulai menjelaskan alasan-alasannya. Dan diapun mau menerima, walaupun raut kekecewaan jelas tergambar di mukanya. That made me so sorry, I was feel so bad to him.

Sekembalinya aku di kamarku, aku masih merasa tak enak. Hatiku mencoba menghibur diriku.
"Sudah, tak apa. Tak apa kau dinggap kampungan atau bahkan dibenci temanmu. Itu masih lebih baik daripada kau dibenci Allah. Mungkin membuat kecewa temanmu masih lebih baik daripada kamu harus membuat kecewa Allah dan rasul-Nya."

Hmmm... Apa yang engkau akan lakukan jika engkau menjadi aku, wahai Pembaca yang bijaksana?

Itu hanya salah satu contoh saja. Masih banyak cerita yang lain. Aku pun menolak pesta Halloween. Aku tahu, saat ini perayaan Halloween tidak ada kaitannya dengan agama manapun (CMIIW). Ini hanya pesta senang-senang yang sudah membudaya di tengah-tengah masyarakat Amerika Serikat. Just for fun. Tapi alasanku menolak adalah latar belakang histori dari perayaan ini. Semua orang pun tahu kalau perayaan Halloween berasal dari agama pagan yang kemudian berevolusi menjadi perayaan senang-senang. Jadi buat apa saya merayakan sesuatu yang berasal dari Paganist jaman kuno? Yang tentunya manfaatnya juga tak jelas. Tapi aku masih ngemut permen yang dibagi-bagikan saat perayaan Halloween, hehehehe... Sayang ntar gak ada yang makan :D

Bahkan saat break latihan gamelan, instrukturku, yang notebene orang Bali dan beragama Hindu, mengadakan makan-makan sebagai syukuran atas perayaan Galungan. Bagiku jelas, ini bagian dari perayaan agama lain. Maaf, mungkin benar kalau setiap agama mengajarkan kebaikan. Tapi bagiku, hanya Islam yang mengajarkan kebenaran. Mungkin pemeluk agama lain juga menganggap agamanya lah yang benar. Bagiku, jika aku berpartisipasi dalam suatu perayaan yang berkaitan dengan agama lain, berarti aku ikut mendukung suatu hal yang "tidak benar". Aku tak mau itu. Aku berusaja meng-azam-kan hatiku bahwa aku harus teguh dalam agamaku. Finally, aku lebih memilih keluar dan bergumul dinginnya udara dan salju Laramie yang membekukan tulang.Sementara di dalam kelas yang hangat, instrukturku, keluarganya, dan murid-muridnya yang hampir semuanya Americans, menikmati hidangan-hidangan nusantara khas Bali. Sedangkan aku lebih memilih menggigil kedinginan di luar. Apalagi lidahku sudah sangat merindukan masakan Indonesia. Sekali lagi, apa yang engkau lakukan jika engkau menjadi diriku, wahai Pembaca yang bijaksana?


Efeknya...


Lama-lama aku mulai merasa tersisihkan. Bukan teman-temanku yang menyisihkanku. Mereka justru sangat menghormati keyakinanku dalam Islam. Tapi diriku sendiri yang membuat aku tersisihkan. Aku tahu, letak permasalahanku bukanlah pada kondisi tempatku tinggal, tapi pada diriku sendiri. Mungkin aku tak pandai dalam memposisikan diriku pada suatu komunitas yang sangat berbeda dengan diriku. Mungkin aku tak begitu cerdas dalam bermasyarakat pada lingkungan yang baru. Nyatanya, banyak (mungkin lebih tepatnya beberapa) teman Muslim-ku yang bisa bermasyarakat dengan baik tanpa melanggar syari'ah (hanya dalam pengamatanku saja, wallahu'alam).

Terkadang aku merasa kesepian, merasa hidup tanpa arah, merasa hidup sendiri padahal aku ada di negara adikuasa dengan populasi terbesar nomor 3 di dunia. Terkadang aku merasa tak punya teman Seringkali tiap aku makan di Dining Hall, aku hanya memandangi langit Laramie dengan tatapan kosong. Entah bagaimana aku harus memecahkan masalah yang ada dalam diriku. Hal ini sering membuatku menangis dalam sepi.

Jelas, stress pun melanda. Aktifitas akademik pun ikut terpengaruh. Nilaiku drop, jatuh bebas. Makin stress pula diriku ini. Aku sangat malu dengan World Learning, organizer dari beasiswaku. Tiap kali World Learning meminta transkip nilaiku, aku jadi super stress. Tak jarang aku menendang lemari atau memukul tembok hingga tanganku nyeri-nyeri. Akhirnya terbentuklah semacam ketakutan tiap kali aku melihat foto atau nama salah satu staf World Learning. Apalagi mendengar cerita-cerita teman-temanku yang seprogram dengan aku, mereka punya banyak teman dan nilainya pun bagus-bagus. Ingin pecah rasanya kepalaku. I felt I was stupid-ass, maybe the most stupid grantee of the year!

Dadaku sudah sesak, tak tahan lagi. I want friends that I can share my misery and pain.

Thanksgiving mulai mendekat. Thanksgiving adalah acara syukurannya Americans atas kelimpahan nikmat yang dianugerahkan Tuhan pada mereka. Dahulu, acara ini dirayakan karena berhasilnya panen rakyat Amerika. Namun sekarang mereka tetap merayakannya walaupun mereka tidak bercocok tanam ataupun beternak. Yang penting ngerayain.

Salah satu teman dekatku yang berdarah campuran Amerika - Swiss, mengundangku untuk makan malam Thanksgiving dengan hidangan utama daging kalkun. Dia berjanji untuk tidak menyediakan babi untuk malam itu. Kali ini aku tak dapat menolaknya. Aku ingin hidup tanpa tersisihkan. Aku ingin bisa memasyarakat dengan komunitas setempat. Selain itu dia juga teman baikku. Salah satu sisi hatiku juga membisikkan, "Thanksgiving adalah bentuk rasa syukur. Jadi syukuri nikmat yang Allah berikan padamu. Kalau mereka bersyukur pada illah mereka, bersyukurlah kamu pada Rabb-mu yang Maha Pemurah."

Thanksgiving dinner with Americans familly


Aku tidak meng-claim bahwa apa yang dikatakan salah satu sisi hatiku benar. Mungkin juga salah. Tapi apa daya, aku tak mampu menolak ajakan temanku. Semoga Allah mengampuni hamba-Nya yang bodoh lagi lemah ini.

Kalau itu adalah suatu pelanggaran Syariah, maka tentunya saya sudah banyak pelanggaran lain yang aku lakukan. Cerita Thanksgiving hanya salah satu contoh saja. Masih banyak peristiwa yang lain. Anyway, kini aku mulai menyadari betapa rapuhnya iman yang aku miliki. Tiap kali aku memikirkan hal itu, aku menjadi ingin menangis.


Finally...

Lalu apa kesimpulannya? Aku menyadari bahwasannya aku bukanlah seorang "ikhwan". Dulu, aku sempat menjadi Asmen (asisten mentor) yang medampingi seorang mentor saat mentoring Agama Islam pada adik-adik kelas. Dan kini aku mengucapkan "Alhamdulillah" karena aku tidak terpilih menjadi seorang mentor. Bila terpilih, aku akan merasa menjadi orang yang paling munafik. Memang Allah tahu sebatas mana iman hamba-Nya bisa bertahan.

Namun demikian, bukan berarti aku menjadi luntur tiap kali ada ajakan dari teman. Aku tetap menolak ajakan teman-teman untuk datang ke bar atau pub sekalipun mereka mengatakan kalau aku bisa memesan coke saja. Aku juga masih shalat 5 waktu, puasa, dan juga rutin ke masjid tiap jumat. Aku juga tak melakukan free sex walaupun free sex adalah hal yang biasa. Aku masih memiliki sedikit dinding iman yang menjagaku.

Demikian curhat-ku kali ini. Semoga bisa memberikan tambahan pengetahuan bagi pembaca sekalian.


---
Cerita ini didasarkan pada pengalaman nyataku, namun harus kuakui aku tidak menceritakan seluruhnya. Yang aku ceritakan hanya sebagian saja. Mengapa? Karena tak mungkin bagiku untuk menelanjangi diriku sendiri di muka umum. Terlalu banyak noda yang ada pada diriku...

Wednesday, April 28, 2010

Ramadan in USA

Assalamu'alaykum. Sesuai janji di postingan sebelumnya, akhirnya aku posting juga cerita tentang Ramadhan di USA. Walaupun agak telat, tapi insya Allah, bisa untuk berbagi cerita dengan pembaca. Yah, inilah pengalaman pertama merasakan puasa fardhu diantara orang-orang yang tak puasa. Pertama kali merasakan nuansa Ramadhan yang hanya disambut segelintir orang. Pertama kali merayakan Idul Fitri jauh (benar-benar jauh) dari keluarga. Idul Fitri tanpa sembah sungkem pada dua orang tua. Malam Idul Fitri yang sama seperti malam biasa (secara kasat mata), tanpa mendengar takbir di malam Idul Fitri. Banyak suka dukanya. Pengen tahu? Simak terus..


Bagi pengguna komputer langsung saja baca di blog saya, klik:
http://www.yugoananda.com/2010/04/ramadan-in-usa.html

Jumat, 30 Sya'ban 1430 atau yang bertepatan 22 Agustus 2009, dengan sedikit rasa curious, dan juga cemas. Kenapa? Masalah uang. Lho? Soalnya, saat Ramadan tiba otomatis aku hanya bisa makan setelah Maghrib hingga Shubuh. Saat itu, jadwal Shalat Maghrib pukul 7:52 pm MST dan Shubuh pukul 4:58 am MST. Dan Washakie Center (Dining Hall of UW), buka pukul 7:00 am MST dan tutup pukul 7:00 pm MST (bukan akhir minggu).  Ini artinya aku tidak bisa memanfaatkan Dining Hall. Padahal stipend-ku tak mungkin mencukupi untuk makan selama Ramadhan, karena memang jatah makan dan akomodasi sudah aku terima mateng, bukan dalam uang. Jadi stipend-ku memang tak banyak, hanya sekedar untuk keperluan-kepeluan yang tak ter-cover seperti uang laundry, deterjen, pulsa hape, dan yang semacamnya. Hal ini membuatku sedikit pusing.

Alhasil, terbesit sebuah ide,

"Ya sudah, bawa aja lunch box ke Dining Hall. Masukkin dah tuh makanan ke lunch box. Kan bisa buat buka dan sahur. Hmmm..."

Aku laksanakan ide ini selama sebulan. Dan untungnya pula Laramie Islamic Center menyediakan buka bersama secara cuma-cuma sebulan penuh. Makanannya bukan sekedar makan ringan untuk pembuka puasa. Tapi juga makan berat. Menunya pun  berubah-ubah. Terkadang masakan khas Libya, Arab Saudi, Mesir, ataupun India. Mantaplah pokoknya. Hal ini membuatku tak perlu repot-repot bawa banyak makanan dari Dining Hall, cukup untuk  sahur saja.

"Wah walaupun Muslimnya tak banyak, tapi fasilitasnya mantap. Kalau di ITT, MSU hanya menyediakan makan ringan seperti gorengan dan kolak. Sekedar pembuka. Tapi disini? Wow, mantap..."


Hari-hari Pertama

1 Ramadhan jatuh beberapa hari sebelum kuliah Fall Semester 2009 dimulai. Berhubung belum ada aktifitas yang berarti, puasa pertamaku lumayan lancar-lancar saja. Namun tetap saja ada sedikit hindrance dalam menjalankannya. Terutama masalah roommate. Aku sering merasa tak enak bangun sebelum fajar menyingsing. Karena saat itu aku belum memilik lampu belajar, jadi tiap kali aku bangun aku harus menyalakan lampu kamar. Dan sepertinya roommate-ku tak suka dengan sinar lampu saat dia tidur. Bagi dia bangun sebelum jam 4:00 am adalah hal yang aneh. Mungkin bagi dia "kurang kerjaan". You know lah, Americans kan bangunnya pada siang-siang. Belum lagi alarm hape dan suara-suara berisik lainnya yang aku timbulkan saat aku mempersiapkan santap sahur. Aku pernah mendengarnya mengeluh di pagi buta saat aku bersiap-siap untuk sahur.

"Jesus...!!!", keluhnya sambil melihat jam di hapenya. Dengan secepat kilat dia menarik selimutnya yang tebal untuk menutup semua badannya termasuk kepala dan telinganya. Badannya pun ia balikkan sehingga memunggungiku. Dia mengadap ke arah dinding untuk menghindari sinar lampu.

Tentu saja, melihat kejadian ini aku menjadi sangat tak nyaman. Aku merasa tak enak menganggu tidurnya. Belum lagi bila tiba-tiba orang tuaku menelepon saat aku bersahur. Akhirnya aku minta orang tuaku untuk tidak meneleponku di pagi hari.

Aku memang sudah berbicara dengan roommate-ku tentang aktifitas bulan Ramadhan yang bakal aku lakukan. Termasuk bangun pagi. Kata dia sih oke-oke saja. Tapi secara teknis, aku sering merasa tak enak. Dan aku mulai menyadari rintangan-rintangan di bulan Ramadhan mulai menyerang.


Minggu-minggu Berikutnya

Mungkin bisa dibilang, Ramadan di tahun 2009 adalah Ramadan terberatku. Mungkin kalau berbicara masalah berat ringannya, tergantung iman seseorang. Dan mungkin saja imanku memang tak tebal. Di Indonesia, Muslimin adalah kaum mayoritas. Suasana Ramadhan sangat mendukung, dan banyak teman yang saling mengingatkan dan menjaga. Jadi Ramadhan di Indonesia terasa lebih mudah. Yah, mungkin memang iman saya tak seberapa tebalnya...

Jujur saja, kali ini aku mulai merasakan tidak enaknya tinggal di USA. Bulan pertama memang bagaikan Honey Moon. Semua tampak baru, pengen nyoba. Tapi bulan-bulan berikutnya, Aku merasakan hidupku seperti tak punya arah. Aku sering bertanya pada diriku sendiri,

"What am I doing in USA? For what purpose am I here?"

OK, mungkin biar keep on track aku bakal cerita soal "depresi"ku di USA di postingan yang lain. Konsen ke Ramadannya dulu saja.

Berhubung Fall Semester dimulai, praktis, kampus yang aku sering kunjungi ini berubah menjadi ramai. Kampus dipenuhi mahasiswa. Pokoknya kayak yang di tivi-tivi lah. Aku mulai mencoba bersosialisasi dengan Americans dan international students.

Aku berusaha untuk istiqomah dalam menjalankan ibadah puasa di tengah-tengah masyarakat majemuk. Aku sering menolak ajakan teman-teman karena aku takut menganggu ibadah puasaku. Contohnya, mereka sering mengadakan kegiatan di malam hari (karena siangnya kuliah), tapi kan malam hari waktuku untuk Shalat Tarawih. Jadi aku tolak. Mereka sih pengertian-pengertian aja. Tapi makin banyak yang aku tolak, rasanya aku jadi tak punya teman. Aku seperti menyisihkan hidupku sendiri dari komunitas. Dan ini rasanya sangat-sangat tidak enak. Seperti siksaan halus. Sangat bertentangan dengan sifat asliku di Indonesia, yang selalu kumpul-kumpul bareng teman, ya walaupun terkadang menyendiri untuk menenangkan hati.

Dan aku merasa seperti berjuang sendiri di tengah-tengah bulan Ramadan. Aku hanya berjumpa dengan Muslim yang lain saat shalat tarawih. Aku melakukan ini dan itu sendirian, belum lagi godaan-godaan yang lain ikut menyerang. Sampai-sampai hati kecilku bersuara

"Kapan Idul Fitri datang....?"

Mungkin ini adalah kata-kata yang tak sepatutnya diucapkan. Sebagai Muslim yang baik, Ramadhan menjadi berkah bagi dirinya. Tak ayal jika banyak Muslim dengan senang hati menyambut Ramadhan dan bersedih hati ketika Ramadhan akan pergi meninggalkan mereka. Seperti mereka ingin berlama-lama dengan Ramadhan.

Tapi aku tidak, aku seperti menginginkan Idul Fitri segera tiba. Astaghfirullah, semoga Allah mengampuni hamba-Nya yang lemah ini. Aku berusaha menguatkan diriku sendiri,

"Ayo, Go! Kamu pasti kuat! Pasti kuat! Allah bersama hamba-Nya yang sabar"

Karena sempat terpikirkan agar Idul Fitri segera tiba, aku "menghukum" diriku sendiri dengan menuntut diriku untuk menunaikan ibadah Shalat Tarawih satu bulan penuh dan khatam Al Qur'an.

Aku menunaikan Shalat Tarawih di Laramie Islamic Center. Jaraknya sekitar 8 blok dari asramaku. Mungkin sekitar 1 kilometer. Saat itu, Fall telah tiba. Dan di Wyoming, Fall dan Winter seperti tidak ada bedanya. Aku sempat berpikir tak mungkin turun salju saat Fall. Tapi kenyataannya memang salju sering turun saat Fall, bahkan Spring!

Pukul 7:00 pm MST dengan niat yang sungguh-sungguh, kukayuh sepedaku dari asrama menuju Islamic Center untuk berbuka puasa, shalat Maghrib, shalat Isya, dan shalat Tarawih. Sekalipun angin yang dingin menggigit tulang menderu-deru, tetap kukayuh sepedaku. Ini bukan lebay, tapi emang bener-bener dingin. Belum lagi angin Wyoming yang kencengnya nau'dzubillah.

Fall but feels like Winter

Shalat tarawih biasanya selesai sekitar pukul 11:00 pm MST. Angin bertambah dingin, tapi aku harus pulang. Besoknya ada kuliah, dan tentu saja aku harus sahur supaya ada tenaga. Karena siangnya lebih lama daripada malam. Tak kusangka, Wyoming di malam hari bisa begitu dingin. Itu masih Fall, belum Winter. Langitnya pun kadang-kadang tampak menyeramkan. Cahaya lampu kota yang menyorot ke langit membuat awan yang bergulung-gulung tampak mengerikan.

Intinya, aku memerlukan effort yang jauh lebih banyak untuk menunaikan ibadah puasa di USA. Mungkin dikarenakan aku masih baru di sini, jadi belum terbiasa dengan kondisi di USA. Mungkin bagi yang sudah merasakan Ramadhan di USA lusinan kali sudah dianggap hal biasa.


Akhir Ramadhan

Alhamdulillah, akhirnya aku tetap bisa khatam Al Qur'an dan shalat Tarawih penuh satu bulan. Puasanya juga gak pake bolong. Namun 2 hari sebelum Idul Fitri fisikku drop. Aku meriang, badan panas, dan kerongkonganku sakit. Mungkin karena angin malam yang dingin itu. Tapi hal itu tidak membuatku berhenti ke Islamic Center untuk Shalat Tarawih. Alhamdulillah, Allah masih memberiku pertolongan.

Aku sebenernya sempat melihat seorang Muslim yang masih makan minum di siang hari di Bulan Ramadhan di Dining Hall. Kalau aku denger ceritanya sih, dia merasakan apa yang aku rasakan. Cuma mungkin dia gak tahan, jadi gak puasa. Wallahu'alam.


Idul Fitri

Akhirnya malam Idul Fitri tiba. Aku dikabari orang tuaku kalau mereka sudah membayarkan zakatku.

Aku hanya bertakbir dengan suara yang lirih, dan itupun kalau roommate-ku sedang tak ada di kamar. Entah, rasanya seperti ingin menangis. Rasa "ingin menangis" juga sempat aku alami saat pertama kali aku mendengar adzan di Laramie Islamic Center.

Keesokan harinya, 1 Syawal 1430 H yang bertepatan dengan 20 September 2009, aku kenakan Baju Kokoku dan kukayuh sepedaku ke Larami Islamic Center untuk shalat Ied.

Setiba disana, sudah banyak orang yang takbiran. Jujur saja, irama takbiran di Indonesia jauh lebih merdu, hehehe...

Selepas shalat Ied, aku dan Muslim lainnya bergerak menuju basement untuk makan-makan. Makanannya dari berbagai negara. Malaysia, Mesir, Arab Saudi, Libya, Bangladesh, dan lain lain. Setelah acara makan seleseai dilanjutkan dengan kuis Brothers Vs Sisters. Pokoknya asiklah. Setelah puas berkuis-kuis ria, acara dilanjutkan dengan makan siang dan Shalat Dhuhur.

Acara selesai, aku kembali ke asrama .

Suasana selepas Shalat Ied

Makan-makan... :D


Salju Turun!

Hari Senin pagi, 2 Syawal 1430 H, roommate-ku masih tidur, mungkin sekitar jam 5:30 am MST, aku melihat dari jendela benda putih halus seperti kapas jatuh dari langit. Aku pikir itu adalah abu vulkanik.

"Eh? Mana ada volcano di Laramie. Itu... itu... Itu SALJU...!!! Masya Allah, aku lihat salju!"

Kemudian aku merenung,

"Subhanallah, memang benar, suatu hal yang wajar bila turun salju pada musim gugur. Alhamdulillah, Allah menurunkan salju setelah Ramadhan usai. Aku tak bisa bayangkan jika salju turun di bulan Ramadhan. Bila hal itu terjadi, bagaimana aku menunaikan Shalat Tarawih? Subhanallah, pertolongan Allah sangat dekat dan ada dimana-mana..."

Jujur, aku hampir menangis saat menuliskan kalimat itu.

O ya, satu lagi. Setelah beberapa bulan berjalan, aku baru tahu bahwa membawa makanan dari Dining Hall adalah TERLARANG!. Residence Life and Dining Hall bisa mengambil kartuku, atau bisa dibilang unlimited mealplan-ku bisa terancam. Sekalipun dengan alasan "makanan saya tak habis, jadi daripada mubadzir, saya bawa pulang". TIDAK BISA. Mereka lebih memilih membuang makananmu daripada kamu membawa makanan ke luar Dining Hall. Mungkin mereka takut banyak orang bakal "menjarah" makanan dari Dining Hall. Dan aku hebohnya, aku melakukan hal itu selama sebulan dan tak ada yang tahu. Sudah berapa saja makanan yang aku ambil dari Dining Hall. Lagi, Allah masih melindungi hamba-Nya ini.

Lanjut masalah salju. Akupun berangkat kuliah di pagi itu sambil senyam-senyum gak jelas. Karena aku melihat SALJU. SALJU, wooohoooo.... Tak terbayangkan rasanya saat tangan ini memegang butiran salju, dan senang rasanya ketika salju yang selembut dan seputih kapas jatuh di rambutku. Kayak yang di tivi-tivi lah... :D

Begitu saja... :)


-----
Daftar Istilah:
MST: Mountain Standar Time
Stipend: Uang Saku/Gaji/Beasiswa
Hindrance: Halangan
Curious: Ingin Tahu
Dining Hall: Aula/Gedung Tempat Makan
Roommate: Teman Sekamar 
Effort: Usaha
Fall/Autumn: Musim Gugur
Winter: Musim Salju/Dingin
Spring: Musim Semi
Summer: Musim Panas

Wednesday, April 7, 2010

Scholarship to USA: CCIP

Assalamu'alaykum. I have a good news for those who already graduated from D1, D2, D3, or S1. This scholarship helps you to improve your skill and get jobs easier, insya Allah. So what are you waiting for? Fly to USA, get sufficient education, and get your job when you are back to Indonesia. May Allah help me and y'all.








COMMUNITY COLLEGE INITIATIVE PROGRAM

The Bureau of Educational and Cultural Affairs of the United States Department of State is pleased to announce the Community College Initiative Program. This new international educational exchange program enables individuals from Brazil, Egypt, Indonesia, Pakistan, Turkey and South Africa to study at a community college in the United States to develop professional skills.

Eligible fields are Business Management and Administration; Tourism and Hospitality Management; Health Professions, including Nursing; Media; Information Technology; Security and Public Safety; and Engineering Science.

ELIGIBILITY

To apply to the program, candidates must:
  • Have completed a secondary school education; D1, D2, D3 and S1
  • Preference will be given to High School Diploma
  • Applicants with a Bachelor’s degree are eligible if they are applying in a field different from the field of their degree and have relevant work experience in the field for which they are applying.
  • Applicants with MA or PhD degrees are not eligible to participate.
  • Have relevant work experience in the field in which they are applying;
  • Have English language skills that provide a basis for enrolling in academic coursework following approximately 6 months of intensive English language study in the U.S.;
  • Submit a complete application; and
  • Minimum Institutional TOEFL score 500 or TOEIC score 650 atau IELTS 5.0 (only scores less than 2 years old are valid).

U.S. PROGRAM

The Community College Summit Initiative Program will provide funding for round-trip airfare to the U.S.; a living allowance during English language, academic, and practical training program components; tuition costs; health insurance; and cultural enhancement activities. Students will be hosted in groups by community colleges competitively selected to participate in the program. Programs may range from six months to two years in duration and may result in either a certificate or an Associate Degree. Students are required to return home at the end of their program and may not transfer to a four-year U.S. academic institution.

SUBMISSION OF APPLICATIONS

AMINEF is administering this program on behalf of the Bureau of Educational and Cultural Affairs of the United States Department of State. Please return to AMINEF your complete application package (original application and two copies) by the application deadline that includes:
  • Completed application form.
  • Copy of your most recent, less than two years old, TOEFL/TOEIC/IELTS score report.
  • Copy of high school diploma (English translation).
  • Copy of identity document (KTP or passport).

Please send the application package to:
AMINEF Office,
Gedung Balai Pustaka, 6th floor,
Jl. Gunung Sahari Raya 4,
Jakarta 10720
NO LATER November 1, 2010.

For additional information, contact infofulbright_ind@aminef.or.id.

We do not accept email applications. Hard copies must be sent or delivered to American Indonesian Exchange Foundation.

To download form click here

Tuesday, April 6, 2010

First Month in USA

Assalamu'alaykum. Cerita petualanganku di Negeri Paman Sam kembali berlanjut. Masih ingat di episode sebelumnya ketika aku baru tiba di asrama untuk summer break housing? Kalau gak ingat ya klik aja di sini. Saat itu, dalam kondisi loyo karena melewati perjalan yang jauh, dan hampir tengah malam, Shawn memberi tahuku kalau besok aku harus ikut tes Bahasa Inggris, sebuah placement test. Karena dalam Spring Break ini, aku diwajibkan mengikuti kelas bahasa Inggris sebulan. Jadi perlu ada placement test. Tes Bahasa Inggris? Wah, belajar saja enggak, haduuuh...

"Masa bodo, ah. Tes besok pagi? Ya udah kerjain aja. Sekarang mah tidur...", pikirku.

Bagi pengguna PC/Laptop, langsung saja baca di blog aslinya. Klik di sini

Esoknya, 27 Juli 2009, pukul 8:00 MST, aku sudah siap. Ku ambil tas ranselku, dan menuju elevator (atau yang biasa orang Indonesia sebut dengan "lift", padahal "lift" kan kata kerja.). Dari lantai 12, elevator bergerak turun menuju lobi, lantai 1. Pintu elevator terbuka, dan aku melihat Shawn sudah menungguku di lobby. Kita pun beranjak dari McIntyre Hall menuju Cheney International Center.

Hari sangat cerah, matahari bersinar terik. Saat itu memang sedang summer, dan bertepatan dengan Summer Break, dimana mahasiswa UW (University of Wyoming) sedang menikmati liburan panjangnya, dari Mei hingga Agustus. Hari memang cerah, tapi kulitku merasakan hal yang berlawanan.

"Loh kok dingin banget? Tadi kulihat dari jendela kamar mataharinya bersinar terik, aku pikir panas. Kok dingin gini? Padahal summer, gimana winternya...?"

Setelah keliling-keliling kampus ngurus ini-itu, aku dikenalkan oleh Shawn dengan teman-temanku yang seprogram. Mereka adalah Liu Xue dari RRC, Lal Ram Hngak dari Myanmar, dan Anan Bouapha dari Laos. Sebenarnya masih ada Raul dari Venezuela dan Emmanuel dari Filipina. Tapi Raul bakal datang (aduh, gimana sih bahasa Indonesianya "would come", ceritanya "akan" tapi udah lampau. Kadang-kadang susah juga kalo gak ada tenses) di bulan Agustus 2009 dan Emmanuel bakal datang di Spring Semester, Januari 2010. Mereka berdua mendapat program satu semester.

Tes Bahasa Inggris pun dimulai. Mirip kaya TOEFL PBT. Ada reading, grammar, dan juga listening. Singkat cerita, aku selesai mengerjakan tes.

Selepas mengerjakan tes, kami berempat get mingle dengan baik. Tak lama kami bisa menjadi akrab. Makan siang bersama, dan pulang ke asrama bersama. Dan aku pun tersadar kalau salah satu dari temanku itu seorang gay (Hah...?!). He confessed before my face! Ya sudah lah, it doesn't matter. Interesting juga sih, pengalaman pertama memilik seorang teman yang homosexual.

Esok harinya, kami sudah berada di kelas tempat belajar Bahasa Inggris. Saat itu juga diumumkan hasil test kemarin. Alhasil, berdasarkan hasil tesku, aku ditempatkan di Advance Class.

"Alhamdulillah, lumayan lah.", ucapku dalam hati.

Pembagian kelas dimulai. Satu hal yang bikin kaget. Aku melihat seorang wanita berparas timur tengah yang mengenakan jilbab. Kalau di Indonesia sih biasa-biasa aja liat cewek berjilbab. Tapi setelah di USA, liat beginian rasanya bahagia banget. Kusamperin dia.

"Excuse me, are you a Muslim?", tanyaku
"Yes..."
"Do you know where the nearest Masjid here?"
"Yes, my friends can show you where it is. Are you a Muslim?"
"Alhamdulillah, I am. By the way, where do you come from?"
"Arab Saudi"
"Wow..."

Dan tiba-tiba, seorang laki-laki ras arab datang.
"He is a Muslim, too", kata wanita berjilbab itu.
"Are you a Muslim?", pria arab itu mencoba membuka pembicaraan.
"Alhamdulillah, brother"
"Where do you come from?"
"Indonesia. A country with the largest Muslims population in the world"
"Oh, Apa kabar?"
"Eh? Alhamdulillah baik. Do you speak Indonesian?"
"No, I only know those words. Because I've been in Indonesia"
"That's awesome..."

Setalah ngomong ngalor ngidul, kelas dimulai. Aku makin kaget setelah masuk kelas. Kelasku didominasi ras arab. Ada yang dari Arab Saudi, ada juga dari Libya. What does it mean? It means my class is dominated by Muslims. Terus? Terus ya berarti shalat jumatnya gampang, hehehe... Dan memang, alhamdulillah, mereka bersedia mengantarku dengan mobil untuk menunaikan shalat jumat di Laramie Islamic Center. Hingga sekarang! Tak kusangka, di Wyoming, state dengan populasi terendah di USA (bahkan lebih rendah ketimbang Alaska), aku menemukan banyak saudara Muslim di sini. Alhamdulillah...

Di depan salah satu plaza di kampus UW

Di Elitch Garden, Dufannya Denver, Colorado. Aku ambil foto ini dari wahana "kincir angin" (maaf, gak tau namanya)

Kelas Bahasa Inggrisku berjalan dengan sangat menyenangkan. Walaupun banyak tugas, tapi, alhamdulillah, aku bisa menyelesaikannya dengan baik. Lha wong sebagian materinya kaya materi anak SMA, hehehe...

Tak hanya itu, kita banyak acara jalan-jalanya. Ke Denver, Snowy Range, Vedauwoo, dan lain-lain. Bulan pertamaku di USA sangat menyenangkan. Hidup bagaikan aliran sungai yang tenang, semua hal baru terasa indah, tanpa beban. Ahhh...

 Di samping sebuah danau di Snowy Range

Tahu gak? Snowy Range tetep berasa sangat dingin sekalipu saat Summer. Aku harus endure dinginnya Snowy Range untuk bisa berpose seperti itu.

Namun hal itu hanya sebulan. Begitu Fall semester dimulai, kurasakan bahwa hidupku tak lagi senikmat bulan pertama. Apalagi Ramadhan, bulan yang penuh kemuliaan datang sebelum kuliahku di UW dimulai. Ujiannya makin berat.

Bagaimanakah Ramadhanku di USA? Tunggu kisah selanjutnya... :D

Friday, April 2, 2010

2011 – 2012 Global UGrad Exchange Program

Assalamu'alaykum. For y'all guys that wanna experience how to study in USA, there is a scholarship program from Fulbright that allows you to do so. It is Global Undergraduate Exchange Program, so-called "Global UGrad". Just for exchange, understanding culture of Indonesia and USA. Just so you know, I am a Ugrader from Bandung, West Java, Indonesia. It's so amazing to have such an experience. Hope this information can give benefit.


For you that PC/laptop user you can directly go to: http://www.yugoananda.com/2010/04/scholarship-global-ugrad.html


Program Description:

The Office of Academic Exchange Programs in the Bureau of Educational and Cultural Affairs of the U. S. Department of State, is pleased to announce a new exchange program for undergraduate students-the 2011 Global Undergraduate Exchange Program (Global UGRAD)

The Global UGRAD Program provides scholarships for one semester or one academic year of U.S. Study in a NON-DEGREE Program. The goals of the program are to provide a diverse group of emerging student leaders, from non-elite and underrepresented groups in Indonesia and East Asia.

All global UGRAD Program participants will be enrolled full-time in undergraduate course work chosen from the institution’s (US) existing curriculum to allow students ample opportunity for ongoing interaction with U.S. Faculty and student peers, and for exposure to U.S. academic and classroom culture..

To ensure that students succeed in their new academic environments, host institutions will offer tailored instruction on topics including academic research and writing, critical thinking, time management, note taking, and studying for and taking tests. Participants will live on campus with American peers.

Students will also be provided with opportunities to participate in up to ten hours of community service per semester. Additionally, an internship component will be offered to all academic-year participants during the academic component of the program. Internships will be related to each participant’s field of study and/or career plans.

Participants may be eligible for up to 4 weeks of intensive English Language instruction in the United States prior to the start of academic portion of their program.


Eligibility:

1/ Scholarships will be granted to students who currently are enrolled in S-1 degree programs only, and have completed their first semester and up to their firth semester of undergraduate study at an Indonesian university.

2/ Applicants should demonstrate leadership potential through academic work, community involvement, and extracurricular activities.

3/ Applicants must have minimum institutional TOEFL score of 500-score or IELTS 5.0 less than two years old. In some cases a personal interview by a fluent qualified Native English Speaker who can confirm that the nominee would be able to achieve that score when tested is acceptable. Candidates must also meet all the requirements of the institution where admission is being sought.

4/ Preference will be given to those who have had little or NO experience in the U.S. or outside of their home countries.

5/ Applications can be for either for one semester or two semesters based on nominee’s availability. No applications should be submitted for both one semester and full year programs.

6/ Applicants are required to return to Indonesia after the completion of the one or two semester program.


Submission of Applications

An original application and two copies should be submitted to the address below by: November 1, 2010
American Indonesian Exchange Foundation (AMINEF)
Gedung Balai Pustaka Lt. 6
Jl. Gunung Sahari Raya No. 4, Jakarta 10720
Tel. 021- 3452016

Applications are available at the AMINEF offices or can also be downloaded from AMINEF website at www.aminef.or.id

For additional information, contact infofulbright_ind@aminef.or.id.

We do not accept email applications. Hard copies must be sent or delivered to American Indonesian Exchange Foundation.

To download form click here

Saturday, March 6, 2010

Saya Menginginkan Dunia Plus 5%-nya

Assalamu'alaykum. Ternyata suatu sistem yang bekerja pada peradaban manusia di bumi tidaklah seindah mata melihat. Banyak sekali hal-hal yang diluar dugaan kita. Sebut saja sistem perekonomian dunia. Okelah, tak perlu berpanjang lebar. Langsung  saja simak artikel saya kali ini. Oya, sebenarnya ini copas dari suatu blog dengan maksud hati untuk sharing dengan teman-teman sekalian dan tentunya telah mendapat ijin dari sang pemilik artikel.


Bagi pengguna komputer (laptop/PC) langsung saja ke blog-ku, klik di sini

Bab I dari Buku : Masa Lalu Uang & Masa Depan Dunia
Penerbit : Pustaka Pohon Bodhi (Oktober 2007)

Terjemahan dari artikel : Larry Hannigan


sebuah dongeng sebelum memulai...

Saya Menginginkan Seluruh Dunia Plus 5%

Fabian sangat bahagia karena dia akan menyampaikan sebuah pidato ke masyarakat besok. Dia selalu menginginkan kekayaan dan kekuasaan dan sekarang impiannya akan segera menjadi kenyataan. Dia adalah seorang tukang emas, mengukir emas dan perak menjadi perhiasan, tetapi semakin lama semakin tidak puas karena harus bekerja keras dalam hidupnya. Fabian menginginkan kesenangan, dan juga tantangan, dan sekarang rencana barunya siap untuk dimulai.
Selama puluhan generasi, masyarakat terbiasa dengan sistem perdagangan barter. Seseorang akan menghidupi keluarganya dengan memproduksi semua yang mereka butuhkan ataupun mengkhususkan diri dalam perdagangan produk tertentu. Kelebihan dari yang dia produksi, akan dia tukarkan dengan kelebihan barang lain yang diproduksi orang lain.

Pasar setiap hari ramai dan bersemangat, orang-orang berteriak dan melambaikan dagangannya. Sebelumnya pasar adalah tempat yang menyenangkan, tetapi sekarang jumlah orang terlalu banyak, pertengkaran pun semakin banyak. Tidak ada lagi waktu untuk ngobrol dan bercanda, sebuah sistem yang lebih baik mulai diperlukan.
  
INI ADALAH TUJUAN SATU-SATUNYA DARI PEMERINTAH (GOVERNMENT) DAN SETIAP ANGGOTA PEMERINTAH DIPILIH SECARA SUKARELA OLEH ANGGOTA KOMUNITAS YANG ADA.

Namun, ada masalah yang tidak bisa mereka selesaikan di perdagangan pasar sehari-hari… Apakah sebelah pisau senilai dengan dua keranjang jagung? Apakah seekor kerbau lebih berharga dari seekor ayam…? Orang-orang menginginkan sistem yang lebih baik.

Fabian mengiklankan diri kepada masyarakat, “Saya punya solusi atas masalah barter yang kita alami, dan saya mengundang kalian semua untuk sebuah pertemuan publik besok harinya.”

Besok harinya orang-orang pun berkumpul di tengah kota dan Fabian menjelaskan kepada mereka konsep tentang “uang”. Masyarakat yang mendengarkan pidatonya terkesan dan ingin mendengar lebih banyak.

“Emas yang saya produksi menjadi perhiasan adalah logam yang luar biasa. Dia tidak akan berkarat, dan bisa bertahan sangat lama. Saya akan membuat emas dalam bentuk koin dan kita akan menyebut setiap koin dengan nama dolar”

Fabian menjelaskan konsep tentang nilai, dan bahwa “uang” akan menjadi medium pertukaran barang, sebuah sistem yang lebih baik daripada barter.

Salah satu dari anggota pemerintah bertanya “Tetapi orang tertentu bisa menambang emas sendiri dan membuat koin untuk diri mereka sendiri”

“Ini tidak boleh diterima” kata Fabian. “Hanya koin-koin yang disetujui pemerintah yang boleh digunakan, dan kita akan membuat stempel khusus di koin-koin tersebut.” Ini kedengarannya masuk akal dan orang-orang pun mulai menyarankan agar setiap orang mendapatkan sama banyak. “Tetapi saya yang paling pantas mendapatkan lebih” kata si pembuat lilin. “Tidak, saya lah yang berhak mendapatkan lebih,” kata si petani. Dan pertengkaran pun dimulai.

Fabian membiarkan mereka bertengkar selama beberapa saat, kemudian berkata, “Karena tidak ada kesepakatan di antara kalian semua, biarlah saya yang menentukan angkanya buat Anda. Tidak ada batasan berapa koin yang akan Anda dapatkan dari saya, semua tergantung kemampuan Anda untuk membayar. Semakin banyak yang Anda dapatkan, semakin banyak yang harus Anda kembalikan tahun depan.”

“Lalu apa yang akan kamu dapatkan?” kata salah satu pendengar.

“Karena saya yang menyediakan jasa ini, yaitu suplai uang, maka saya berhak mendapatkan bayaran dari kerja kerasku. Untuk setiap 100 koin yang Anda dapatkan dari saya, Anda akan membayarkan kembali kepadaku sebanyak 105 koin tahun depannya. 5 koin ini adalah bayaranku, dan saya akan menyebutnya bunga.”

Kedengarannya tidak terlalu buruk, lagipula 5% sepertinya tidak banyak. Maka orang-orang pun setuju. Mereka sepakat untuk bertemu seminggu kemudian dan memulai sistem baru ini.
Fabian tidak membuang waktu. Dia membuat koin emas siang dan malam, dan seminggu kemudian dia pun siap dengan koinnya. Orang-orang antri panjang di depan tokonya. Setelah dicek dan disetujui oleh pemerintah, koin emas Fabian resmi diedarkan. Sebagian orang hanya meminjam sedikit koin, setelah itu mereka segera pergi ke pasar mencoba sistem baru ini.

Masyarakat segera menyadari sisi baik dari sistem ini, dan mereka pun mulai menilai harga setiap barang dengan koin emas atau dolar. Orang-orang memberikan harga pada dagangannya sesuai dengan usaha untuk memproduksi barang tersebut. Barang yang mudah diproduksi harganya lebih rendah, dan barang yang sulit diproduksi harganya lebih mahal.

Alan adalah seorang tukang jam. Satu-satunya di kotanya. Jam yang dia buat sangatlah mahal, tetapi orang-orang bersedia membayar untuk mendapatkan jam yang dia buat. Dan kemudian ada seorang lain yang juga mulai membuat jam dan menjualnya dengan harga yang lebih murah. Alan pun terpaksa menurunkan harga jamnya. Kedua orang ini bersaing memproduksi jam dengan kualitas terbaik dengan harga yang lebih murah. Ini adalah asal muasal dari apa yang kita sebut kompetisi.

Hal yang sama terjadi juga kepada para kontraktor, operator transportasi, akuntan, petani, dan lainnya. Para pembeli selalu memilih transaksi yang menurut mereka paling menguntungkan, mereka memiliki kebebasan untuk memilih. Tidak ada perlindungan buatan semacam lisensi ataupun cukai tarif untuk menghambat orang-orang memulai perdagangan. Standar hidup masyarakat mulai meningkat, dan tak lama kemudian orang-orang pun tidak bisa membayangkan sebuah sistem perdangan tanpa uang.

Setahun kemudian, Fabian pun mulai mendatangi orang-orang yang berhutang kepadanya. Orang-orang tertentu memiliki koin emas lebih dari yang mereka pinjam, tetapi ini berarti ada orang lainnya yang memiliki lebih sedikit dari yang mereka pinjam, sebab jumlah koin yang dibuat pada awalnya memang terbatas jumlahnya. Orang-orang yang memiliki koin lebih membayar kepada Fabian dan juga 5% bunganya, tetapi mereka kemudian meminjam lagi kepadanya untuk melanjutkan sistem perdagangan di tahun mendatang.

Sebagian orang mulai menyadari untuk pertama kalinya seperti apa rasanya hutang. Sebelum mereka bisa meminjam kembali kepada Fabian, kali ini mereka harus menjaminkan aset-aset kepadanya, dan mereka pun melanjutkan perdagangan selama setahun mendatang, mencoba mendapatkan 5 koin lebih untuk setiap 100 koin yang mereka pinjam dari Fabian.

Saat itu, belum ada seorang pun yang menyadari bahwa seluruh masyarakat, sekalipun mengembalikan semua hutang koin mereka, tetap tidak bisa melunasi hutang mereka kepada Fabian, karena kelebihan 5% koin emas yang merupakan kewajiban mereka tidak pernah diedarkan oleh Fabian. Tak seorang pun selain Fabian yang mengetahui bahwa adalah hal yang mustahil bagi masyaratkat ini untuk bisa melunasi hutang mereka bila ditambahkan dengan bunga, uang yang tidak pernah dia edarkan.

Memang benar Fabian sendiri juga membuat koin untuk dirinya sendiri dan koin ini akan beredar di masyarakat, namun tidak mungkin dia sanggup mengkonsumsi 5% dari semua barang di masyarakat.

Di dalam toko emasnya, Fabian memiliki sebuah ruang penyimpanan yang sangat kuat, dan sebagian masyarakat merasa lebih aman kalau menitipkan koin emas mereka kepada Fabian untuk disimpan. Fabian akan menagih sejumlah uang tertentu sebagai jasa penyimpanan untuk orang-orang tersebut. Sebagai bukti atas deposit emas mereka, Fabian memberikan mereka selembar kertas kwitansi.
 
 Orang-orang yang membawa kwitansi dari Fabian ini bisa menggunakan kertas ini untuk membeli barang sama halnya seperti menggunakan koin emas. Dan lama-kelamaan kertas-kertas ini beredar di masyarakat sebagai uang sama seperti koin emas.

Tak lama kemudian, Fabian menemukan bahwa kebanyakan orang tidak akan menukarkan kembali kwitansi deposit mereka dengan koin emasnya.

Dia pun berpikir, “Saya memiliki semua emas di sini dan saya masih juga bekerja sebagai tukang emas. Ini benar-benar tak masuk akal. Ada ribuan orang di luar sana yang akan membayarkan bunga kepada saya atas koin-koin emas yang mereka titipkan kembali kepada saya yang bahkan tidak mereka tukarkan kembali.”

Memang benar, emas-emas mereka bukan milikku, tetapi emas-emas itu ada di dalam gudangku, dan itulah yang penting. Saya tidak perlu membuat koin sama sekali, saya bisa menggunakan koin-koin yang dititipkan kepadaku.

Mulanya Fabian sangat hati-hati, dia hanya meminjamkan sebagian kecil dari emas yang dititipkan orang kepadanya. Lama-kelamaan, karena terbukti tidak ada masalah, dia pun meminjamkan dalam jumlah yang lebih besar.

Suatu hari, seseorang mengajukan sebuah pinjaman yang nilainya sangat besar. Fabian berkata kepadanya “daripada membawa koin emas dalam jumlah sebesar itu, bagaimana kalau saya menulis beberapa lembar kwitansi emas kepadamu sebagai bukti depositmu kepadaku.” Orang itu pun setuju. Dia mendapatkan hutang yang dia inginkan tetapi emasnya tetap di gudang Fabian! Setelah orang itu pergi, Fabian pun tersenyum, dia bisa meminjamkan emas kepada orang sambil mempertahankan emas di gudangnya sendiri.

Baik teman, orang tak dikenal, maupun musuh, membutuhkan uang untuk melanjutkan perdagangan mereka. Selama orang-orang bisa memberikan jaminan, mereka bisa meminjam sebanyak yang mereka butuhkan. Dengan hanya menuliskan kwitansi, Fabian bisa meminjamkan emas-emasnya senilai beberapa kali lipat dari yang sebenarnya dia miliki. Segalanya akan baik-baik saja selama orang-orang tidak menukarkan kwitansi deposit emas mereka kepada Fabian.

Fabian memiliki sebuah buku yang menunjukkan debit dan kredit dari setiap orang. Bisnis simpan-pinjam ini benar-benar sangat menguntungkan baginya.


Status sosial Fabian di masyarakat meningkat secepat kekayaannya. Dia mulai menjadi orang penting, dia harus dihormati. Di dunia finansial, kata-katanya adalah ibarat sabda suci.

Tukang emas dari kota lain mulai penasaran tentang rahasia Fabian dan suatu hari mereka pun mengunjunginya. Fabian memberitahu apa yang dia lakukan, dan menekankan kepada mereka pentingnya kerahasiaan dari sistem ini.

Seandainya skema ini terekspos, bisnis mereka pasti akan ditutup, jadi mereka sepakat untuk menjaga kerahasiaan bisnis ini.

Masing-masing tukang emas ini kembali ke kota mereka dan menjalankan operasi seperti yang diajarkan oleh Fabian.

Orang-orang menerima kwitansi emas sama seperti emas itu sendiri, dan banyak emas yang masyarakat pinjam yang akan dititipkan kembali kepada Fabian. Ketika seorang pedagang ingin membayar kepada pedagang lainnya, mereka bisa menuliskan sebuah instruksi kepada Fabian untuk memindahkan uang dari rekening mereka kepada rekening lainnya, yang akan dilakukan oleh Fabian dengan mudah dalam beberapa menit. Sistem ini menjadi sangat populer, dan kertas instruksi ini pun mulai dikenal dengan sebutan “cek.”

Pada suatu malam, para tukang emas dari berbagai kota ini mengadakan sebuah pertemuan rahasia dan Fabian mengajukan sebuah rencana baru. Besok harinya mereka rapat dengan pemerintah dan Fabian berkata, “Kertas kwitansi kami telah menjadi sangat populer. Tak perlu diragukan, Anda para wakil rakyat juga menggunakan mereka dan manfaatnya jelas-jelas sangat memuaskan. Namun, sebagian kwitansi ini telah dipalsukan oleh orang-orang. Hal ini harus dihentikan!”

Para anggota pemerintah pun mulai khawatir. “Apa yang bisa kami lakukan? Tanya mereka. Jawaban Fabian “Pertama-tama, adalah tugas dari pemerintah untuk mencetak uang kertas dengan desain dan tinta yang unik, dan masing-masing uang kertas ini harus ditandatangani oleh Gubernur. Kami para tukang emas akan dengan senang hati membayar biaya cetak ini, ini juga akan menghemat banyak waktu kami untuk menulis kwitansi.” Para anggota pemerintah berpikir “Ya, memang kewajiban kami untuk melindungi masyarakat dari pemalsuan uang dan nasehat dari Fabian ini kedengarannya memang masuk akal.” Dan mereka pun setuju untuk mencetak uang kertas ini.

“Yang kedua”, kata Fabian, “sebagian orang juga pergi menambang emas dan membuat koin emas mereka sendiri. Saya menyarankan agar dibuat sebuah hukum agar setiap orang yang menemukan emas harus menyerahkannya. Tentu saja, mereka akan mendapat ganti rugi koin yang saya buat dan uang kertas baru.”

Ide ini pun mulai dijalankan. Pemerintah mencetak uang kertas baru dengan pecahan $1, $2, $5, $10, dan lainnya. Biaya cetak yang rendah ini dibayarkan oleh parang tukang emas.

Uang kertas ini jauh lebih gampang untuk dibawa dan dalam waktu singkat diterima oleh masyarakat. Namun, di luar faktor kenyamanan, ternyata uang kertas dan koin emas yang beredar hanyalah 10% dari nilai transaksi masyarakat. Kenyataan perdagangan menunjukkan bahwa 90% nilai transaksi dilakukan dengan cara pindah buku (cek).

Rencana berikut Fabian mulai berjalan. Sampai saat itu, orang-orang membayar Fabian untuk menitipkan koin emas (uang) mereka. Untuk menarik lebih banyak uang ke gudangnya, Fabian akan membayar para depositor 3% bunga atas emas titipan mereka.
 Kebanyakan orang mengira Fabian meminjamkan kembali uang yang dititipkan kepadanya. Karena dia meminjamkan kepada orang lain dengan bunga 5%, dan dia membayar para deposan 3%, maka keuntungan Fabian adalah 2%. Orang-orang pun berpikir jauh lebih baik mendapatkan 3% daripada membayar Fabian untuk menjaga emas (uang) mereka, dan mereka pun tertarik.

Volume tabungan meningkat dengan cepat di gudang Fabian. Dia bisa meminjamkan uang kertas $200, $300, $400, bahkan sampai sampai $900 untuk setiap $100 yang dia dapatkan dari deposan. Dia harus berhati-hati dengan ratio 9:1 ini, sebab menurut pengalamannya, memang ada 1 dari setiap 9 orang yang akan menarik emas mereka. Bila tidak ada cukup uang saat diperlukan, masyarakat akan curiga.

Dengan demikian, untuk $900 dolar pinjaman yang diberikan Fabian, dengan bunga 5% dia akan mendapatkan kembali $45. Ketika pinjaman + bunga ini dilunasi, Fabian akan membatalkan $900 di kolom debit pembukuannya dan sisa $45 ini adalah miliknya. Dia dengan senang hati akan membayar bunga $3 untuk setiap $100 yang dititipkan deposan kepadanya. Artinya, keuntungan riil dari Fabian adalah $42! Bukan $2 yang dibayangkan kebanyakan orang. Para tukang emas di kota-kota lain melakukan hal yang sama. Mereka menciptkaan kredit (pinjaman) tanpa modal (emas) dan menagih bunga atas pinjaman mereka.

Para tukang emas ini tidak lagi membuat koin emas, pemerintahlah yang mencetak uang kertas dan koin dan memberikannya kepada para tukang emas ini untuk didistribusikan. Satu-satunya biaya Fabian adalah ongkos cetak uang yang sangat murah. Di samping itu, dia juga menciptakan kredit tanpa modal dan menagih bunga atas pinjaman barunya ini. Kebanyakan orang mengira suplai uang adalah operasi dari pemerintah. Mereka juga percaya bahwa Fabian meminjamkan uang dari para deposan kepada peminjam baru, tetapi rasanya agak heran mengapa orang lain bisa mendapatkan uang padahal uang para deposan masih tetap tak berkurang. Seandainya semua orang mencoba mengambil uang mereka pada saat yang bersamaan, skema penipuan ini akan terekspos.

Tak masalah bila sebuah pinjaman diajukan dalam bentuk uang kertas atau koin. Fabian tinggal mengatakan kepada pemerintah bahwa penduduk bertambah dan produksi baru memerlukan uang baru, yang akan dia dapatkan dengan biaya cetak yang sangat kecil.

Suatu hari seseorang pergi menemui Fabian. “Bunga yang Anda tagih ini salah,” katanya. “Untuk setiap $100 yang Anda pinjamkan, Anda meminta $105 sebagai kembalinya. $5 extra ini tidak mungkin bisa dibayarkan karena mereka bahkan tidak eksis.

”Petani memproduksi makanan, industri memproduksi barang, tetapi hanya Andalah yang memproduksi uang. Katakanlah hanya ada dua pedagang di negara ini, dan semua orang bekerja untuk salah satunya. Mereka masing-masing meminjam $100. Setahun kemudian, mereka harus mengembalikan masing-masing $105 kepada Anda (total $210). Bila salah satu orang berhasil menjual habis dagangannya dan mendapatkan $105, orang yang tersisa hanya akan memiliki $95, dia masih berhutang $10 kepadamu, dan tidak ada uang yang beredar untuk melunasi $10 ini kecuali dia mengajukan pinjaman baru kepadamu. Sistem ini bermasalah!”

“Untuk setiap $100 yang kamu pinjamkan, kamu seharusnya mengedarkan $100 kepada sang peminjam dan $5 untuk kamu belanjakan, jadi total uang yang beredar memungkinan si peminjam untuk membayar”

Fabian mendengarkan dengan tenang dan menjawab, “Dunia finansial adalah subjek yang rumit, anak muda, butuh waktu bertahun-tahun untuk memahaminya. Biarkan saya saja yang memikirkan masalah ini, dan kamu mengurus urusanmu saja. Kamu harus belajar untuk menjadi lebih efisien, meningkatkan produksimu, memotong ongkos pabrikmu dan menjadi pengusaha yang lebih cerdas. Saya siap membantu untuk urusan itu.”

Orang ini pun pergi meninggalkan Fabian, tetapi hatinya masih juga bimbang. Sepertinya ada yang tidak beres dengan sistem kerja Fabian, dan pertanyaan yang dia ajukan masih belum dijawab.

Orang-orang menghormati Fabian dan kata-katanya. Dia adalah pakar, orang yang tidak setuju dengannya pastilah orang bodoh. Lihatlah betapa negara ini bertambah maju, produksi kita juga terus bertumbuh, kehidupan kita sudah jauh lebih baik.

Untuk menutup bunga dari uang yang mereka pinjam, para pedagang dan pengusaha meninggikan harga dagangan mereka. Karyawan senantiasa memprotes mereka dibayar terlalu rendah dan pemilik perusahaan senantiasa menolak membayar lebih. Petani tidak bisa mendapatkan harga jual yang adil dari produk pertanian mereka. Para Ibu rumah tangga terus merasa tidak puas karena harga barang di pasar dinilai terlalu tinggi.

Pada suatu ketika, orang-orang akhirnya mulai berdemonstrasi, hal yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sebagian orang tidak sanggup melunasi hutang mereka dan menjadi miskin. Teman dan saudara mereka pun tidak sanggup untuk menolong. Mereka lupa kekayaan yang sebenarnya masih berlimpah di sekeliling mereka : tanah yang subur, hutan yang kaya, mineral yang berlimpah dan juga ternak-ternak yang sehat. Yang mereka pikirkan sepanjang hari adalah uang yang rasanya selalu kurang. Mereka tidak pernah bertanya tentang sistem. Mereka percaya pemerintahlah yang sedang menjalankan sistem ini.

Sebagian kecil orang di masyarakat yang kelebihan uang mulai membentuk perusahaan mereka sendiri untuk meminjamkan uang mereka. Mereka menagih bunga 6% atas uang mereka, lebih baik dari 3% yang ditawarkan oleh Fabian. Namun orang-orang ini meminjamkan uang mereka sendiri, tidak seperti Fabian yang bisa meminjamkan uang / menciptakan kredit tanpa modal.

Perusahaan-perusahaan pembiayaan ini tetap membuat khawatir Fabian dan kawan-kawannya, jadi mereka pun membentuk perusahaan pembiayaan mereka sendiri. Dalam kebanyakan kasus, mereka membeli perusahaan-perusahaan pembiayaan saingan mereka tersebut. Pada akhirnya, semua perusahaan pembiayaan dimiliki ataupun dalam kendali mereka.

Situasi ekonomi terus memburuk. Para pegawai mulai yakin bos mereka mendapatkan terlalu banyak keuntungan. Pemilik perusahaan pun menilai pegawainya terlalu malas dan tidak cukup bekerja keras. Semua orang mulai menyalahkan orang lain. Pemerintah bingung bagaimana menyelesaikan masalah ini. Masalah paling mendesak tentunya adalah bagaimana menolong orang yang paling miskin.

Pemerintah pun memulai sebuah program sosial dan memaksa anggota masyarakat untuk membayar sistem ini. Hal ini membuat marah sebagian orang, mereka percaya kepada gagasan lama bahwa membantu orang seharusnya adalah usaha suka rela, bukan paksaan.
 
“Peraturan ini adalah perampokan yang dilegalkan. Mengambil sesuatu dari seseorang, dengan menentang keinginan dari orang yang bersangkutan, apapun tujuannya, tidaklah berbeda dengan mencuri darinya.”

Namun orang-orang tak berdaya karena bila tidak membayar mereka akan dimasukkan ke dalam penjara. Program sosial ini selama beberapa waktu memang membantu keadaan, tetapi tak lama kemudian masalah kemiskinan muncul kembali dan uang yang diperlukan untuk menjalankan sistem ini pun terus bertambah. Ongkos sosial terus meningkat, demikian juga dengan skala pemerintahan.

Kebanyakan wakil rakyat adalah orang-orang yang tulus melakukan pekerjaan mereka dengan benar. Mereka pun tidak menyukai gagasan terus-menerus meminta uang dari masyarakat. Akhirnya, mereka mencari pinjaman dari Fabian dan kawan-kawannya. Mereka bahkan tidak mengetahui bagaimana mereka bisa membayar. Orang tua mulai tidak sanggup membayar biaya sekolah anak-anaknya. Sebagian orang tidak sanggup membayar biaya dokter dan obat-obatan. Operator transportasi pun mulai gulung tikar.

Satu demi satu usaha diambil alih pemerintah. Guru, dokter, dan banyak pekerjaan lainnya mulai menjadi tanggung jawab pemerintah.

Tidak banyak orang yang mendapatkan kepuasan di pekerjaannya. Mereka dibayar gaji yang wajar, tetapi kehilangan jati diri. Mereka menjadi budak dari sebuah sistem.

Tidak banyak ruang untuk inisiatif, sedikit penghargaan atas usaha pribadi, pendapatan mereka relatif tetap dan naik pangkat terjadi hanya kalau atasan mereka pensiun ataupun mati.

Di tengah keputusasaan, pemerintah akhirnya meminta nasehat dari Fabian. Mereka menganggapnya sebagai orang bijak dan selalu memiliki solusi atas permasalahan uang. Fabian mendengar keluhan dari pemerintah dan akhirnya menjawab, “Banyak orang yang tidak bisa menyelesaikan persoalan mereka, mereka membutuhkan orang lain untuk melakukannya. Tentu Anda setuju bahwa semua orang berhak atas kebahagiaan dan berhak atas semua kebutuhan pokok mereka bukan? Satu-satunya cara untuk menyeimbangkan situasi adalah mengambil dari yang kaya dan memberikan kepada yang miskin. Kenalkan sebuah sistem baru yaitu pajak. Semakin banyak kekayaan seseorang, semakin banyak dia harus membayar pajak. Sekolah dan rumah sakit seharusnya gratis bagi mereka yang tidak sanggup membayar…”

Selesai memberikan nasehat, Fabian pun tidak lupa mengingatkan pemerintah, “Hm, jangan lupa Anda masih berhutang kepada saya. Tetapi baiklah, saya akan membantu Anda. Sekarang Anda hanya perlu membayar bunga kepada saya, Anda bisa menunda pembayaran hutang pokok kepada saya.”

Pemerintah mempercayai Fabian, dan mereka pun segera memperkenalkan pajak penghasilan, semakin banyak yang Anda dapatkan, semakin tinggi pajak yang Anda bayarkan. Tak seorang pun anggota masyarakat yang setuju. Namun, sama seperti sebelumnya, mereka harus membayar atau masuk penjara.

Pedagang lagi-lagi harus menaikkan harga jual barangnya. Para pegawai kembali menuntut kenaikan gaji, bisnis-bisnis mulai gulung tikar, ataupun mulai mengganti tenaga manusia dengan mesin. Siklus ini berulang-ulang dan memaksa pemerintah memperkenalkan berbagai skema-skema sosial lainnya.

Pengaturan tarif dan perlindungan mulai diterapkan untuk menyelamatkan industri-industri tertentu dari kebangkrutan dan menyediakan lapangan kerja. Sebagian orang mulai bertanya-tanya apakah tujuan dari kegiatan produksi ekonomi adalah untuk memproduksi barang atau hanya untuk menyediakan lapangan kerja.

Seiring memburuknya keadaan, orang-orang mulai mengendalikan upah pegawai, kontrol biaya, dan segala macam kontrol-kontrol lainnya. Pemerintah pun berupaya mendapatkan lebih banyak uang lewat pajak penjualan, pajak penghasilan, dan pajak-pajak yang lain. Sebagian orang mulai memperhatikan bahwa sejak petani menaman padi sampai beras sampai ke tangan Ibu rumah tangga, ada lebih dari 50 jenis pajak yang sudah dibayarkan.

“Pakar” mulai muncul dan sebagian mulai terpilih untuk bekerja di pemerintahan, namun tahun demi tahun berlalu dan mereka tidak berhasil menyelesaikan permasalahan apapun, kecuali bahwa pajak perlu “disesuaikan” yang mana dalam kebanyakan kasus artinya harus dinaikkan.

Fabian mulai menuntut pembayaran atas bunga pinjamannya, dan semakin lama semakin banyak porsi pajak yang digunakan untuk membayar kepadanya.

Kemudian mulai muncul apa yang disebut dengan partai politik, orang-orang di masyarakat mulai berargumentasi partai mana yang orang-orangnya bisa menyelesaikan permasalahan mereka. Mereka mulai bertengkar mengenai personalitas, idealisme, lambang partai dan berbagai hal lainnya kecuali asal muasal permasalahan mereka.

Di kota tertentu, bunga pinjaman yang harus dibayar sudah melebihi total penerimaan pajak tahunan yang bisa dikumpulkan. Bunga-bunga baru pun mulai diperhitungkan atas bunga yang belum dibayarkan.

Secara perlahan-lahan kekayaan riil dari negara mulai berpindah tangan ke Fabian dan kawan-kawannya dan mereka memiliki kendali yang semakin lama semakin besar atas kehidupan masyarakat. Namun, pengendalian mereka belum selesai. Mereka menyadari bahwa situasi tidak akan benar-benar aman sebelum semua orang berhasil dikendalikan.

Kebanyakan orang yang menentang sistem ini bisa dibuat diam dengan tekanan finansial, ataupun dengan ejekan publik. Untuk melakukan ini Fabian dan kawan-kawan membeli kepemilikan dari semua koran, TV, dan radio dan menyeleksi orang-orang apa yang boleh bekerja di dalamnya. Kebanyakan dari orang-orang ini sebenarnya benar-benar ingin memperbaiki keadaan, tetapi mereka tidak menyadari bagaimana mereka sedang diperalat. Solusi mereka selalu terarah kepada akibat dari masalah, bukan penyebab dari masalah.

Ada bermacam-macam surat kabar, satu untuk sayap kanan, satu untuk sayap kiri, satu untuk kelas pekerja, satu untuk kaum pengusaha, dan seterusnya. Tidak masalah koran yang mana yang Anda percayai, selama Anda tidak memikirkan penyebab awal dari permasalahan.

Rencana Fabian sudah hampir selesai, seluruh negara saat ini berhutang kepadanya. Melalui pendidikan dan media, dia mengendalikan pikiran masyarakat. Orang-orang hanya akan berpikir sejauh yang dia inginkan.

Setelah seseorang memiliki jauh lebih banyak uang dari yang sanggup dia gunakan, apa lagi yang akan menyenangkan hatinya? Bagi mereka yang memiliki mentalitas menguasai, jawabannya adalah kekuasaan, kekuasaan mutlak atas kemanusiaan.

Kebanyakan tukang emas akhirnya mengarah ke sana. Mereka mengetahui rasanya kaya raya, dan perasaan itu tidak lagi cukup untuk memuaskan mereka. Mereka membutuhkan tantangan dan kesenangan baru, dan kekuasaan atas massa adalah permainan berikut.

Mereka percaya mereka adalah kelompok superior atas lainnya. “Adalah hak dan kewajiban kami untuk mengatur. Masyarakat tidak tahu apa yang baik untuk mereka. Mereka perlu dikendalikan dan diatur. Mengatur adalah takdir dari kami.”

Di seluruh penjuru negeri, Fabian dan kawan-kawan memiliki banyak perusahaan pembiayaan. Memang, masing-masing perusahaan dimiliki secara pribadi. Secara teori mereka adalah saingan masing-masing. Namun, kenyataan yang sebenarnya adalah mereka semua saling bekerja sama dengan seksama. Setelah berhasil membujuk pemerintah, mereka mendirikan sebuah institusi yang mereka sebut dengan Bank Sentral. Mereka bahkan tidak perlu mengeluarkan modal untuk mendirikannya, mereka menciptakan kredit dengan menggunakan uang deposit masyarakat.

Institusi ini tampak sebagai badan yang meregulasikan suplai uang dan merupakan bagian dari pemerintah. Tetapi anehnya, tidak ada wakil pemerintah yang diizinkan untuk duduk di badan Direktur di dalamnya.

Pemerintah tidak lagi meminjam secara langsung dari Fabian, pemerintah sekarang meminjam dengan cara menerbitkan surat hutang kepada Bank Sentral. Jaminan dari surat hutang ini adalah penerimaan pajak tahun berikut. Ini adalah bagian dari rencana Fabian, menyingkirkan kecurigaan orang kepadanya dengan membuat kesan seolah-olah suplai uang dikendalikan oleh pemerintah. Kenyataannya, di balik layar, dialah yang memegang kendali.

Secara tidak langsung, dialah yang mengendalikan pemerintah. Tidak penting siapa yang terpilih sebagai wakil rakyat di pemerintahan. Fabianlah yang memegang kendali atas uang, darah dan nyawa dari perdagangan sebuah bangsa.

Pemerintah selalu mendapatkan uang yang mereka inginkan, tetapi bunga selalu dikenakan pada setiap pinjaman. Semakin lama semakin banyak orang yang memerlukan bantuan sosial pemerintah, dan tak lama kemudian pemerintah sadar bahwa mereka kesulitan bahkan hanya untuk membayar bunga saja, apalagi hutang pokok.

Sebagian orang mulai bertanya, “Uang adalah sistem yang diciptakan manusia. Bukankah seharusnya sistem ini bisa diubah agar uang menjadi pelayan, bukan sebaliknya?” Namun semakin lama jumlah orang-orang ini semakin sedikit dan suara mereka hilang di tengah sebuah masyarakat yang tidak lagi peduli.

Pemerintahan berubah, partai yang berkuasa juga bisa berubah, namun kebijakan utama tidak. Tidak masalah siapa yang menjadi pemerintah, rencana besar Fabian semakin lama semakin mendekati kenyataan dari tahun ke tahun. Kebijakan pemerintah tidak lagi ada artinya. Rakyat mulai dikenai pajak mendekati ambang batas mereka, mereka tidak lagi sanggup membayar. Waktunya sudah hampir matang bagi Fabian untuk aksi finalnya.

10% dari suplai uang masih dalam bentuk uang kertas dan koin. Ini harus dimusnahkan sama sekali tetapi tidak boleh menimbulkan kecurigaan publik. Selama masyarakat masih memiliki uang (kertas maupun koin), mereka bebas untuk membeli dan menjual sesuka hati mereka, mereka masih memiliki sedikit kontrol atas kehidupan mereka.

Tidaklah selalu nyaman untuk membawa uang tunai dan koin. Cek juga tidak bisa diterima bila sudah keluar dari sebuah komunitas tertentu. Oleh karena itu, sebuah sistem yang lebih baru perlu dipikirkan. Sekali lagi Fabian memiliki jawabannya. Organisasinya akan menerbitkan sebuah kartu plastik yang memiliki data pemegangnya: nama, foto, dan nomor penduduk.

Saat kartu ini akan digunakan, pedagang akan menyambungkan komputernya untuk mengecek kredit dari kartu tersebut. Seandainya tidak ada masalah, pemegang kartu ini boleh membeli barang seharga limit tertentu.

Awalnya orang akan diizinkan untuk berhutang sedikit. Seandainya uang ini dibayarkan dalam sebulan, maka tidak ada bunga yang perlu dibayarkan. Ini tidak masalah untuk kelas pegawai, tetapi bagaimana ini bisa berlaku juga untuk para pedagang dan pengusaha? Mereka harus mempersiapkan mesin-mesin, kemudian menjalankan proses manufaktur dari barang yang akan mereka produksi, membayar gaji pegawai, menjual barang dagangannya dan membayar kembali hutang mereka. Bila melewati satu bulan, mereka akan dikenai bunga 1.5% per bulan dari nilai hutang mereka. Total 18% setahun.

Pengusaha tidak memiliki jalan lain selain menambahkan 18% ke dalam nilai jual dagangan mereka. Namun kelebihan uang / kredit (18%) ini tidak pernah dipinjamkan kepada siapapun. Di seluruh negeri, para pengusaha disuruh menjalani misi mustahil untuk membayar kembali $118 untuk setiap $100 yang mereka pinjam, tetapi kelebihan $18 ini tidak pernah diedarkan oleh Bank sejak awal.

Namun Fabian dan kawan-kawan menikmati status yang semakin penting di masyarakat. Mereka menjadi orang-orang penting yang terhormat. Pengumuman dan pendapat mereka tentang finansial dan ekonomi bahkan bisa disetarakan dengan sabda suci spiritual.

Di bawah beban bunga yang terus bertambah, banyak perusahaan kecil menengah yang mulai bangkrut. Lisensi-lisensi khusus diperlukan untuk menjalankan operasi-operasi tertentu, jadi perusahaan-perusahaan yang tersisa memiliki semakin banyak hambatan dalam berusaha. Fabian memiliki dan mengendalikan semua perusahaan besar beserta ratusan anak perusahaan mereka. Perusahaan-perusahaan itu tampak seperti saingan satu sama lain, tetapi dialah yang ada di balik semua perusahaan itu. Para kompetitor perlahan-lahan dipaksa gulung tikar. Tukang kayu, konstruksi, listrik dan industri-industri kecil menengah menjalani takdir yang sama, dibeli oleh perusahaan raksasa milik Fabian yang memiliki proteksi dan perlakuan khusus dari pemerintah.

Fabian menginkan kartu plastik ini untuk menggantikan semua uang kertas dan koin. Rencananya adalah saat semua uang kertas dan koin ditarik, hanya bisnis yang menggunakan kartu komputerlah yang akan beroperasi.

Dia mengetahui bahwa suatu ketika orang-orang akan kehilangan kartu mereka dan tidak bisa membeli ataupun menjual sebelum identitas mereka bisa dibuktikan. Dia ingin agar dibuatkan sebuah hukum : sebuah hukum yang mengharuskan semua orang untuk memiliki sebuah nomor identifikasi yang ditato di dalam tangan mereka. Nomor ini cuma akan terlihat dengan sinar tertentu, yang dihubungkan dengan komputer. Setiap komputer akan dihubungkan dengan sebuah komputer pusat yang memungkinan Fabian mengetahui segala transaksi mengenai semua orang…

* * *

Terminologi yang digunakan saat ini untuk melukiskan sistem finansial di atas adalah “Fractional Reserve Banking.” (Cadangan Terbatas Perbankan).

Cerita yang Anda baca di atas, tentu saja, adalah fiksi.

Namun, bila Anda merasa terganggu karena cerita ini sangat mirip dengan kenyataan hidup kita, dan Anda ingin mengetahui siapa Fabian ini sebenarnya dalam kehidupan nyata, titik mulai yang baik untuk Anda pelajari adalah para tukang emas di Inggris pada abad 16 dan 17 Masehi.

Sebagai contoh, Bank of England didirikan pada tahun 1694. Raja William saat itu berada dalam kesulitan finansial yang besar karena perang melawan Perancis. Para tukang emas kemudian “meminjamkan” 1,2 juta pound (nilai yang amat besar pada zaman itu) dengan syarat tertentu.

Bunga yang dikenakan adalah 8%. Jangan lupa bahwa di Magna Carta sebenarnya dikatakan bahwa mengenakan dan mengumpulkan bunga (riba) atas pinjaman akan dikenakan hukuman mati. Raja William dipaksa memberikan izin kartel resmi kepada para tukang emas, sebuah hak untuk menciptakan kredit.

Sebelum itu, operasi untuk menerbitkan lebih banyak kwitansi emas daripada emas yang sebenarnya dimiliki adalah tindakan ilegal. Namun sejak izin kartel itu keluar, tindakan itu menjadi legal.

Di tahun 1694, W.Petterson mendapatkan hak kartel atas Bank of England.

source: http://pohonbodhi.blogspot.com/